Kaki Datar Tak Bedakan Kelincahan Pemain Sepak Bola Daerah

A A

Ilustrasi pemain sepak bola berompi kuning berlari dalam sesi latihan di lapangan. [Foto: Pexels]

  • Penelitian FIKK Universitas Negeri Jakarta membandingkan enam pemain berlengkung normal dan enam pemain dengan kaki datar.
  • Kelompok kaki datar berlari bolak-balik rata-rata 11,02 detik, kelompok normal 10,91 detik, dengan nilai p 0,141.
  • Tinggi lompat tegak kedua kelompok terpaut 0,2 sentimeter dan juga dinyatakan tidak signifikan.
  • Angka lompatan di tabel, paragraf hasil, dan pembahasan paper tersusun dalam tiga versi berbeda.
  • Para penulis mengakui ukuran sampel kecil yang tidak mewakili populasi atlet yang lebih luas.
Daftar Isi
  1. Lengkung Telapak Kaki (Foot Arch) dan Tiga Golongannya
  2. Lari Bolak-balik Delapan Meter (Shuttle Run)
  3. Lompat Tegak (Vertical Jump) dengan Alat Vertec
  4. Kaki Datar dan Arti Tidak Signifikan (Not Significant)
  5. Uji Beda (T-test dan ANOVA) yang Disebut Berlainan
  6. Sampel Kecil (Small Sample Size) dan yang Tidak Diukur

Cekricek.id — Pemain sepak bola dengan kaki datar dalam penelitian tim Universitas Negeri Jakarta menempuh lari bolak-balik rata-rata 0,11 detik lebih lambat daripada rekan berlengkung kaki normal, selisih yang dinyatakan tidak signifikan. Tinggi lompatan kedua kelompok hanya terpaut 0,2 sentimeter, juga tidak signifikan. Batas yang dipakai para peneliti adalah nilai p di bawah 0,05. Nilai p kelincahan tercatat 0,141 dan nilai p lompatan 0,121.

Penelitian itu dikerjakan tujuh peneliti Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Jakarta. Dadan Resmana, Raisa Ganeswara, Abdul Gani, dan Bambang Kridasuwarso berasal dari Program Studi Kepelatihan Kecabangan Olahraga. Taufik Rihatno dan Samsudin dari Program Studi Pendidikan Jasmani, sedangkan Shela Ginanjar dari Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi.

Laporan mereka, Analysis of Agility Performance and Lower Limb Explosive Power Based on Foot Arch Variations in Regional-Level Football Players, terbit di Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan (JSKK) Volume 10 Nomor 1, Juni 2025, halaman 116–126. Naskahnya diterima 18 Mei 2025, diperbaiki 3 Juni 2025, dan dinyatakan layak terbit 5 Juni 2025.

Lengkung Telapak Kaki (Foot Arch) dan Tiga Golongannya

Istilah kunci paper ini adalah foot arch, lengkung telapak kaki. Para penulis menyebut lengkung itu berperan dalam meredam beban, menyebarkan tekanan, dan menjaga kestabilan saat bergerak. Mereka membaginya ke dalam tiga golongan utama dengan ciri biomekanis yang berbeda-beda. Ketiganya adalah lengkung normal, kaki datar atau flat foot, dan lengkung tinggi atau high arch.

Maksudnya, penelitian ini hanya memakai dua dari tiga golongan tersebut. Pemain berlengkung tinggi tidak diikutkan. Yang dibandingkan adalah enam pemain berlengkung normal dan enam pemain dengan kaki datar, sehingga totalnya 12 pemain sepak bola tingkat daerah. Menurut abstrak, usia mereka 19 sampai 22 tahun dan semuanya pernah bertanding di kompetisi tingkat daerah.

Alasan penelitian ini dikerjakan juga dipaparkan. Para penulis menulis bahwa data tentang ciri lengkung kaki dan hubungannya dengan performa fisik atlet sepak bola tingkat daerah masih langka. Pada jenjang pembinaan itu, menurut mereka, program latihan kerap menekankan aspek teknik dan taktik. Sementara itu, faktor seperti struktur anatomi kaki sering terabaikan dalam proses identifikasi dan pengembangan atlet.

Baca juga FIFA 11+ dan Cedera ACL yang Datang Tanpa Ditabrak

Mereka juga mencatat belum adanya pemetaan bentuk kaki pemain sepak bola lokal untuk menyusun program latihan yang sesuai dengan kebutuhan biomekanis tiap pemain. Namun, bagian metode tidak menguraikan bagaimana lengkung kaki para pemain ditentukan. Alat ukur tinggi badan, berat badan, kelincahan, dan lompatan dijelaskan. Alat atau cara menggolongkan pemain ke kelompok normal dan kelompok kaki datar tidak disebut.

Lari Bolak-balik Delapan Meter (Shuttle Run)

Kelincahan, atau agility, diartikan paper sebagai kemampuan seseorang untuk bergerak cepat dan berganti arah secara efisien. Alat ukurnya adalah uji lari bolak-balik 8 × 5 meter, yang dalam paper disebut shuttle run. Lintasannya sepanjang delapan meter dan harus dilalui lima kali berturut-turut, bolak-balik, secepat mungkin.

