Tujuh Pola Bahasa yang Membentuk Berita Bola Indonesia

Ilustrasi pertandingan sepak bola malam hari yang disaksikan penonton di stadion.

Ilustrasi pertandingan sepak bola malam hari yang disaksikan penonton di stadion. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — “Tangan Courtois menyelamatkan Real Madrid dari kekalahan.” “Arteta menahan imbang Manchester United di Old Trafford.” “Bayern Munich berduka.” Tiga kalimat itu terdengar biasa saja bagi siapa pun yang rutin membaca berita bola. Padahal, kalau dibaca harfiah, ketiganya keliru. Yang menepis bola bukan tangan yang terpisah dari tubuh Thibaut Courtois. Yang bertahan mati-matian di Old Trafford bukan Mikel Arteta, melainkan sebelas pemain Arsenal. Dan sebuah klub, sebagai badan hukum, tidak punya perasaan untuk berduka.

Kekeliruan yang tidak pernah dianggap keliru itu punya nama dalam ilmu bahasa: metonimia. Dan ternyata, ia bukan sekadar gaya penulisan. Sebuah penelitian menemukan bahwa pola-pola semacam itu muncul begitu rapat dalam pemberitaan sepak bola berbahasa Indonesia sehingga membentuk cara pembaca membayangkan siapa yang sebenarnya bertindak di lapangan.

Temuan itu dipaparkan Nehemia Anugrah Parasian dan Mulyadi, keduanya dari Universitas Sumatera Utara, lewat artikel The Use of Conceptual Metonymy in Indonesian Football News: A Cognitive Semantic Approach, yang terbit dalam Andalas International Journal of Socio-Humanities Vol. 7 No. 2 pada 2025.

Pilihan objeknya masuk akal. Dalam pengantar penelitian, kedua penulis menempatkan sepak bola bukan semata sebagai olahraga, melainkan sebagai gejala bahasa dan budaya: beritanya beredar luas, membentuk identitas bersama, dan ikut menyusun percakapan sosial sehari-hari. Ungkapan seperti “Garuda memastikan kemenangan” dipakai penulis sebagai contoh bagaimana pilihan kata dalam berita bola membawa muatan emosi kolektif yang jauh melampaui laporan skor.

Enam Puluh Kalimat dari Tujuh Puluh Tujuh Berita

Kedua peneliti mengumpulkan berita dari empat situs berita sepak bola berbahasa Indonesia yang paling banyak dibaca, dalam tiga jendela waktu: Januari sampai Maret 2024, Juli sampai Oktober 2024, dan Agustus sampai Oktober 2025. Dari 77 artikel yang mereka saring, terkumpul 60 ungkapan metonimis yang menjadi bahan analisis utama.

Kriterianya cukup ketat. Teks harus berbahasa Indonesia dan masuk kategori pelaporan atau analisis sepak bola; ungkapannya harus benar-benar menggantikan satu entitas dengan entitas lain; dan ungkapan itu harus muncul dalam konteks jurnalistik, entah di judul, badan berita, atau komentar. Setiap kalimat lalu diberi kode berdasarkan tujuh jenis metonimia yang dirumuskan George Lakoff dan Mark Johnson. Untuk menjaga ketelitian, kedua peneliti melakukan pemeriksaan silang antarsumber berita dan meminta dua ahli linguistik bidang semantik kognitif dan analisis wacana menilai ulang pengodean mereka.

Nama Pelatih Paling Sering Menggantikan Nama Tim

Dari 60 ungkapan itu, jenis yang paling sering muncul adalah controller for controlled — yang mengendalikan dipakai untuk menyebut yang dikendalikan. Ada 16 kasus, atau 26,67 persen dari seluruh data. Ini adalah pola yang membuat kalimat “Guardiola meraih treble bersama Manchester City” terasa wajar, meski Pep Guardiola tidak pernah menyentuh bola di lapangan sepanjang musim itu.

