- Uji enam sumur di Kota Kirkuk menemukan sulfat 125 sampai 1.300 miligram per liter, dengan puncaknya pada sumur S1.
- Sumur S1 dan S2 melampaui batas padatan terlarut total dan sulfat, sehingga dinyatakan tidak layak untuk air minum.
- Rasio serapan natrium 0,449 sampai 1,865 dan persentase natrium 13 sampai 34 persen menempatkan air itu sangat baik sampai baik untuk irigasi.
- Sumur S4 tercatat 1.603 dan S5 1.762 mikrosiemens per sentimeter, melampaui batas 1.500 namun tetap dimasukkan ke kelompok yang memenuhi standar.
- Naskah ini tidak memuat bagian keterbatasan tersendiri, dan cakupannya terbatas pada enam sumur dalam satu musim saja.
Daftar Isi
Cekricek.id — 1.300 miligram sulfat per liter. Angka itu terukur pada satu sumur di Kota Kirkuk, sementara batas Organisasi Kesehatan Dunia untuk air minum 250 miligram per liter.
Kualitas air tanah Kirkuk diuji Zakiya Shihab Hamad Al-Obeidi dari Kirkuk University. Enam sumur disampel pada musim semi, lalu dinilai untuk keperluan minum dan irigasi.
Penulisnya bernaung di Department of Soil and Water Sciences, College of Agriculture, Kirkuk University, Irak. Naskahnya terbit di jurnal Andalasian International Journal of Agricultural and Natural Sciences.
Judulnya Assessing the Suitability of Groundwater for Drinking and Irrigation Using Hydrochemical Indicators in Kirkuk, Northern Iraq. Artikel itu mengisi halaman 24 sampai 30.
Terbitannya volume 7, nomor 1, tahun 2026. Naskah diterima 7 Februari 2026, disetujui 20 Maret 2026, dan tersedia dalam jaringan dua hari sesudahnya.
Enam Sumur, Satu Musim
Lokasi kajiannya Kota Kirkuk di utara Irak. Titiknya berada pada bujur 44 derajat 23 menit 24 detik timur dan lintang 35 derajat 28 menit 12 detik utara.
Jaraknya 240 kilometer dari Baghdad. Penduduk kota itu disebut sekitar dua juta jiwa, dengan ladang minyak besar serta kegiatan pertanian dan industri yang luas.
Posisi enam sumur ditentukan memakai penerima sinyal satelit. Sebelum pengambilan contoh, tiap sumur dipompa sepuluh menit agar air yang terambil mewakili kondisi akuifer.
Contoh air ditampung dalam botol polietilena bersih. Botol itu dibilas berkali-kali dengan air sampel supaya tidak terkontaminasi, lalu diangkut ke laboratorium Direktorat Air dan Sanitasi Kirkuk.
Parameter yang diukur mencakup kation kalsium, magnesium, natrium, dan kalium. Anion yang diukur klorida, sulfat, dan bikarbonat.
Di luar itu, daya hantar listrik, padatan terlarut total, kesadahan, derajat keasaman, dan suhu ikut dicatat. Hasilnya dibandingkan dengan standar Irak 2021 dan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia.
Untuk irigasi, dua indeks dihitung. Keduanya adalah rasio serapan natrium dan persentase natrium, yang dipakai menilai risiko sodisitas tanah.
Baca juga Tim ITS Bangun Akses Air Bersih di Ransiki, Papua Barat
Dari Tawar sampai Payau
Hasilnya memperlihatkan keragaman antar sumur. Daya hantar listrik berkisar 865 sampai 2.650 mikrosiemens per sentimeter, sedangkan padatan terlarut total 546 sampai 1.780 miligram per liter.
Rentang itu membentang dari air tawar sampai payau. Sumur pertama dan kedua, yang diberi kode S1 dan S2, punya kadar garam paling tinggi.
Sumur S3 sampai S6 disebut kurang berkembang secara kimia. Kandungan zat terlarutnya lebih rendah, dan waktu tinggal airnya di dalam akuifer diperkirakan lebih pendek.
Penulisnya menyebut tiga sebab keragaman itu. Interaksi air dengan batuan yang berkepanjangan, pelarutan mineral evaporit terutama gipsum, dan pemekatan akibat penguapan di iklim semiarid.
Derajat keasaman tercatat pada rentang 7,2 sampai 7,9. Angka itu menandakan kondisi netral sampai sedikit basa, dan seluruhnya masih di dalam batas air minum.
Rentang yang sempit itu ditafsirkan penulisnya sebagai sistem air tanah yang terpenyangga baik. Penyangganya adalah kesetimbangan karbonat dari pelarutan kalsit dan dolomit.
Kalsium, Magnesium, Natrium, Kalium
Kalsium dan magnesium menjadi kation dominan di semua sampel. Kalsium berkisar 84 sampai 400 miligram per liter, magnesium 30,5 sampai 143 miligram per liter.
Kadar setinggi itu dikaitkan dengan pelarutan kalsit dan dolomit. Di sejumlah titik, pelarutan gipsum disebut ikut menambah kadar kalsium.
Kedua ion itu menyumbang kesadahan total. Efeknya kerak pada pipa dan turunnya efisiensi pemakaian air rumah tangga maupun industri, kata penulisnya.
Natrium berkisar 22,6 sampai 170 miligram per liter, dengan nilai tertinggi pada S1 dan S2. Penjelasannya pertukaran kation, pengaruh penguapan, dan kemungkinan pencampuran dengan air tanah yang lebih dalam.
Kalium justru rendah, hanya 0 sampai 6 miligram per liter. Penyebabnya mobilitas kalium yang terbatas dan penjerapannya yang kuat pada mineral lempung.
