Tari Begawai Membawa Dapur Pesta Talang Mamak ke Panggung

A A

Ilustrasi: dua perempuan berkebaya saat gawai Suku Talang Mamak di Indragiri Hulu, Riau [Foto: Mursib Mursib/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Tari Begawai memindahkan dapur pesta Talang Mamak ke panggung.
  • Sabung ayam adalah syarat pernikahan dan ayam yang kalah menjadi menu utama gawai.
  • Di panggung ayam diganti manusia dan lima penari lain duduk diam membentuk kotak seperti gelanggang.
  • Kata bangsal dalam lirik dinilai mengurangi identitas budaya Talang Mamak dalam tari Begawai.
  • Pemimpin dan tokoh adat dalam adegan makan beradat diperankan penari perempuan.
Daftar Isi
  1. Sepuluh adat gawai
  2. Ayam wajib diadu
  3. Dapur di belakang rumah
  4. Kain menjadi pengaduk
  5. Dua tempat, satu panggung
  6. Kata bangsal dipersoalkan
  7. Makan beradat tanpa laki-laki
  8. Batas dan kejanggalan

Tari Begawai memindahkan dapur pesta Talang Mamak ke panggung. Dalam perpindahan itu, sebagian identitas adatnya hilang. Makna tiap adegannya masih bisa dikenali.

Itulah temuan Rian Indrasanjaya dan Kasiyan dalam artikel The Transformation Form of Begawai Dance in the Cooking Ceremony Phenomenon at Gawai Ceremony of Talang Mamak. Artikel itu terbit di Mudra: Jurnal Seni Budaya volume 40 nomor 2 tahun 2025. Keduanya dari Pendidikan Seni, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta.

Suku Talang Mamak tinggal di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Upacara pernikahan mereka disebut gawai, yang berarti pesta, dan dengan awalan be kata itu menjadi begawai, artinya berpesta. Tari Begawai sendiri karya baru dari tahun 2021 dengan tujuh penari perempuan.

Seorang seniman dari Rengat menjadi koreografer, dan rekannya menata musik. Karya itu dibuat untuk memperkenalkan budaya Talang Mamak, lalu tampil di Gelar Budaya Etnis Selendang Sutra di Daerah Istimewa Yogyakarta pada 5 Oktober 2021. Kedua penulis menyebut pementasan itu sebagai promosi budaya atau diplomasi budaya.

Sepuluh adat gawai

Adat Talang Mamak bersandar pada garis ibu, sehingga dalam perkawinan pihak perempuan yang menjemput laki-laki. Sebelum gawai digelar, ada tahap perkenalan yang disebut betandang. Si pemuda datang ke rumah gadis pada malam hari, lalu melempar tanah, kerikil, buah, atau ranting ke atap.

Tahap berikutnya membibit, saat pemuda menyatakan cinta dan memberi ikat kepala, pakaian, atau barang miliknya. Sesudah itu ahli waris perempuan datang menjemput, dan penjemputan ditutup dengan penyerahan keris sebagai tanda sahnya perkawinan. Kedua pihak lalu bermusyawarah menentukan hari, tanggal, dan bulan gawai.

Gawai punya tiga tingkatan: gawe besar tiga hari, gawe tengah dua hari, gawe kecil satu hari. Besarnya mengikuti kemampuan kedua keluarga. Di dalamnya naskah mencatat sepuluh rangkaian adat, dibuka dengan melekat janji, yaitu pemberitahuan kepada Batin tentang hari pelaksanaan.

Sesudah itu petang mendaun. Para ibu dan pekerja di balai perempuan mulai menanak nasi. Lalu Batin menancapkan lembing atau keris pada tiang tuha dan mengikatnya dengan kain putih, tanda gawai boleh dimulai.

Rangkaian berikutnya bunga adat atau mahar, upacara nikah, dan makan beradat. Tiang gelanggang dari bambu berbalut kain hitam dan putih disebut puncak gawai. Sesudahnya ada mengadu ayam, acara menyembang, dan ditegur diajar, yaitu arahan Batin kepada pengantin.

