Soenting Melajoe, Koran Perempuan Padang yang Menyebut Dirinya Taman

Tumpukan koran berusia seratus tahun dengan kertas menguning dan tepi yang sudah robek

Tumpukan koran berusia seratus tahun dengan kertas yang sudah menguning. Soenting Melajoe, koran perempuan yang terbit di Padang pada masa Hindia Belanda, menyebut dirinya sebuah taman. [Foto: Canva/wwing, Getty Images Signature]

Cekricek.id — Pada Juli 1912, seorang guru perempuan di Kotogadang menulis syair akrostik berjudul "Pelita kapas". Isinya bukan berita, bukan pula editorial. Siti Roehana menulis tentang benih. "Pelbagai benih boeah pikiran", katanya, akan ditabur di sebuah taman, lalu dirawat bersama-sama: dianyam dan digunting, dahan dan rantingnya dirapikan.

Taman itu adalah koran. Namanya Soenting Melajoe, mingguan berbahasa Melayu yang terbit di Padang sejak 1912 dan bertahan sampai 1921. Selama satu dasawarsa, seluruh redaktur pelaksananya perempuan — sesuatu yang, seratus tahun kemudian, masih jarang di ruang redaksi mana pun.

Cara koran ini bekerja dibaca ulang oleh Tito Ambyo dari RMIT University dan Bronwyn Anne Beech Jones dari University of Melbourne lewat artikel The commons before "the commons"; Decolonial perspectives on journalism through Soenting Melajoe (1912-1921), yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 27 No. 2 pada 30 April 2026. Keduanya berargumen bahwa metafora taman yang dipakai para penulisnya bukan sekadar kiasan, melainkan model kerja jurnalistik yang berbeda dari yang kemudian dianggap standar.

Padang, Pusat Pers di Luar Jawa

Soenting Melajoe diterbitkan Snelpersdrukkerij Orang Alam Minangkabau, percetakan milik Majoedin, pengusaha pers dan politikus lokal yang lebih dikenal dengan gelar Datuk Sutan Maharaja. Percetakan yang sama menerbitkan harian andalannya, Oetoesan Melajoe, sejak 1910.

Kota itu memang sedang jadi pusat. Antara 1900 dan 1913, dari 35 surat kabar yang diketahui terbit di luar Jawa, 17 di antaranya terbit di Padang. Oetoesan Melajoe berdiri di kubu kaum tua, yang berpendapat adat dan pendidikan Barat mestinya memandu kemajuan Minangkabau — berhadapan dengan kaum muda yang mengusung pembaruan Islam. Perdebatan itu berlangsung di halaman koran.

Soenting Melajoe berada di bawah naungan politik itu, tetapi menyusun agendanya sendiri: forum bagi perempuan dan anak perempuan Minangkabau, dan lebih luas lagi Melayu, untuk membicarakan urusan kaum mereka. Isinya berulang kali menuntut pendidikan formal bagi anak perempuan, perluasan sekolah perempuan, dan pemulihan kedudukan tinggi perempuan Minangkabau.

Baca juga: Soenting Melajoe

Empat Halaman yang Diisi Pembaca

Yang membedakan koran ini bukan hanya redakturnya. Sebagian besar isinya adalah kiriman pembaca; editorial hanya sesekali muncul. Empat halaman itu diisi prosa dan syair dari perempuan dan anak perempuan di desa, kota kecil, dan kota besar di seluruh Sumatera — dan lebih jauh lagi. Surat datang dari Bengkulu, Jambi, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, bahkan Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan.

Redaksinya berganti-ganti tetapi selalu perempuan. Mula-mula Zoebeidah Ratna Djoewita dan Siti Roehana, yang juga dikenal sebagai Roehana Koedoes. Belakangan Siti Roehana didampingi Siti Noermah, Amna Karim, Sitti Djatiah, dan Retna Tenoen.

Justru di titik inilah kedua penulis mengajukan keberatan. Soenting Melajoe kerap dibingkai sebagai koran Siti Roehana seorang — pembingkaian yang ikut menopang penetapannya sebagai Wartawati Pertama Indonesia pada 1974 dan Pahlawan Nasional pada 2019. Menurut Ambyo dan Beech Jones, pembingkaian tokoh tunggal semacam itu menutupi kenyataan bahwa koran ini adalah kerja kolektif, dan memang menyebut dirinya demikian.

Balasan atas sepucuk surat bisa memakan waktu berminggu-minggu, kadang berbulan-bulan, karena bergantung pada jaringan pos. Kelambatan itu bukan kekurangan yang harus diperbaiki, melainkan ritme yang membentuk cara komunitasnya tumbuh.

Baca juga: Rohana Kudus

Jurnalisme yang Bukan Jalan Aspal

Untuk menjelaskan apa yang membuat model taman berbeda, kedua penulis membandingkannya dengan definisi jurnalisme yang kemudian menang. Parada Harahap, tokoh pers Sumatera, pada 1926 menekankan kecepatan dan orisinalitas: wartawan yang baik adalah yang paling cepat membagi kabar, apalagi kalau kabar itu belum dimuntahkan orang lain. Mochtar Lubis dalam buku Pers dan wartawan (1952) menambahkan tuntutan kompetensi profesional dan objektivitas.

Sejarawan Rudolf Mrazek menyebut model itu sebagai "bahasa sebagai aspal": jurnalisme dibayangkan sebagai jalan modern yang dirancang untuk kecepatan, efisiensi, dan peredaran luas, tak terhambat kekhususan tempat atau komunitas. Diukur dengan standar itu, koran seperti Soenting Melajoe — dengan iramanya yang lambat dan kerjanya yang mengurus — tampak kuno.