Baca juga Tata Bahasa Sanskerta yang Berubah Jadi Kalender Ritual

Urutan kedua ditempati institution for people responsible — nama lembaga dipakai untuk menyebut orang-orang yang bertanggung jawab di dalamnya — dengan 12 kasus atau 20 persen. Menyusul object for user dengan 9 kasus atau 15 persen, lalu producer for product 7 kasus (11,67 persen), part for whole dan place for event masing-masing 6 kasus (10 persen), serta place for institution 4 kasus (6,66 persen).

Menurut kedua peneliti, dominasi pola pertama bukan kebetulan. Sepak bola adalah kegiatan kolektif yang disusun di bawah kepemimpinan, dan kebiasaan menaruh nama pelatih sebagai wakil seluruh tim mencerminkan cara berpikir yang menonjolkan otoritas. “Ungkapan controller for controlled dalam pemberitaan olahraga bukan sekadar penghematan bahasa, melainkan juga cerminan kognitif dari kognisi sosial Indonesia, tempat tindakan kerap dikonsepkan sebagai perpanjangan dari otoritas,” tulis Nehemia dan Mulyadi dalam bagian pembahasan.

Klub yang Berduka, Stadion yang Memperpanjang Kontrak

Pola kedua bekerja dengan cara yang berbeda: ia memberi sifat manusia kepada lembaga. Kalimat “Bayern Munich berduka” menempatkan klub sebagai pihak yang merasakan kehilangan, padahal yang berduka adalah manajemen, pelatih, pemain, dan staf medis di dalamnya. Contoh lain yang dicatat penelitian ini adalah kalimat tentang San Siro yang memperpanjang kontrak seorang pemain — sebuah stadion, tentu saja, tidak menandatangani kontrak siapa pun. Yang dimaksud adalah manajemen klub yang bermarkas di sana.

Kedua peneliti membaca kebiasaan ini sebagai cerminan kecenderungan yang lebih luas dalam bahasa media Indonesia, yaitu menyajikan organisasi dan kelompok sebagai satu kesatuan yang seolah mampu berperasaan dan mengambil keputusan. Perlu dicatat, ini adalah tafsir penulis atas 60 ungkapan yang mereka kumpulkan, bukan hasil pengukuran terhadap seluruh bahasa media Indonesia.

Dari Kaki Pencetak Gol sampai Nama Stadion

Jenis part for whole muncul paling jelas di judul berita dan komentar pertandingan. Penelitian ini mencatat kalimat yang menyebut kaki Nermin Haljeta membawa PSM Makassar unggul di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar, pada laga Liga 1 musim 2024/2025 melawan Persija Jakarta. Yang mencetak gol tentu Haljeta sebagai pemain utuh, bukan kakinya; tetapi menyebut bagian tubuh membuat aksinya terasa lebih dekat dan lebih hidup.

Baca juga Kitab Berbahasa Sunda yang Dicetak di Kairo, 1921-1939

Jenis producer for product paling sering muncul saat berita menyinggung perlengkapan dan sponsor. Kalimat yang menyebut Molten sebagai bola resmi putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, misalnya, tidak sedang membicarakan perusahaannya, melainkan bola buatannya.

Adapun object for user bekerja lewat julukan dan nama klub. Kalimat tentang Sevilla yang mengincar Mykhailo Mudryk setelah melihat keberhasilan Betis meminjam Antony memakai nama klub untuk mewakili orang-orang yang benar-benar mengambil keputusan di dalamnya: manajemen, pelatih, atau direktur olahraga.

Dua jenis terakhir bertumpu pada tempat. Place for institution muncul ketika nama stadion menggantikan nama klub, seperti kalimat tentang Camp Nou yang terancam kehilangan sepuluh talenta akademi secara cuma-cuma pada musim panas — yang terancam kehilangan tentu Barcelona sebagai klub, bukan bangunan stadionnya. Sementara place for event muncul saat nama tempat menggantikan nama peristiwa, seperti penyebutan Metropolitano untuk final Liga Champions 2027, atau Qatar untuk Piala Dunia U-17 edisi 2025 dan 2029.

Yang Belum Dijawab Penelitian Ini

Nehemia dan Mulyadi menuliskan sendiri batas kerja mereka. Analisis hanya menyentuh data teks dan sama sekali tidak menyertakan unsur visual maupun audio yang biasanya menyertai berita sepak bola — foto, video, dan komentar langsung. Padahal, pada praktiknya, pembaca menyerap berita bola sebagai paket lengkap, bukan sebagai teks telanjang.