Sepuluh rangkaian adat dalam gawaiSepuluh rangkaian adat gawai Talang Mamak dari melekat janji sampai ditegur diajar; tari Begawai mengambil makan beradat dan mengadu ayam.Sepuluh rangkaian adat dalam gawaiYang masuk ke tari Begawai: makan beradat dan mengadu ayam1Melekat janji: memberi tahu dan mengundang Batin2Petang mendaun: balai perempuan menanak nasi3Menggantung pauh-pauh: tanda gawai dimulai4Bunga adat atau mahar5Upacara nikah6Makan beradat, bersamaan minum air pengasih7Tiang gelanggang: puncak gawai8Mengadu ayam: judi adat9Acara menyembang10Ditegur diajar: arahan Batin untuk pengantin
Sumber: Rian Indrasanjaya dan Kasiyan, The Transformation Form of Begawai Dance in the Cooking Ceremony Phenomenon at Gawai Ceremony of Talang Mamak, Mudra: Jurnal Seni Budaya, 40(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Rangkaian itu, tulis kedua peneliti, tidak boleh ditinggalkan. Di dalamnya tampak kerja sama para pemuka adat dan warga yang saling membantu mendirikan tiang gelanggang. Dari sepuluh adat itu, tari Begawai mengambil dua, lalu menaruh kegiatan memasak di antaranya.

Ayam wajib diadu

Sabung ayam adalah syarat pernikahan. Menurut orang Talang Mamak, bila tidak dilakukan, perkawinan tidak dianggap sah oleh Batin dan Pancang, dua orang ahli waris yang mengawasi semua judi adat. Ayam juga hadir di upacara pengobatan: seekor ayam dihadapkan kepada Kumantan, diberi beras, dan bila ia mematuk, upacara bisa berlangsung.

Laki-laki mengadu ayam di halaman depan rumah. Hampir semua laki-laki meramaikan gelanggang. Ayam yang kalah menjadi menu utama gawai, sekaligus sumbangan warga dan doa harapan bagi pengantin.

Baca juga Adu Ayam Talang Mamak: Perintah Tuhan yang Bergeser Jadi Judi

Di panggung, ayam diganti manusia. Dua penari di tengah saling mengadu tangan hingga membentuk silang, dengan kaki menendang. Lima penari lain duduk diam membentuk kotak, seperti gelanggang.

Taruhan hanya hadir lewat suara, sebab uang yang dipertaruhkan tidak pernah tampak di panggung. Dalam musiknya terdengar tanya jawab: Ayam kau berape? Seratos? lalu haa dueatos berani ni? dan jawaban Berani! Para peneliti menilai adegan ini tidak sepenuhnya serupa dengan praktik aslinya: nilai adatnya sedikit terkikis, tetapi maksud dan pesannya tetap sama.

Dapur di belakang rumah

Selagi laki-laki menyabung ayam, para amai-amai memasak di belakang rumah. Amai-amai adalah sebutan untuk kelompok ibu. Ada balai khusus laki-laki di depan halaman dan balai khusus perempuan di belakang rumah.

Pekerjaan dibagi: sebagian menyiapkan bumbu dan alat masak, sebagian memastikan hidangan siap disajikan. Mereka memakai hasil kebun dan hutan, yakni kayu untuk api dan tongkat panjang untuk mengaduk. Salah satu hidangan memakai ayam yang kalah bersabung.

Lirik tari menyebut tiga hal yang selesai dikerjakan: air dijerang, nasi ditanak, ayam digulai. Menurut naskah, bagian ini sesuai dengan praktik aslinya. Hidangan gawai memang gulai ayam, nasi, dan air minum.

Kain menjadi pengaduk

Di panggung, dua penari menempati posisi belakang. Di dekat mereka ada properti wadah masak besar dengan kain panjang di bawahnya, mirip kuali di atas tumpukan kayu. Kain lain dibentuk menjadi atap rumah di bagian depan.

Keduanya bergantian mengaduk dengan kain yang diandaikan sebagai pengaduk. Ada pula gerak mengipas dan meniup, seperti menjaga api tetap menyala. Peneliti membacanya sebagai kerja sama untuk kepentingan bersama.

Gerak lain meniru pekerjaan tangan. Telapak tangan diarahkan ke lantai seperti menyiapkan bahan, lalu tangan memukul lantai dengan bunyi seperti pisau memotong bahan di talenan. Sesudahnya ada gerak membersihkan tangan, tanda bahan selesai dikupas, dipotong, dan dibersihkan.

Properti diayun ke kanan dan ke kiri seperti menimba air. Menurut koreografer, gerak-gerak itu meniru amai-amai mengupas bumbu, memotong lada dan bawang, mengambil air, dan mengumpulkan kayu.

Baca juga Motayok Bilalang, Ritual Tari Penyembuh di Kotamobagu

Dua tempat, satu panggung

Satu adegan memuat dua lokasi sekaligus. Bagian belakang untuk kelompok perempuan, bagian depan untuk kelompok laki-laki. Di depan properti atap, dua penari menutup kepala mereka.