Kedua penulis membalik penilaian itu. Yang mereka temukan bukan koran yang gagal menjadi modern, melainkan koran yang mengerjakan sesuatu yang lain: membangun komunitas lewat perawatan, bukan lewat peredaran.

Taman yang Terbuka Sekaligus Berpagar

Bagian paling tajam dari artikel ini adalah pengakuan bahwa taman itu punya pagar. Pembacanya terbatas pada minoritas perempuan yang melek huruf — pada 1930, hanya 6,44 persen penduduk Indonesia melek aksara Latin. Iklan di halamannya, seperti susu kental manis Eagle Brand yang muncul rutin sejak 1917, menandai pembacanya sebagai kalangan berada.

Batas itu juga dijaga secara sadar. Pada 1913, sepucuk surat yang mengatasnamakan Zoebeidah Ratna Djoewita muncul di koran lain, Tjaja Sumatra. Redaktur Soenting Melajoe yang bernama sama marah dan menuntut aturan penamaan yang lebih tegas. Ia menulis bahwa orang yang mengaku bernama Zoebeidah Ratna Djoewita di koran itu tidak menyebut anak siapa, istri siapa, sekolah di mana, atau tinggal di mana — sementara para redaktur Soenting Melajoe menyebutkan tempat tinggal mereka: dirinya di Padang, Roehana di Kotogadang.

Ketika si penulis misterius terungkap sebagai seorang pelajar dari Payakumbuh yang mengkritik pembatasan perempuan menikah di luar etnis Minangkabau, tanggapan redaksi keras: kritik itu dinilai melanggar kepatutan, dan si penulis muda disebut baru belajar bicara dan belum tahu akibat kata-katanya.

Ambyo dan Beech Jones tidak membela sikap itu, tetapi juga tidak membacanya semata sebagai penyingkiran. Pagar semacam itu, tulis mereka, berfungsi melindungi ruang perempuan yang dibangun di tengah struktur kolonial dan patriarkal. Kekhususan pembacanya adalah kekuatan, bukan kelemahan.

Baca juga: Mahyudin Datuk Sutan Maharadja

Kawin Anak, Kekerasan Rumah Tangga, dan Wabah 1918

Isi yang beredar di taman itu tidak selalu ringan. Pada 1915, Sitti Habibah, gadis 17 tahun dari Pasaman, menulis tentang perlawanannya terhadap perkawinan anak dan menuduh orang tuanya mengabaikan jeritannya. Pada 1918, Amna Karim menulis editorial berjudul "Harap diperhatikan!" yang menuntut layanan medis yang lebih tertutup bagi korban kekerasan dalam rumah tangga, dan meminta Saadah Alim, redaktur Soeara Perempoean, memuat ulang tulisannya agar jangkauannya bertambah.

Amna Karim pula yang menghasilkan salah satu laporan paling menyerupai kerja wartawan modern. Pada gelombang kedua pandemi influenza 1918, ia mengirim laporan dari Bengkulu yang dimuat pada 29 November 1918, disandingkan dengan guntingan dari Pewarta Soerabaja, Pewarta Deli, dan resep obat influenza dari Benih Mardeka. Ia mencatat bahwa penyebaran wabah memaksa penutupan sekolah Melayu pada 11 sampai 15 November, sementara sekolah Belanda tidak ditutup. Ia juga mencatat bahwa pembukaan kembali pada 11 November gagal, persis seperti perkiraannya, karena lebih dari separuh murid masih sakit, sehingga sekolah kembali ditutup sampai 18 November.

Dari taman itu tumbuh pula taman-taman kecil. Sejak 1917, sekelompok penulis perempuan dari Tapanuli saling terhubung lewat koran ini, menulis dalam bahasa Melayu dan Mandailing. Salah satunya, Nai Angat Barita Radja, menulis pada 1919: gadis-gadis Tapanuli, carilah ilmu di mana saja.

Amna Karim sendiri sudah menunjuk persoalan yang lebih besar sejak 1913, ketika ia menulis bahwa sebagian besar anak perempuan di Hindia tidak melanjutkan sekolah — terganjal harapan keluarga agar cepat menikah dan biaya yang tak terjangkau. Koran yang dikerjakan segelintir perempuan berpendidikan itu, dengan kata lain, tahu betul di mana batas jangkauannya berakhir.

Baca Juga

Gunung Marapi terlihat dari Bukittinggi dengan atap rumah warga di latar depan dan awan menggantung di lerengnya
Arsip Kolonial dan Tanda Alam, Dua Sumber yang Belum Dipakai untuk Mitigasi Marapi
Mulut gua gelap di lereng berbatu yang tertutup lumut tebal dan serasah daun di dalam hutan
Lima Belas Gua Jepang di Bukit Pengklik dan Taktik Bertahan di Balik Lereng
Gedung putih bekas balai kota Batavia dengan atap merah dan menara jam, dilihat dari Lapangan Fatahillah, Kota Tua Jakarta
Air Mancur di Taman Fatahillah dan Jaringan Air Bersih Batavia Abad ke-18
Sastrawan Minangkabau Darman Moenir saat wisuda pada 1989
Darman Moenir dan Novel yang Mengalahkan Budi Darma
Sepasang tangan menenun kain sutra merah dengan motif benang emas pada alat tenun kayu tradisional
Benang Emas yang Merajut Pendidikan: Kisah Tersembunyi di Balik Songket Minangkabau
Perahu kayu tradisional melaju di sungai lebar yang membelah hutan tropis saat matahari terbit, perbukitan tampak di kejauhan
Jejak Kerajaan Minangkabau Kuno: Ketika Sumatera Menjadi Jantung Perdagangan Dunia