Terowongan pembangkit listrik tenaga air di Nepal cukup lebar untuk dilewati truk. Sejak Rabu pekan lalu, ratusan pekerja diperkirakan terjebak di dalamnya bersama lumpur dan puing yang dibawa banjir bandang.
Jumlah korban tewas akibat bencana di perbatasan Nepal dan Tibet menembus 900 orang. Nepal mencatat 903 orang tewas dan 4.247 orang hilang, termasuk 592 warga negara asing. Di wilayah Tibet, 16 orang tewas dan 546 orang dinyatakan hilang.
Dua Belas Proyek, Lima Ratus Pekerja
Sekitar 900 pekerja belum diketahui nasibnya di dua belas proyek pembangkit listrik tenaga air. Dari jumlah itu, kira-kira 500 orang diperkirakan berada di dalam terowongan.
Proyek Upper Trishuli-1 menjadi lokasi terberat dengan 576 orang hilang, sekitar 300 di antaranya diduga di terowongan. Di Proyek Trishuli-3, regu penyelamat turun sekitar 15 meter ke dalam terowongan.
Baca juga Korban Banjir Bandang Nepal Tembus 600 Orang
Bencana ini berawal dari runtuhnya gletser pada Rabu (26/08/2026) yang memicu getaran setara gempa magnitudo 5,2. Sungai Trishuli naik sembilan meter hanya dalam tiga puluh menit.
Perlombaan dengan Waktu
Ahli geosains dari Universitas Graz, Austria, Jakob Steiner, menggambarkan ukuran terowongan itu dan kondisi di dalamnya.
“Terowongan ini cukup besar untuk dilewati truk,” katanya.
Ia melanjutkan, “Dan dari yang kami pahami, mereka berhasil mengalirkan oksigen kepada sebagian orang yang terjebak dan sekarang berusaha menyelamatkan mereka. Ini perlombaan dengan waktu, karena orang-orang butuh makanan dan air.”
Baca juga Banjir Bandang Batu Busuk: Bukan Sekadar Banjir Besar
Ketua Asosiasi Produsen Listrik Swasta Nepal, Mohan Kumar Dangi, menyebut sebagian pekerja sempat meminta pertolongan.
“Sebagian pekerja sempat menelepon meminta bantuan ketika bencana terjadi Rabu lalu,” katanya. Enam hari setelah bencana, menurut Dangi, “kekhawatiran bertambah bahwa sebagian dari mereka mungkin kehabisan udara.”
Alat Berat dan Pemindai
Angkatan Darat Nepal mulai mengebor di lokasi Trishuli 3A pada Sabtu malam. Pekerjaan sempat tertunda hujan sebelum dilanjutkan pada Minggu.
“Setelah air banjir surut, tim melanjutkan upaya menemukan mulut terowongan dengan mesin bor, ekskavator, pemotong hidraulik, dan peralatan lain,” demikian pernyataan Angkatan Darat Nepal.
Baca juga Banjir Indiana Tewaskan Lima Orang, Terburuk dalam 30 Tahun
Operasi penyelamatan di Proyek Trishuli-3 dipimpin di bawah koordinasi juru bicara Angkatan Darat Nepal, Brigadir Jenderal Raja Ram Basnet. Distrik Rasuwa dan Nuwakot menjadi wilayah paling parah.
Menunggu Kabar dari Kathmandu
Di antara yang menunggu ada Maraval Nagappan, pemilik perusahaan perjalanan asal Chennai, India, yang kehilangan kontak dengan anaknya.
“Saya belum mendengar kabar anak saya sejak itu. Saya tidak tahu dia masih hidup atau sudah meninggal,” katanya.
Sebanyak 261 warga negara asing dari 23 negara belum diketahui nasibnya, termasuk lebih dari seratus warga Nepal yang berada di sisi Tibet.














