Cekricek.id — Peta titik panas sudah lama tersedia. Yang jarang ada adalah gambaran harian tentang apa yang terjadi pada udara di sekitar titik-titik itu.
Pusat Penelitian Lingkungan Hidup IPB University mengembangkan sistem pemantauan kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan yang diperbarui hampir seketika. Hasilnya disajikan lewat papan pantau WebGIS yang mencakup seluruh wilayah Indonesia.
Diperbarui Setiap Hari
Kepala Laboratorium Instrumentasi dan Monitoring Lingkungan Hidup PPLH IPB University, Tubagus Ahmad Mufawwaz, menjelaskan cara kerja sistem itu.
Baca juga Prabowo: 15.000 Hektare Karhutla Riau Sudah Ditangani
“Dengan sistem near-real time ini, informasi terbaru dapat diperbarui dan dipublikasikan setiap hari lewat dashboard WebGIS,” katanya.
Data lama tidak dibuang. “Data historis juga tetap tersimpan sehingga kita dapat mengikuti perkembangan kejadian dari waktu ke waktu,” ujarnya.
Baca juga Karhutla, Kemenkes Kerahkan 314 Nakes ke 7 Provinsi
Menurut Tubagus, gabungan dua lapis data itulah yang membuat sistem ini berbeda. “Dengan mengintegrasikan data titik panas dan kondisi atmosfer, kita dapat menganalisis keterkaitan spasial dan temporal antara kejadian karhutla dengan perubahan kualitas udara,” katanya.
Tidak Cukup Tahu Lokasi Api
Kepala PPLH IPB University, Dr Yudi Setiawan, menyebut pemantauan lokasi kebakaran saja tidak lagi memadai.
“Kejadian karhutla yang terus berulang menunjukkan perlunya sistem pemantauan yang tidak hanya memberikan informasi mengenai lokasi kebakaran, tetapi juga mampu memberikan gambaran mengenai dampak lingkungan,” katanya.
Baca juga Kepala BNPB Tinjau Pos Logistik Gempa Flores di Maumere
Ia menekankan pentingnya membaca pola, bukan hanya kondisi hari itu. “Karena kejadian karhutla terus berulang, kita tidak cukup hanya mengetahui kondisi hari ini. Kita juga perlu memahami pola kejadiannya,” ujarnya.
Menuju Sistem Pendukung Keputusan
Yudi Setiawan menyebut arah pengembangan berikutnya sudah terbayang.
“Dengan demikian, teknologi ini dapat berkembang menjadi sistem pendukung pengambilan keputusan untuk mitigasi dampak karhutla,” katanya.














