Cekricek.id — Setiap malam, seorang perempuan India menggosok tubuhnya tiga kali dengan sabun sebelum melangkah masuk ke rumahnya sendiri, sementara di sebuah kantor hukum di Kanada, seorang pengacara menahan diri agar tidak dipanggil dengan sebutan yang mengingatkannya pada dua perceraian. Smita membersihkan bau jamban orang lain dari kulitnya; Sarah membersihkan kata “Madame” dari telinganya. Keduanya tidak pernah bertemu, tidak berbagi bahasa, tidak berbagi benua, tetapi keduanya melakukan hal yang sama tanpa saling tahu: menolak sesuatu yang melekat pada diri mereka sendiri.
Kesamaan yang tak disengaja ini menjadi pijakan penelitian Sulfi Baridah Hanum dan Wening Udasmoro dari Program Studi Bahasa dan Sastra Prancis, Universitas Gadjah Mada, dalam artikel Dari Abjek ke Subjek: Pembacaan Ulang Identitas Perempuan dalam Novel La Tresse karya Laetitia Colombani, dimuat di jurnal Mozaik Humaniora Vol. 26 No. 1 tahun 2026. Novel yang dianalisis mempertemukan Smita dari sebuah desa di India dan Sarah dari sebuah firma hukum di Kanada dalam satu benang yang sama, yakni rambut. Namun jalan yang membawa keduanya ke benang itu berbeda arah. Satu berasal dari kasta yang tidak bisa dilepaskan sejak lahir, satu lagi dari karier yang bisa runtuh hanya dalam hitungan minggu setelah sebuah diagnosis.
Di sebuah wawancara yang diunggah kanal La Grande Librairie milik France Télévisions saat novel ini terbit, Colombani menjelaskan sendiri alasan ia menyatukan dua perempuan yang begitu berjarak. “Saya harus menulis sebuah cerita. Saya harus menulis cerita tentang tiga perempuan di dunia saat ini, nasib mereka akan terhubung oleh sebuah detail yang sangat intim,” katanya. Detail intim yang ia maksud adalah rambut, yang di ujung novel menyatukan kepala Smita yang dicukur habis dengan wig yang dibeli Sarah untuk menutupi rambutnya sendiri yang rontok akibat kemoterapi. Colombani tidak menyebut kata abjeksi dalam wawancara itu, tetapi dua perempuan yang ia ciptakan justru menjadi bahan baku Hanum dan Udasmoro untuk membuktikan bahwa penolakan terhadap diri sendiri bisa lahir dari kasta yang berabad-abad tua maupun dari kanker yang baru terdiagnosis kemarin.
Daftar Isi
Smita Menolak Bau yang Menempel

Smita adalah perempuan Dalit, kasta terendah dalam sistem sosial India, yang sejak kecil mengikuti ibunya bekerja membersihkan jamban milik orang-orang Jatt. Pekerjaan itu turun-temurun, melekat pada keluarganya seperti nama belakang. Namun dalam novel, ia justru menolak dilekatkan dengan bau pekerjaannya sendiri. Ia mandi dan menggosok tubuhnya berkali-kali sebelum pulang, memastikan tidak ada jejak yang terbawa ke rumah, ke suami dan anak perempuannya. Menurut pembacaan Hanum dan Udasmoro, tindakan ini adalah abjeksi terhadap diri sendiri: Smita membuang bagian dari identitasnya karena ia sendiri merasa jijik terhadap apa yang membentuk hidupnya. Konstitusi India sebenarnya melarang diskriminasi terhadap kelompok Dalit, tetapi praktik marginalisasi tetap berjalan di lapangan, dan pekerjaan membersihkan kotoran orang lain masih diwariskan dari ibu ke anak seolah tidak ada pilihan lain yang tersedia.
Sarah Menolak Sapaan yang Mengoyak
Sarah, di sisi lain benua, adalah pengacara di sebuah firma hukum Kanada yang meminta rekan-rekan kerjanya memanggilnya Maître atau Mademoiselle, bukan Madame. Panggilan itu, bagi Sarah, terasa seperti tamparan karena mengingatkannya pada dua pernikahan yang berakhir dua kali dengan perceraian. Sebutan Madame sendiri baru menjadi panggilan baku untuk perempuan dewasa di dokumen resmi Prancis sejak pemerintah menghapus penggunaan Mademoiselle pada 2012, sehingga bagi kebanyakan orang panggilan itu semestinya netral. Namun bagi Sarah, kata itu selalu ditimbang ulang lewat kacamata masyarakat yang cenderung memberi stigma kepada perempuan berstatus janda, seolah dua kali bercerai adalah aib yang harus ia tebus dengan menolak status pernikahannya sendiri. Ia mereduksi dirinya sendiri agar tidak terus-menerus berhadapan dengan kegagalan yang ia anggap melekat pada status itu. Penolakan serupa muncul lebih tajam ketika ia didiagnosis kanker payudara: ia menyembunyikan penyakitnya dari semua kolega, memperlakukan sakitnya sebagai sesuatu yang harus disingkirkan agar dirinya tetap tampak ideal di mata dunia kerja yang tidak memberi ruang bagi tubuh yang rapuh.
