Kebun Sayur Vertikal dan Permainan Sehat di Gampong Cot Suruy

A A

Ilustrasi tanaman sayur tumbuh pada media tanam vertikal di pekarangan. [Foto: Pexels]

  • Gamifikasi hybrid dipakai agar warga melihat sendiri perkembangan perilaku sehatnya
  • Warga dilatih membuat pupuk organik cair dan menanam sayur secara vertikultur
  • Hasil kebun dikaitkan langsung dengan edukasi pola konsumsi pangan keluarga

Cekricek.id — Di Gampong Cot Suruy, menjaga kesehatan tidak berhenti pada ceramah penyuluhan. Warga diajak bermain, lalu diajak menanam.

Pendekatan gabungan itu dipaparkan menurut keterangan tertulis Universitas Syiah Kuala, Kamis (01/10/2026), untuk program yang berjalan di Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, sejak Juni hingga Oktober 2026.

Program dikerjakan dosen Fakultas Keperawatan bersama Fakultas Pertanian USK melalui Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Teknologi Tepat Guna. Ketuanya Ns. Novi Afrianti, M.Kep., dengan anggota Fita Ridhana, S.Pt., M.Si., Ns. Jufrizal, M.Kep., dan Ns. Dewiyuliana, M.Kep. Tiga mahasiswa ikut lewat Kuliah Kerja Nyata.

Edukasi yang Tidak Berhenti Satu Arah

Untuk mengelola penyakit kronik, tim memperkenalkan gamifikasi hybrid. Warga tidak sekadar diberi tahu, tetapi melihat sendiri perkembangan perilaku sehat mereka.

“Kami ingin masyarakat tidak hanya mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatan, tetapi juga terdorong untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, pendekatan gamifikasi digunakan agar proses edukasi menjadi lebih interaktif dan masyarakat dapat melihat perkembangan perilaku sehat yang mereka lakukan,” ujar Novi.

Sisi kedua program menyentuh isi piring. Tim melatih warga membuat Pupuk Organik Cair dan menerapkan kebun sayur vertikultur bagi rumah tangga yang pekarangannya sempit. Hasil kebunnya kemudian dikaitkan dengan edukasi pola konsumsi pangan keluarga.

Bagi Novi, keduanya tidak terpisah. Lingkungan, kebiasaan, dan pilihan makanan sehari-hari sama menentukannya dengan obat.

“Harapannya, masyarakat dapat melihat bahwa kesehatan tidak hanya berkaitan dengan pengobatan ketika sakit. Lingkungan, aktivitas sehari-hari, pilihan pangan dan kebiasaan hidup juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan,” katanya.

Kampus yang sama sebelumnya meluncurkan aplikasi pencatat tekanan darah dan gula darah bagi warga Aceh Besar, juga lewat jalur pengabdian berbasis teknologi tepat guna.

Kaitan antara pangan dan kesehatan keluarga itu sejalan dengan paparan pakar gizi tentang rendahnya konsumsi protein hewani di Indonesia.

Model mengajak warga ikut mengerjakan, bukan sekadar menerima, juga menjadi inti pendekatan Living Lab berpola lima langkah.

Bagikan

Baca Juga

Warga Yapsi Kini Bisa Cek Stok Obat Sebelum Berjalan ke Pustu
Mata Ikan Tuna yang Biasanya Dibuang Kini Jadi Camilan Manis
Aplikasi A-TIME Catat Tekanan Darah dan Gula Warga Aceh Besar
Aspal Buton Kini Terpisah 95 Persen Lewat Proses Hidrotermal
Konsumsi Susu Indonesia 5 Liter, Belanda 100 Liter per Tahun
Sinyal EEG Autisme Dikenali AI dengan Akurasi 99,58 Persen