Waktunya dicatat dua pasang gerbang pengukur waktu berfotosel merek Smart Speed buatan Fusion Equipment, Australia. Gerbang pertama dipasang di titik nol meter sebagai garis start atau titik A, gerbang kedua di titik delapan meter sebagai titik B. Area ujinya disebut datar dan terkendali, dan pemain dari kedua kelompok menjalani prosedur yang sama.

Hasilnya, kelompok berlengkung normal mencatat waktu rata-rata 10,91 detik dengan simpangan baku 0,87. Kelompok kaki datar mencatat 11,02 detik dengan simpangan baku 1,09. Bedanya begini: selisih rata-rata kedua kelompok, 0,11 detik, lebih kecil daripada simpangan baku di masing-masing kelompok, yang besarnya mendekati satu detik.

Baca juga Di Kabaddi, Otot Punggung Mengalahkan Kelincahan

Para penulis sendiri mengakui kelompok dengan kaki datar memang mencatat waktu sedikit lebih lambat. Mereka menegaskan, nilai p 0,141 menunjukkan perbedaan itu tidak signifikan secara statistik. Dengan kata lain, dalam kerangka uji yang mereka tetapkan, catatan 11,02 detik dan 10,91 detik tidak cukup untuk disebut berbeda.

Lompat Tegak (Vertical Jump) dengan Alat Vertec

Daya ledak otot tungkai, dalam paper disebut lower limb explosive power, diukur lewat lompat tegak atau vertical jump. Menurut para penulis, lompat tegak mencerminkan kekuatan dan tenaga otot tungkai. Alat yang dipakai bernama Vertec, dan pemain diminta menyentuh bilah tertinggi yang dapat mereka jangkau saat melompat.

Pengukurannya berlangsung dua tahap. Pertama, dicatat tinggi jangkauan berdiri, yaitu tinggi raihan saat satu lengan diluruskan penuh ke atas. Kedua, pemain dari kedua kelompok melompat setinggi mungkin. Tinggi lompatan dihitung dengan mengurangkan tinggi jangkauan berdiri dari tinggi maksimal yang tercapai ketika melompat.

Pada bagian ini paper memuat angka yang tidak seragam. Tabel 2 di halaman 120 mencatat 59,1 cm dengan simpangan baku 2,8 untuk kelompok normal. Untuk kelompok kaki datar, angkanya 58,9 cm dengan simpangan baku 3,1. Paragraf hasil di halaman yang sama justru menulis kebalikannya, 58,9 cm untuk kelompok normal dan 59,1 cm untuk kelompok kaki datar.

Baca juga Rahasia Lompatan Pemadam Kebakaran Ada di Belakang Paha

Pembahasan di halaman 121 mengikuti arah tabel, yakni kelompok kaki datar sedikit lebih rendah, tetapi memasangkan 58,9 cm dengan simpangan baku 2,8 dan 59,1 cm dengan simpangan baku 3,1. Jadi ada tiga susunan angka untuk satu pengukuran. Nilai p di ketiga tempat sama, 0,121, dan paper tidak menjelaskan susunan mana yang benar.

Kaki Datar dan Arti Tidak Signifikan (Not Significant)

Kolom terakhir kedua tabel paper berisi frasa yang sama di setiap baris, Not Significant, yang berarti tidak signifikan. Paper menetapkan batas kemaknaan pada p kurang dari 0,05 dan mengolah datanya dengan perangkat lunak SPSS versi 22. Semua nilai p berada di atas batas itu, baik untuk kelincahan dan lompatan maupun untuk ukuran tubuh.

Ukuran tubuh yang dimaksud ada empat. Usia rata-rata kelompok normal 20,09 tahun dan kelompok kaki datar 20,32 tahun (p = 0,321). Berat badannya 62,86 kg lawan 63,12 kg (p = 0,421), tinggi badannya 172,76 cm lawan 172,04 cm (p = 0,352), dan indeks massa tubuhnya 20,8 lawan 20,7 (p = 0,376).

Bola sepak dan kerucut latihan berwarna tergeletak di lapangan rumput hijau
Ilustrasi bola sepak dan kerucut latihan berwarna tergeletak di lapangan rumput hijau. [Foto: Pexels]

Tinggi badan diukur dengan stadiometer, sedangkan berat badan dan indeks massa tubuh diperiksa dengan alat penganalisis lemak tubuh Omron, yang di paper ditulis Carada Scan Body Fat. Satuan indeks massa tubuh ditulis kg/m² di paragraf hasil, tetapi kg/cm² di Tabel 1 halaman 119.

Mudah membaca tidak signifikan sebagai bukti bahwa bentuk kaki sama sekali tidak berperan. Para penulis merumuskannya dengan batas tertentu. “Namun, penelitian kami tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik antara kelompok dengan tipe lengkung kaki normal dan datar, yang menandakan bahwa meskipun kaki datar secara anatomis dianggap kurang ideal, kondisi ini tidak secara langsung memengaruhi kemampuan tubuh untuk berganti arah dengan cepat dan efisien ataupun memengaruhi performa lompatan,” tulis Dadan Resmana dan rekan-rekannya.

