Hormon Penekan Nafsu Makan Ternyata Lindungi Hati

Ilustrasi model organ hati manusia.

Ilustrasi model organ hati manusia. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Hormon GDF15, yang selama ini dikenal luas sebagai pengatur nafsu makan dan berat badan serta menjadi target sejumlah obat pelangsing, ternyata memiliki peran lain yang belum banyak diketahui: melindungi hati dari peradangan dan jaringan parut. Temuan itu berasal dari penelitian tim McMaster University, Kanada, yang dipublikasikan di jurnal Cell Metabolism.

Jalur sinyal baru dari otak ke hati

Peneliti menemukan bahwa GDF15 mengaktifkan jalur sinyal saraf-endokrin dari otak menuju hati yang bekerja lewat hormon glukokortikoid, terpisah dari efek GDF15 dalam menekan nafsu makan. Pada tikus yang direkayasa untuk meniru kondisi metabolic dysfunction-associated steatohepatitis (MASH) — penyakit hati berlemak disertai peradangan pada manusia — aktivasi jalur ini terbukti meredam peradangan dan mengurangi pembentukan fibrosis pada jaringan hati, sekalipun berat badan hewan uji tidak berubah.

Baca juga Puluhan Satwa Ternyata Mampu Mencerna Bioplastik Alami

“GDF15 melakukan jauh lebih banyak daripada sekadar mengatur nafsu makan dan berat badan. Kami menemukan bahwa GDF15 mengaktifkan jalur sinyal alami dari otak ke hati yang membantu menekan peradangan hati dan mengurangi fibrosis,” kata Gregory Steinberg, Profesor di Departemen Kedokteran McMaster University, dalam keterangan tertulis McMaster University, Jumat (21/08/2026).

Baca juga Kalimatnya Utuh, Maknanya Bergeser: Riset Bahasa dan Skizofrenia

Dongdong Wang, Asisten Profesor di McMaster University sekaligus penulis utama studi, menjelaskan efek itu terlihat langsung pada tingkat sel lewat teknologi pemetaan spasial. “GDF15 membantu memprogram ulang sel-sel hati sehingga peradangan dan jaringan parut berkurang, seperti terlihat lewat teknologi pemetaan spasial tingkat lanjut,” ujarnya.

Baca juga Uji Lab Daun Suruhan pada Sel Kanker Payudara MCF-7

Masih pada model tikus

Studi berjudul GDF15 suppresses liver inflammation independently of weight loss through neuroendocrine glucocorticoid signaling itu dipublikasikan di jurnal Cell Metabolism pada 10 Agustus 2026 dan telah melalui tinjauan sejawat. Penelitian masih dilakukan pada model tikus, sehingga penerapannya pada manusia masih perlu diuji lebih lanjut sebelum bisa dipastikan berlaku sama.

Jika efek ini terbukti konsisten pada manusia, temuan tersebut membuka kemungkinan terapi berbasis GDF15 untuk penyakit hati berlemak yang tidak semata bergantung pada penurunan berat badan pasien — pendekatan yang selama ini menjadi andalan utama penanganan MASH.

Baca Juga

Audiensi FK-KMK UGM dengan jajaran RSUD Tais membahas kerja sama layanan kesehatan.
UGM dan RSUD Tais Jajaki Kerja Sama Dokter Spesialis
Distribusi bantuan kesehatan bagi warga terdampak kabut asap karhutla.
Karhutla, Kemenkes Kerahkan 314 Nakes ke 7 Provinsi
Ilustrasi galaksi Sombrero (M104) hasil citra Teleskop Antariksa Hubble.
IC 1101, Galaksi Terbesar yang Pernah Diukur
Ilustrasi lansia berolahraga
Olahraga dan Kerja Fisik Beda Kaitan dengan Demensia
Astronaut NASA dan ESA memperbaiki antena ISS
Adenot, Perempuan Prancis Pertama Berjalan di Antariksa
Suasana jalan di Addis Ababa ibu kota Ethiopia
Jelaga Addis Ababa 9 Kali Lebih Pekat dari Kota AS