Doenia Baroe 1930 dan Suara Perempuan Peranakan

Ilustrasi tumpukan koran lama yang menguning termakan usia.

Ilustrasi tumpukan koran lama yang menguning termakan usia. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Sepanjang paruh akhir masa kolonial di Hindia Belanda, citra perempuan nyaris selalu bertaut dengan lembaga pergundikan, terutama dengan sosok nyai yang tinggal bersama laki-laki Eropa di luar pernikahan resmi. Kedudukan mereka rapuh karena hidup dan penghidupannya bergantung sepenuhnya pada tuan Eropa yang sewaktu-waktu dapat meninggalkan atau memindahtangankan mereka, sementara perempuan Tionghoa peranakan diikat pula oleh adat yang menyiapkan mereka semata sebagai istri dan ibu, terlatih mengurus rumah tangga namun hampir tidak diberi ruang menuntut hak bagi diri sendiri. Istilah nyai sendiri, menurut catatan Van Marle yang dikutip Hellwig, semula hanya berarti perempuan muda atau adik perempuan sebelum bergeser menjadi sebutan bagi gundik. Keadaan itu lama dianggap wajar, sampai pendidikan formal pelan-pelan menggeser cara perempuan memandang kedudukannya.

Bagaimana pergeseran itu terekam dalam bacaan sehari-hari menjadi soal yang ditelusuri Risa Junita Sari dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia bersama Wannofri Samry dari Universitas Andalas dalam artikel Gender Equality in the Early Twentieth Century: A Historical Analysis of Peranakan Chinese Literary Works in Doenia Baroe (1930), yang dimuat jurnal Andalas International Journal of Socio-Humanities Volume 7 Nomor 2 pada 2025. Keduanya memakai metode sejarah sebagaimana dirumuskan Gottschalk, yakni heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, lalu memadukannya dengan teori gender untuk membaca ulang karya sastra yang dimuat koran Doenia Baroe sepanjang tahun terbitnya. Naskahnya diterima redaksi jurnal pada Oktober 2025 dan diterbitkan pada 12 Desember tahun yang sama.

Hindia Belanda Sebelum 1920-an: Nyai dan Ajaran Konfusius

Sastra Peranakan Tionghoa dari masa Hindia Belanda sebenarnya lama tidak banyak dimanfaatkan sebagai sumber untuk menelaah persoalan gender, padahal Wellek dan Warren menempatkan puisi, cerita pendek, dan cerita bersambung sebagai jendela ke cara pengarang menanggapi lingkungan sosialnya, sementara Shipley menunjukkan realitas sejarah dapat dilacak melalui hubungan antartokoh dan konteks budaya, politik, pemerintahan, maupun keagamaan yang melingkupinya. Salmon mencatat produksi sastra Tionghoa di Hindia mulai berkembang sekitar 1870 dan mencakup rentang yang lebar, dari cerita fantasi dan kisah silat sampai kisah realis tentang persoalan sosial sezaman, dengan struktur cerita yang mengikuti cara pandang serta orientasi budaya masing-masing pengarangnya. Bahan sebanyak itu lama menganggur untuk pertanyaan mengenai perempuan.

Padahal yang mengungkung perempuan bukan sekadar kebiasaan, melainkan bangunan nilai yang tersusun rapi. Perempuan Tionghoa peranakan tumbuh dalam kerangka moral Konfusius yang menuntut tiga kepatuhan sekaligus, yaitu tunduk kepada suami, setia kepada penguasa, dan berbakti kepada orang tua, sedangkan sistem patrilineal menempatkan ayah dan anak lelaki di pusat keluarga, dengan anak sulung disiapkan menggantikan peran ayah dan warisan yang lazimnya hanya jatuh ke tangan anak lelaki, sebagaimana dicatat Mulyana. Susunan semacam itu menjadi penghalang serius bagi keikutsertaan perempuan dalam kehidupan publik, baik secara resmi maupun tidak. Hellwig, yang dikutip kedua peneliti, melacak akarnya lebih jauh lagi. “Kompeni membeli perempuan untuk dinikahkan sebagai istri, dengan syarat perempuan yang diizinkan menikah memeluk agama Kristen yang sama dengan laki-laki Eropa itu,” tulis Hellwig.