Indra, koreografer tari itu, menerangkan maksudnya kepada peneliti. “Tempat perempuan digambarkan sebagai area memasak dan dua penari, sedangkan tempat laki-laki digambarkan sebagai atap dan di depannya ada dua penari yang menutupi kepala dengan properti yang diibaratkan ayam yang kalah bersabung,” katanya, dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Sebuah suara laki-laki dalam musik menyambung adegan itu. Ia mengabarkan ayam sudah ada dan bertanya apa lagi yang belum dimasak. Jawabannya ajakan untuk memasak.

Kata bangsal dipersoalkan

Lirik tari berkali-kali menyebut bangsal sebagai tempat orang sibuk memasak, misalnya pada baris Gawai Begawai sibuk dibangsal, nyenangkan hati orang yang datang. Hasil wawancara menyebut bangsal sebagai istilah tempat memasak dalam masyarakat Melayu. Kedua penulis menilai kata itu membingungkan dan mengurangi identitas budaya Talang Mamak dalam tari Begawai.

Makan beradat tanpa laki-laki

Makan beradat berlangsung malam hari, bersamaan dengan prosesi minum air pengasih. Batin, Monti, Pemangku, Kumantan, dan Tuha makan bersama ahli waris kedua pihak. Hidangan diletakkan di atas poho atau talam.

Tokoh adat makan di balai laki-laki, sedangkan perempuan makan bersama di balai perempuan. Disebut makan beradat karena para tokoh adat berkumpul pada satu poho.

Di panggung, penari membentang kain sebagai tikar. Properti disusun berderet menyerupai poho, lalu penari duduk berhadapan dan bergerak seperti menyuap makanan. Mereka terbagi dua kubu, depan dan belakang, yang menurut peneliti menggambarkan pemisahan laki-laki dan perempuan.

Persoalannya ada pada pemeran. Dalam praktik aslinya kelompok yang dominan adalah laki-laki, sedangkan di panggung pemimpin dan tokoh adat diperankan penari perempuan. Kedua peneliti menyebut penyampaian adegan ini terlalu dipaksakan dan identitas aslinya hilang, meski makna kegiatan makan beradat tidak ikut lenyap.

Dari halaman gawai ke panggung tariPerbandingan upacara gawai Talang Mamak dan tari Begawai: ayam diganti penari, gelanggang dibentuk lima penari, taruhan hanya dialog, pengaduk diganti kain, poho diganti properti, dan semua pemeran perempuan.Dari halaman gawai ke panggung tariEnam hal yang berubah ketika adat Talang Mamak ditarikanUpacara gawaiTari BegawaiAyam sungguhanDua penariYang diaduHalaman depanLima penariGelanggangJudi adatHanya dialogTaruhanTongkat panjangKainPengaduk masakanPoho atau talamProperti berderetTempat makananDominan laki-lakiSemua perempuanMakan beradat
Sumber: Rian Indrasanjaya dan Kasiyan, The Transformation Form of Begawai Dance in the Cooking Ceremony Phenomenon at Gawai Ceremony of Talang Mamak, Mudra: Jurnal Seni Budaya, 40(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Seblang Olehsari: Izin Sehari Ditolak, Tari Tujuh Hari Batal

Batas dan kejanggalan

Kesimpulan itu punya batas. Penulis mengakui bahwa makna tiap adegan mereka tafsirkan secara subjektif sebagai penafsir. Yang dikaji pun satu karya tari, lewat dokumentasi pementasannya pada 2021.

Beberapa hal di naskah bisa diperiksa pembaca. Definisi yang dipakai penulis menyebut makna dan pesan tetap sama setelah bentuk berubah, sedangkan kesimpulannya menyatakan identitas budaya itu hilang. Nama acara di Yogyakarta pun ditulis dua macam, Silk Scarf dan Selendang Sutra.

Naskah menyebut sabung ayam memerlukan empat peran masyarakat, tetapi tidak merincinya. Wadah makan poho juga beberapa kali tertulis tree, kata Inggris untuk pohon.

Yang sampai ke panggung adalah gelanggang, kuali, dan tikar makan. Ayam sungguhan, uang taruhan, dan para lelaki tokoh adat tertinggal di halaman gawai.

Bagikan

Baca Juga

Dendang Serawai Diwariskan Lewat Menonton, Bukan Lewat Sekolah
Orang Serawai Mencuci Kampung dengan Darah Ayam dan Kambing
Ulaon Unjuk, Pesta Kawin Batak Toba yang Ditonton Seisi Kampung
Rumah Suku Moronene Dibagi Tiga seperti Kepala, Badan, dan Kaki
Orang Siberut Mengenal 452 Tumbuhan, Sagu dan Aileleppet Teratas
Ritual Andingingi, Cara Orang Kajang Mendinginkan Bumi dan Hutan