Cekricek.id — Seekor cacing laut sepanjang dua sentimeter yang hidup terkubur di bawah padang lamun Laut Mediterania menjadi titik awal temuan yang membalik anggapan lama tentang siapa saja yang sanggup mengurai bioplastik. Dikutip dari Max Planck Institute for Marine Microbiology di Bremen, Jerman, tim peneliti menemukan bahwa kemampuan mencerna bioplastik alami bukan monopoli mikroba, melainkan juga dimiliki puluhan jenis hewan.
Bahan yang dimaksud adalah polihidroksialkanoat atau PHA, polimer simpanan yang diproduksi banyak bakteri sebagai cadangan karbon dan energi. Manusia meniru bahan itu untuk membuat plastik yang dapat terurai secara hayati. Selama ini ilmuwan meyakini hanya bakteri dan jamur yang punya perkakas enzim untuk memecahnya kembali.
Baca juga: Terumbu Karang Groote Archipelago Dipetakan Ilmuwan, Ungkap Dampak Pemutihan Massal
Cacing Tanpa Mulut dan Tanpa Saluran Pencernaan
Penelitian bermula dari Olavius algarvensis, cacing laut yang dikumpulkan penyelam dari sedimen dasar laut di sekitar Pulau Elba, Italia. Hewan itu sudah begitu bergantung pada bakteri simbion di bawah kulitnya sehingga kehilangan saluran pencernaan sekaligus saluran pembuangannya. Warna putihnya berasal dari lapisan padat bakteri simbion yang sarat PHA.
“Salah satu bakteri simbion cacing itu menyimpan karbon dalam jumlah sangat besar sebagai PHA. Kami bertanya-tanya apakah cacing tersebut mengembangkan cara untuk menjangkau cadangan energi yang kaya itu,” kata Nicole Dubilier, Direktur Max Planck Institute for Marine Microbiology.
Pertanyaan itu berujung pada penemuan enzim pengurai PHA di tubuh sang cacing. Tim kemudian memeriksa apakah perkakas serupa ada pada hewan lain, lalu mengujinya pada spons, cacing tanah, dan ekorpegas — tiga kelompok hewan yang kerabatnya berjauhan.
Baca juga: Karang Bercahaya Kuning di Gunung Bawah Laut Kosta Rika Dapat Famili Taksonomi Baru
Enzim Serupa di 66 Spesies dari Sembilan Filum
Penelusuran gen menunjukkan enzim pengurai PHA hadir pada 66 spesies hewan yang tersebar di sembilan filum, ditambah 19 spesies protista. Sebaran seluas itu mengarahkan peneliti pada dugaan bahwa kemampuan tersebut sudah muncul pada nenek moyang awal hewan bersel banyak, bukan berkembang sendiri-sendiri belakangan.
“Inilah kejutan yang sesungguhnya. Apa yang bermula sebagai penemuan pada satu cacing laut ternyata merupakan kemampuan yang tersebar luas, dimiliki hewan-hewan dari cabang pohon kehidupan yang sangat berbeda,” kata penulis pertama studi tersebut, Caroline Zeidler dari Max Planck Institute for Marine Microbiology.
Baca juga: 3 Kapal Ditangkap Terkait Pelanggaran Transhipment Ikan di Perairan Kepulauan Aru
Penulis penanggung jawab lainnya, Maggie Sogin, yang kini menjabat asisten profesor di Department of Molecular Cell Biology, University of California, Merced, menilai temuan itu memperluas daftar makhluk yang ikut mengelola simpanan karbon mikroba. “Studi kami mengubah pemahaman tentang siapa yang bisa memanfaatkan cadangan karbon mikroba ini. Hewan agaknya sudah memakan bioplastik asli buatan alam selama ratusan juta tahun, dan kita baru menemukannya sekarang,” ujarnya.
Hasil penelitian itu terbit dengan judul Animal degradation of microbial storage polyhydroxyalkanoates pada jurnal Nature Ecology & Evolution tahun 2026, tayang daring Kamis, 13 Agustus 2026 dengan penomoran halaman 1–15 dan DOI 10.1038/s41559-026-03153-8. Penulisnya, antara lain, Caroline Zeidler, Harald R. Gruber-Vodicka, Dolma Michellod, Juliane Wippler, Kristina Weinert, Manuel Liebeke, dan Nicole Dubilier dari Max Planck Institute for Marine Microbiology, Manuel Kleiner, serta Maggie Sogin dari University of California, Merced.
Temuan tersebut menyentuh perhitungan tentang nasib PHA di alam. Karena bioplastik jenis ini dipasarkan sebagai bahan yang dapat terurai secara hayati, jalur penguraiannya di lingkungan selama ini dihitung hanya melalui mikroba. Hewan yang ikut memakan dan memecah PHA berarti menambah satu jalur lagi dalam peredaran karbon di dasar laut dan tanah, sekaligus mengubah cara peneliti menaksir seberapa cepat bahan itu hilang dari lingkungan.
