Baca juga Tiga Novel Populer, Dua Arah Islam dalam Sastra
Pola yang sama muncul pada keduanya meski wujudnya berbeda jauh. Smita menolak bau yang menempel karena pekerjaan; Sarah menolak sapaan dan penyakit yang menempel karena statusnya. Satu berurusan dengan kasta yang diwariskan sejak lahir, satu lagi dengan tubuh yang berubah tanpa diminta. Keduanya sama-sama memperlakukan sebagian dari diri sendiri sebagai sesuatu yang asing, sesuatu yang harus dijaga jaraknya agar identitas yang mereka inginkan tetap utuh di hadapan orang lain.
Lalita di Depan Kelas, Smita di Depan Sistem
Abjeksi yang dialami Smita tidak berhenti pada dirinya sendiri. Putrinya, Lalita, disuruh gurunya menyapu kelas di hadapan teman-teman sekelas dan tidak diizinkan makan siang bersama mereka, semata karena ia anak seorang Dalit. Guru yang berasal dari kalangan Brahmana itu memperlakukan pendidikan sebagai hak yang boleh ditolak dari anak kasta bawah. Ketika Smita mendengar kabar ini, ia menangis sambil memeluk putrinya, lalu marah kepada suaminya karena tidak cukup membela Lalita. Kemarahan itu diarahkan pada sebuah sistem yang, menurut pembacaan Hanum dan Udasmoro, telah menormalisasi penyingkiran orang Dalit sedemikian rupa sehingga bahkan suami Smita sendiri menganggapnya sebagai harga yang wajar dibayar.
Sarah dan Kolega yang Perlahan Menghilang
Abjeksi terhadap Sarah datang lebih senyap. Begitu kabar kankernya menyebar di kantor, ia tidak dipecat secara langsung, tetapi perlahan tidak diundang ke rapat, tidak diberi berkas, tidak dikenalkan kepada klien baru, hingga ia sendiri yakin bahwa dirinya sedang disingkirkan. Johnson, atasan yang selama ini mempercayainya, mulai meragukan kredibilitasnya menangani kasus di persidangan, sementara Inez, rekan yang selama ini dianggap dekat, justru berniat mengambil alih posisinya. Sarah akhirnya memilih mengajukan cuti sakit pertama dalam kariernya karena tidak lagi tahan dengan kemunafikan yang ia hadapi setiap hari. Ia lebih memilih pergi daripada menunggu disingkirkan pelan-pelan.
Baca juga Kulkas Tosca yang Merekam Rumah Tangga
Dua bentuk penyingkiran ini berdiri di titik yang berlawanan sekaligus berpadanan. Lalita disingkirkan secara terbuka di depan kelas, sementara Sarah disingkirkan secara diam-diam di balik jadwal rapat yang tidak pernah sampai kepadanya. Yang satu ditopang oleh struktur kasta yang sudah berumur ribuan tahun dan diwariskan lewat pembagian pekerjaan, tempat tinggal, dan bahkan jenis transportasi yang boleh mereka tumpangi, yang satu lagi oleh budaya kerja modern yang menuntut tubuh selalu tampil sempurna dan tidak boleh terlihat rapuh di depan klien maupun kolega. Hanum dan Udasmoro mencatat bahwa kedua perempuan sama-sama merespons penyingkiran itu dengan tahapan yang mirip, mulai dari keputusasaan, kemarahan, hingga akhirnya perlawanan, meski jalan yang mereka tempuh untuk sampai ke sana tidak pernah sama.
Baca juga Tambo, Kartini, dan Syarat Perempuan Masuk Sejarah
Penelitian sebelumnya tentang La Tresse cenderung berhenti di satu sisi saja. Kinanti dan koleganya pada 2024 membaca novel ini lewat kekerasan simbolik ala Pierre Bourdieu dan mendapati Smita sebagai tokoh yang paling banyak mengalaminya, sementara kajian lain tentang teori abjeksi Kristeva selama ini lebih banyak menyorot masyarakat yang homogen, seperti perempuan Papua dalam novel Isinga atau perempuan Mentawai dalam kajian tentang suku dan negara. Hanum dan Udasmoro menempatkan penelitian mereka berbeda dengan menyandingkan dua latar yang jauh sekaligus asing satu sama lain, kasta Hindu di India dan budaya profesional modern di Kanada, untuk menunjukkan bahwa abjeksi terhadap perempuan bukan gejala satu budaya, melainkan sesuatu yang muncul di mana pun perempuan dianggap tidak memenuhi standar yang ditetapkan orang lain. Mereka sendiri mengakui penelitian ini baru membahas dua dari tiga tokoh perempuan dalam novel tersebut, sehingga celah itu masih terbuka bagi peneliti lain yang ingin melanjutkannya, termasuk kemungkinan membaca tokoh ketiga dengan pendekatan antropologi sastra atau semiotika yang belum disentuh dalam kajian ini.
Di akhir novel, Smita duduk dengan kepala yang licin karena dicukur habis, merasa ringan dan bersih setelah melepaskan rambutnya sebagai persembahan. Ribuan kilometer dari sana, Sarah berdiri di depan cermin salon, memangkas rambutnya sendiri sebelum mengenakan wig, mencoba merasa hidup kembali di tengah kemoterapi yang ia jalani. Satu kepala menjadi ringan karena percaya pada sesuatu yang lebih besar dari dirinya; satu kepala lagi menjadi asing karena penyakit yang tidak pernah ia minta. Rambut yang sama-sama mereka lepaskan berakhir di tempat yang berbeda, tetapi keduanya berjalan pulang dengan cara masing-masing untuk menjadi diri mereka sendiri lagi.