Keduanya juga menyarankan penelitian lanjutan yang membandingkan bahasa jurnalisme olahraga Indonesia dengan bahasa lain, untuk menguji apakah dominasi jenis metonimia tertentu memang mencerminkan kecenderungan berpikir yang universal atau justru khas satu budaya. Tanpa perbandingan itu, kesimpulan tentang “kognisi sosial Indonesia” masih berpijak pada satu kumpulan data berbahasa Indonesia saja.

Baca juga Arsenal Gilas Coventry 3-0 di Laga Pembuka Liga Primer

Satu batas lain perlu dicatat pembaca: 60 ungkapan dari 77 artikel adalah korpus yang kecil untuk menyimpulkan kebiasaan seluruh media olahraga di Indonesia. Angka 26,67 persen itu berlaku untuk data yang mereka kumpulkan, bukan untuk semua berita bola yang terbit di Indonesia.

Kedua peneliti juga tidak menguji bagaimana pembaca sesungguhnya menafsirkan kalimat-kalimat itu. Seluruh simpulan tentang efek metonimia pada persepsi ditarik dari analisis teks, bukan dari wawancara atau eksperimen terhadap pembaca berita bola.

Pesan Penelitian untuk Ruang Redaksi

Bagian penutup penelitian ini justru berbicara langsung kepada wartawan. Kedua peneliti menilai pemahaman atas pola-pola tersebut bukan urusan akademis semata, karena pilihan kata menentukan siapa yang tampak bertanggung jawab atas sebuah hasil. “Kesadaran akan pola metonimis dapat mendorong penggunaan bahasa yang lebih reflektif dan bertanggung jawab dalam penulisan berita olahraga,” tulis Nehemia dan Mulyadi.

Contohnya mudah dibayangkan. Menulis “Arteta menahan imbang Manchester United” memusatkan pujian pada pelatih; menulis “Arsenal menahan imbang Manchester United” membagi pujian itu ke seluruh tim. Keduanya sama-sama benar secara jurnalistik, tetapi keduanya meninggalkan kesan yang berbeda di kepala pembaca. Dalam liputan yang berjalan sepanjang musim, kesan-kesan kecil semacam itu menumpuk menjadi penilaian publik tentang siapa yang pantas dipuji dan siapa yang pantas disalahkan.

Penelitian ini tidak menyarankan wartawan berhenti memakai metonimia. Sebaliknya, keduanya menyebut mekanisme ini sebagai salah satu cara paling efisien untuk memadatkan kenyataan yang rumit menjadi kalimat yang mudah dipahami tanpa kehilangan makna. Yang mereka minta hanyalah kesadaran — bahwa setiap kali nama pelatih dipakai menggantikan nama tim, ada keputusan penulisan yang sedang diambil, bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan.

Baca Juga

Pelatih kepala Inter Milan, Cristian Chivu, dalam konferensi pers jelang laga pembuka Serie A 2026/2027.
Chivu: Inter Mulai dari Nol meski Jadi Tim yang Diburu
Para pemain Bayern Munich menjalani latihan terakhir menjelang Franz Beckenbauer Supercup di Dortmund.
Supercup Jerman: Bayern Bidik Trofi di Kandang Dortmund
Gelandang Curtis Jones dalam potret resmi yang dirilis Liverpool saat menyampaikan pesan perpisahannya.
Curtis Jones Pamit dari Liverpool Setelah 16 Tahun
Denzel Dumfries memegang jersey bernomor 24 bersama Presiden Real Madrid Florentino Perez di Ciudad Real Madrid.
Dumfries: Bermain di Real Madrid Impian Semua Orang
Bukayo Saka melepaskan tembakan pada laga Arsenal melawan Coventry City di Emirates Stadium, London.
Arsenal Gilas Coventry 3-0 di Laga Pembuka Liga Primer
Ilustrasi persamaan matematika rumit di papan tulis.
Matematikawan Buat Terobosan Konjektur Komlós