Baru pada awal abad kedua puluh celah pertama terbuka, dan celah itu datang dari ruang kelas. Anak-anak Tionghoa peranakan memiliki dua jalur pendidikan formal, yakni sekolah Tiong Hoa Hwee Koan yang menekankan nilai Konfusius dan Hollandsch-Chineesche School yang bercorak Barat, dan menurut Suryadinata kedua jalur itu melahirkan orientasi yang berbeda: lulusan THHK cenderung menatap Tiongkok, lulusan sekolah Barat condong ke Belanda, sebagian memilih bersikap netral dengan memungut gagasan Barat sebagai penanda kemajuan, sebagian lain justru merapat ke gerakan antikolonial. Sebagian orang tua memandang sekolah Belanda sebagai jalan menuju pekerjaan yang lebih baik di lingkungan pemerintahan kolonial. Dari lapisan terdidik inilah muncul perempuan yang membuka usaha rumahan, menulis di pers, dan menduduki kursi redaksi.

Doenia Baroe, Koran Padang yang Terbit Sepanjang 1930

Salah satu yang menonjol adalah Tjoa Hin Hoeij, lahir di Bogor pada 1907, yang menjadi pemimpin redaksi majalah Istri sekaligus korektor di koran Keng Po. Pada masa itu keikutsertaan perempuan dalam kewartawanan masih dipandang tabu, sehingga banyak penulis perempuan bersembunyi di balik nama samaran, kerap nama bunga seperti Angrek, Dahlia, atau Rose, seperti dicatat Chan. Ketegangan antara mempertahankan adat Tionghoa dan mengejar gaya hidup modern menempatkan mereka pada posisi serba tanggung, dan karena ruang tampil langsung terbatas, banyak di antaranya menyalurkan cita-cita kesetaraan lewat tulisan, terutama dalam bentuk karya sastra. Sebagian menerjemahkan karya dari bahasa Tionghoa atau sumber Barat, sebagian lain menulis artikel, esai, cerita pendek, dan puisi untuk koran serta majalah.

Baca juga Menelusuri Salingsingan, Rumah Ibadah Kuno di Kaki Merapi

Wadah yang membuat suara itu terhimpun di satu tempat muncul pada 1930 di Padang, berupa koran Doenia Baroe. Isinya beragam, dari iklan dan berita sampai syair, pantun, cerita pendek, serta cerita bersambung, dan sejak nomor pertamanya koran itu memasang haluan yang tidak lazim bagi penerbitan komunitas. “Haloean dan toedjoeannja ‘DOENIA BAROE’ ada bersifat LIBERAAL, dengan halamannja terboeka goena segala golongan, partij dan bangsa; teroetama boeat goenanja bangsa Asia rata-rata,” demikian bunyi pernyataan pada nomor perdana. Menurut Sari dan Samry, kalimat itu menandakan koran tersebut tidak dimaksudkan hanya untuk komunitas Tionghoa, melainkan mengincar pembaca lintas golongan, politik, dan bangsa. Keragaman isi itulah yang membuat Doenia Baroe menyimpan keterangan berharga tentang kehidupan perempuan pada awal abad kedua puluh.

Doenia Baroe terbit bulanan sejak awal Januari hingga 30 November 1930 dan menghasilkan sekitar sebelas nomor, dicetak Boek- & Drukkerij “Djiet Sien” di bawah pemimpin redaksi Lie Soeij Ho, dibantu redaktur Charles Chen dan L. Nan Chiang. Karya yang dimuat ditulis dalam bahasa Melayu oleh pengarang Tionghoa peranakan dari berbagai daerah, mulai Tangerang, Batavia, Cirebon, Surabaya, sampai Semarang — pemetaan yang sudah dirintis Risa Junita Sari bersama Wannofri Samry dan Yudhi Andoni dalam artikel mereka tentang sastra Peranakan Tionghoa di Doenia Baroe yang terbit di jurnal yang sama pada 2020. Kajian 2025 ini melanjutkan pemetaan tersebut ke pertanyaan gender atas sekitar enam belas karya sastra yang dimuat sepanjang periode terbit, yang sebagian besar menempatkan perempuan sebagai tokoh utamanya.