Baca juga Bakteri Kunci Uranium Beracun di Air Tambang Jadi Senyawa Stabil
Sulfat, Bikarbonat, Klorida
Sulfat menunjukkan pengayaan paling mencolok, yaitu 125 sampai 1.300 miligram per liter. Puncaknya ada pada S1, dan penulisnya menunjuk pelarutan gipsum sebagai proses dominan.
Formasi evaporit di kawasan Kirkuk disebut sebagai sumbernya. Mineral seperti gipsum dan anhidrit menyumbang sulfat lewat interaksi air dengan batuan.
Iklim semiarid memperkuat pemekatan sulfat lewat penguapan. Perbedaan antar sumur juga dikaitkan dengan jalur aliran dan lama air tertahan di dalam akuifer.
Kegiatan pertanian dan industri disebut dapat menaikkan sulfat secara setempat. Kadar sulfat yang tinggi menaikkan salinitas dan membatasi pemanfaatan airnya.
Bikarbonat terukur 180 sampai 1.220 miligram per liter. Kadar itu dibaca sebagai tanda pelapukan karbonat yang aktif serta interaksi karbon dioksida di dalam tanah dan akuifer.
Karbon dioksida itu berasal dari respirasi tanah dan penguraian bahan organik. Gas tersebut membentuk asam karbonat lemah yang melarutkan kalsit dan dolomit.
Bikarbonat berperan menstabilkan derajat keasaman. Namun kadar berlebih disebut dapat menimbulkan kerak pada sistem penyediaan air dan memengaruhi kebasaan tanah pada irigasi.
Klorida paling rendah di antara anion utama, yaitu 44 sampai 165 miligram per liter. Kadar itu dibaca sebagai pengaruh salinitas yang kecil dari penguapan dan pencampuran terbatas.
Secara keseluruhan, fasies hidrokimianya didominasi tipe kalsium sulfat dan kalsium bikarbonat. Keduanya mencerminkan pengaruh pelarutan mineral karbonat dan evaporit.
Lolos untuk Irigasi, Gagal untuk Diminum
Untuk air minum, S1 dan S2 dinyatakan tidak layak. Keduanya melampaui batas padatan terlarut total dan sulfat pada standar yang dipakai.
Batas yang dirujuk untuk padatan terlarut total adalah 1.000 miligram per liter. Batas sulfat 250 miligram per liter menurut Organisasi Kesehatan Dunia dan 400 menurut standar Irak.
Sumur S3 sampai S6 disebut umumnya memenuhi standar. Penulisnya menambahkan nilai padatan terlarutnya sudah mendekati batas atas yang diizinkan.
Karena itu air dari empat sumur tersebut dinilai masih layak diminum. Penulisnya tetap menyarankan pengolahan ringan berupa desalinasi atau pengenceran demi keamanan jangka panjang.
Untuk irigasi, gambarannya lebih longgar. Rasio serapan natrium berkisar 0,449 sampai 1,865, jauh di bawah ambang 10 yang digolongkan sangat baik.
Persentase natrium berkisar 13 sampai 34 persen. Rentang itu menempatkan air tanah Kirkuk pada golongan sangat baik sampai baik untuk pengairan.
Risiko natrium terhadap struktur tanah karena itu dinilai rendah. Salinitas justru menjadi faktor pembatas utama bagi pemakaian pertanian.
Sumur S1 dan S2 dengan daya hantar listrik dan padatan terlarut tinggi dapat mengganggu tanaman peka garam. Empat sumur lain berada pada tingkat salinitas yang aman.
Angka yang Tidak Cocok dengan Simpulan
Beberapa angka di tabel tidak sejalan dengan kalimat simpulannya. Batas daya hantar listrik untuk air minum ditulis 1.500 mikrosiemens per sentimeter.
Namun sumur S4 tercatat 1.603 dan S5 tercatat 1.762 mikrosiemens per sentimeter. Keduanya melampaui batas itu, tetapi tetap dimasukkan ke kelompok yang memenuhi standar.
Hal serupa terjadi pada padatan terlarut total. Sumur S4 tercatat 1.020 miligram per liter, sedikit di atas batas 1.000 yang dipakai naskah ini.
Batas kalsium untuk air minum ditulis 200 miligram per liter. Sumur S1 tercatat 400 dan S2 tercatat 360 miligram per liter.
Meski begitu, naskah ini menyatakan kadar kation dan anion utama tetap berada dalam batas yang dapat diterima untuk semua sampel. Pernyataan itu tidak cocok dengan isi tabelnya.
Ada pula selisih pada derajat keasaman. Teks menyebut rentangnya 7,2 sampai 7,9, sedangkan tabel mencantumkan 7,1 untuk sumur S6.
Tabel penilaian irigasi juga memuat kelas yang tidak lengkap. Golongan sangat baik untuk persentase natrium dicantumkan tanpa angka batas, sementara golongan berikutnya ditulis 20 sampai 40 persen.
Baca juga Lereng Tanah Residual Lebih Rentan pada Hujan Lama
Naskah ini tidak memuat bagian keterbatasan tersendiri. Cakupannya sendiri terbatas pada enam sumur yang disampel dalam satu musim saja, tanpa pengulangan antarmusim.
Penulisnya menutup dengan dua anjuran. Pemantauan air tanah harus berjalan terus-menerus, dan pengelolaannya perlu dijalankan secara berkelanjutan.
Alasannya, mutu air tanah Kirkuk dipengaruhi proses hidrogeokimia alami sekaligus kegiatan manusia. Salinitas dan sulfat disebut sebagai dua faktor pembatas utamanya.