Kesimpulan paper melangkah sedikit lebih jauh. Di sana bentuk kaki disebut bukan penentu utama variabel performa fisik yang diperiksa, mengingat pengaruh dominan faktor lain seperti fungsi saraf dan otot, teknik, serta kekuatan otot tungkai. Ketiga faktor itu tidak diukur dalam penelitian ini, sehingga keterangan tersebut tidak berasal dari data Tabel 1 maupun Tabel 2.

Kesimpulan yang sama menyebut hasil penelitian dapat menjadi rujukan awal bagi pelatih dan praktisi olahraga. Penekanannya, bentuk lengkung kaki tidak semestinya dipakai sebagai satu-satunya indikator performa fisik. Rumusan itu berbeda dengan pernyataan bahwa bentuk lengkung kaki tidak perlu diperhatikan, dan paper memang tidak menyatakan yang kedua.

Uji Beda (T-test dan ANOVA) yang Disebut Berlainan

Abstrak paper menyebut hasil penelitian diperoleh dengan uji t atau t-test. Bagian analisis data di halaman 119 menyebut metode lain, yakni analisis varians satu arah atau one-way ANOVA, untuk mencari perbedaan performa fisik antara pemain berlengkung normal dan pemain dengan kaki datar. Paper tidak menjelaskan uji mana yang menghasilkan nilai p di Tabel 1 dan Tabel 2.

Rancangan penelitiannya disebut observasional. Semua peserta menerima penjelasan lisan dan tertulis tentang tujuan, manfaat, dan prosedur penelitian, lalu mengisi formulir persetujuan bila bersedia ikut. Protokolnya disetujui Komite Etik Penelitian Universitas Negeri Jakarta dengan nomor 612/UN39.14/PT.01.05/V/2025, dan pendanaannya berasal dari FIKK Universitas Negeri Jakarta.

Beberapa bagian naskah lain juga menyisakan pertanyaan. Kesimpulan menyebut sebaran tipe lengkung kaki di kalangan atlet daerah memperlihatkan keragaman anatomi, padahal paper tidak melaporkan sebaran itu. Yang disajikan hanya dua kelompok berisi masing-masing enam pemain. Paper juga tidak menyebut daerah maupun nama kompetisi asal para pemain.

Kata kunci paper mencantumkan cedera, dan bagian pembahasan menyarankan pemantauan kondisi biomekanis pemain sebagai upaya pencegahan cedera. Namun, penelitian ini tidak mengukur cedera atau riwayat cedera. Pembahasan juga menyebut penelitian ini termasuk yang pertama meneliti hubungan ciri lengkung kaki dengan performa fisik tertentu pada pemain sepak bola tingkat daerah.

Sampel Kecil (Small Sample Size) dan yang Tidak Diukur

Batas terbesar penelitian ini dinyatakan para penulis sendiri. “Keterbatasan penelitian ini meliputi ukuran sampel yang kecil, yang tidak mewakili populasi atlet yang lebih luas,” tulis tim FIKK Universitas Negeri Jakarta itu. Dua belas pemain, enam orang per kelompok, menjadi seluruh dasar angka yang tercantum di Tabel 1 dan Tabel 2.

Mereka juga menyebut sejumlah faktor pengganggu yang tidak dikendalikan secara ketat, yaitu pengalaman latihan, teknik gerak, kekuatan otot inti, dan riwayat cedera. Selain itu, penelitian ini tidak menilai ciri dinamis fungsi kaki selama aktivitas tertentu. Akibatnya, menurut para penulis, penelitian ini kurang mampu menjelaskan hubungan biomekanis yang lebih rumit antara struktur lengkung kaki dan performa olahraga.

Untuk itu mereka merekomendasikan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel lebih besar serta pendekatan biomekanis yang lebih menyeluruh, termasuk pendekatan longitudinal. Kepada pelatih, paper menyarankan fokus pada pengembangan kualitas fisik dan teknik melalui pendekatan latihan yang tepat, sambil tetap memantau kondisi biomekanis tiap pemain.

Label tidak signifikan untuk kaki datar dalam paper ini hanya mencakup dua ukuran, waktu lari bolak-balik 8 × 5 meter dan tinggi lompat tegak, pada 12 pemain dari dua golongan lengkung. Lengkung kaki tinggi, keseimbangan, dan cedera berada di luar yang diukur.

Bagikan

Baca Juga

Carrick Sebut Situasi Manchester United Bukan Bencana
Mbah Hosen Berpulang, Madura United Kehilangan Suporter Tertua
Semen Padang Jamu PSIS di Bekasi, Widodo Bedah Kelemahan
Persijap Ganti Pelatih, Juan Cortes Jadi Direktur Teknik
Najeeb Yakubu Tinggalkan Garudayaksa, Kembali ke Persijap
Olahraga Rekreasi Hanya Menurunkan Kecemasan Remaja LPKA