Baca juga Saat Sejarah Kota Cuma Daftar Bangsawan dan Gosip Kampung

Dua nama menonjol di antara penyumbang naskahnya. Thio Tjin Boen, yang hidup antara 1885 dan 1940, adalah wartawan, penerjemah, sekaligus novelis produktif yang pernah menjadi redaktur di Perniagaan, Taman Sari, dan Mustika, serta menulis Oey Se, Njai Sumirah, dan Sie Tjaij Kim; sedangkan Ong Kim Tiat, yang hidup antara 1893 dan 1964, dikenal lewat cerita silat seperti Kang Ouw Soe Hoe atawa Djago Silat jang Mengoembara. Menurut Lan, pengarang peranakan pada masa itu bergerak dalam tiga lingkaran kebudayaan sekaligus, yakni Tionghoa sebagai identitas leluhur, pribumi sebagai lingkungan tempat mereka lahir dan besar, serta Barat sebagai penanda kemajuan. Selain cerita bersambung, koran itu memuat cerita pendek, saduran, dan syair, di antaranya syair Djangan Poetoes Harapan karya Lie Ken Ho.

Pauline, Hian-nio, dan Annie di Halaman Doenia Baroe

Cerita bersambung Achirnja Toch Beroentoeng karya S. L. Foe Sen Lee, yang muncul pada nomor perdana, berpusat pada Pauline, perempuan muda terdidik yang berpandangan maju tentang hubungan laki-laki dan perempuan serta yakin perempuan harus punya keberanian dan kemandirian berpikir alih-alih berada di bawah dominasi laki-laki. Pauline digambarkan gemar berdansa, menghadiri pesta, dan bergaul bebas dengan laki-laki maupun perempuan, cerminan kebebasan yang dinikmati perempuan Eropa pada masanya. Namun ceritanya berakhir getir, sebab Pauline akhirnya menyesal karena gagal mendamaikan modernitas Barat dengan latar budayanya, dan nasib itu disusun pengarang sebagai peringatan moral. Ceritanya dengan demikian memuji emansipasi lewat pendidikan sekaligus mengingatkan bahaya menelan modernitas Barat tanpa saringan.

Pola serupa terbaca pada Kaloe Tida Djodo atawa Menjesal Kamoedian Tida Goenanja karya Ong Kim Tiat dan Jo Boen Ek. Hian-nio bersekolah di Hollandsch-Chineesche School, tetapi sekolahnya dihentikan begitu ia dianggap cukup umur untuk menikah, sedangkan Kian Ho, tokoh laki-laki sebayanya, tetap diizinkan melanjutkan pelajaran ke Batavia, sementara Hian-nio dipulangkan untuk membantu usaha keluarga. Meski begitu, cerita itu masih memberinya satu ruang, yakni hak memilih pasangan dan menolak lamaran yang tidak dikehendakinya. Chandra mencatat kisah bernada peringatan semacam ini banyak ditulis pengarang laki-laki dan dialamatkan kepada perempuan muda lulusan sekolah Eropa. Nasib Hian-nio memperlihatkan jurang kesempatan pendidikan yang masih lebar antara anak perempuan dan anak laki-laki dalam satu keluarga yang sama.

Baca juga Ketika Haji Merah Menyerang Muhammadiyah dari Mimbar dan Koran

Tidak semua tokoh perempuannya berakhir kalah. Dalam Siapa Lebih Tjerdik? karya Thio Tjin Boen, Annie tampil cerdas dan berhasil mengecoh seorang detektif laki-laki, gambaran yang menampik anggapan perempuan lemah dan pasif, sedangkan terjemahan Kiang Thaij Kong Kian Tjoe Ge toeroen dari Koen Loen San menghadirkan Ma-sie sebagai perempuan mandiri secara ekonomi yang mengurus rumah tangga sekaligus mengarahkan suaminya. Dalam Pengaroehnja Tjinta, Souw Eng Nio justru didukung orang tuanya mendahulukan pendidikan ketimbang pernikahan, berbeda dari Oh… Nasib yang menutup kisah tokohnya dengan tragedi di bawah kuasa keluarga. Syair Varia merekam pergaulan muda-mudi yang berubah karena pengaruh Eropa, dengan perempuan yang tidak lagi terkurung di ruang domestik melainkan ikut serta dalam kehidupan sosial bersama laki-laki.

Yang Ditinggalkan Sari dan Samry untuk Riset Sesudahnya

Dari keseluruhan bacaan itu, Sari dan Samry menemukan dua sikap yang berjalan berdampingan di halaman Doenia Baroe: dukungan terhadap kemajuan perempuan lewat pendidikan, pekerjaan, dan partisipasi publik, sekaligus dorongan agar perempuan tetap menjadi jangkar moral yang tidak melepaskan nilai budaya leluhur. Ketegangan itu, menurut keduanya, tidak berhenti pada 1930. “Seruan perempuan untuk berubah kerap ditafsirkan sebagai tantangan terhadap nilai budaya Tionghoa yang telah lama berakar, sehingga menjelang akhir 1930-an ungkapan kesetaraan gender dalam sastra cenderung disampaikan dengan hati-hati alih-alih sebagai advokasi terbuka,” tulis Risa Junita Sari dan Wannofri Samry. Kesetaraan yang dimaksudkan di sini, mengikuti Achmad sebagaimana dikutip Sumiarni, bukan peran yang seragam melainkan keseimbangan yang bertumpu pada keselarasan, kecocokan, dan hubungan timbal balik.

Kesadaran itu tidak berhenti di halaman koran. Perkumpulan perempuan seperti Chung-Hwa Fu-Nu Hwee, Hoedjin Hwee, dan Chie Mey Hwee tumbuh pada periode yang sama dan menjadi ruang berkumpul untuk menjahit, memperagakan masakan, bermain musik, berdrama, bertamasya, sampai mengerjakan kegiatan amal. Kedua peneliti membaca gejala tersebut dengan teori gender, yang memahami gender sebagai konstruksi budaya pembeda peran, mentalitas, dan sifat, bukan perbedaan biologis. Sadli mengingatkan bahwa sifat, sikap, dan perilaku yang dipelajari itu secara teori memang dapat berubah, tetapi sulit diubah dalam praktik karena tertanam dalam kesadaran perorangan sekaligus norma bersama masyarakat. Lorber menambahkan gender lebih tepat dipahami sebagai status sosial di dalam jaringan hubungan antara laki-laki dan perempuan, bukan sekadar perbedaan tubuh.

Di sinilah pembacaan perlu ditahan agar tidak melompat terlalu jauh. Sari dan Samry menyatakan sendiri bahwa analisis mereka terbatas pada koran Doenia Baroe, sehingga temuannya berlaku sebagai potret satu penerbitan pada satu tahun, bukan gambaran menyeluruh perempuan Tionghoa peranakan di seluruh Hindia Belanda; keduanya menyarankan riset lanjutan merentangkan cakupan ke penerbitan sastra dan jurnalistik sezaman lainnya. Karya sastra pun merekam bayangan pengarang tentang perempuan, bukan catatan langsung kehidupan pembacanya. Setelah pemetaan isi Doenia Baroe pada 2020 dan pembacaan gendernya pada 2025, mata rantai berikutnya menunggu di terbitan-terbitan yang belum dibuka. Sumbangan kajian ini pada sejarah gender, tulis keduanya, terletak pada penunjukan teks sastra sebagai medium perundingan relasi gender di lingkungan kolonial yang multikultural.

Baca Juga

Ilustrasi pesisir berbatu Jepang yang berkabut, latar tempat kisah persekusi umat Kristen pada abad ke-17.
Konflik Iman Kakure Kirishitan di Film Silence
Ilustrasi pahatan aksara kuno pada permukaan batu.
Dua Prasasti yang Memundurkan Umur Bahasa Jawa Kuno
Ilustrasi tumpukan majalah lawas di meja kayu.
Manglé, Majalah Sunda yang Bertahan Enam Puluh Delapan Tahun
Soekarno berpidato di Istana Merdeka pada 1949
Meriam ke Istana dan Harga yang Dibayar Kemal Idris
Ilustrasi halaman naskah tulisan tangan kuno
Naskah 1814: Bharatayuddha Diterjemahkan Kata demi Kata
Ilustrasi tumpukan kaset pita analog lawas di samping kacapi kayu berdawai.
Euis Komariah dan Zaman Kaset yang Sudah Lewat