Lima Belas Gua Jepang di Bukit Pengklik dan Taktik Bertahan di Balik Lereng

Mulut gua gelap di lereng berbatu yang tertutup lumut tebal dan serasah daun di dalam hutan

Ilustrasi mulut gua di lereng berhutan yang tertutup lumut. Lima belas gua Jepang di Bukit Pengklik digali menembus lereng bukit dengan cara serupa. [Foto: Canva/Ruslan Lytvyn]

Cekricek.id — Warga sekitar tidak menyebutnya Pengklik. Mereka menyebutnya Bukit Pegat — pegat berarti putus — karena bukit itu terbelah menjadi dua sisi oleh jalan kampung yang dibuka pada masa kolonial. Belahan itu bertahan sampai sekarang, bahkan sampai ke administrasi: sisi timur laut masuk Madurejo, sisi barat daya masuk Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman.

Di kedua sisi bukit yang terbelah itu terdapat 15 gua buatan manusia. Bukan gua pertapaan, bukan pula gua alam. Dindingnya menyimpan luka bekas cangkul dan linggis, dan sebagian mulutnya diperkuat lengkung bata yang direkatkan semen. Semuanya digali pada 1942–1945, ketika Yogyakarta berada di bawah pemerintahan militer Jepang.

Pemetaan dan pembacaan atas gugusan gua itu dikerjakan Rizky Ramadhani Satrio Wibisono dari Prodi Arkeologi dan Aurellia Kanza Nabila dari Prodi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, lewat artikel Gua Jepang di Perbukitan Pengklik: Studi Battlefield Archaeology tentang Reverse Slope Defence, yang terbit dalam Jurnal Arkeologi Nusantara (JANUS) Vol. 3 No. 1 pada 2025. Artikel itu merupakan pengembangan dari skripsi Wibisono yang diujikan pada 2024.

Kenapa Bukit Ini Dipilih

Perbukitan Pengklik tergolong perbukitan denudasional dari Formasi Semilir: bukit-bukit terisolir yang muncul di tengah dataran endapan vulkanik Merapi. Tingkat erosinya sedang sampai tinggi, dengan kemiringan lereng antara 15 sampai 55 derajat. Tanahnya mudah longsor dan sulit menopang permukiman jangka panjang.

Bukit semacam itu, dalam tradisi masa Hindu-Buddha, biasanya dipakai sebagai ruang sakral yang dikunjungi berkala — dan memang di kawasan ini terdapat Candi Abang, Gua Sentonorejo yang berfungsi sebagai gua pertapaan, serta Makam Keramat Pengklik. Ada pula ceruk buatan penampung air dan sebuah tuk atau mata air.

Yang membuat bukit ini menarik bagi militer Jepang bukan kesuburannya, melainkan letaknya. Peta Prambanan dan Kotagede terbitan Topografische Dienst tahun 1926 memperlihatkan bahwa di sekelilingnya berdiri obyek-obyek yang penting bagi siapa pun yang menguasai Yogyakarta timur: Pabrik Gula Tanjung Tirto, Kantor Bupati Kalasan, perumahan militer, markas polisi lapangan, halte Kalasan, dan landasan udara Maguwoharjo.

Baca juga: Tragedi Junyo Maru

Tiga Saf Pertahanan di Pulau Jawa

Setelah pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat lewat Perjanjian Kalijati pada 8 Maret 1942, Jepang membagi Pulau Jawa ke dalam tiga komando: Markas Besar Angkatan Darat ke-16 di Batavia, Divisi ke-2 di Bandung, dan Divisi ke-48 di Surabaya. Yogyakarta dan Surakarta diberi status daerah istimewa dan ditempatkan langsung di bawah kendali Markas Besar di Batavia. Kehadiran raja setempat dinilai berguna untuk mendulang kepercayaan masyarakat.

Serangan ke Kota Yogyakarta sendiri berlangsung pada awal Maret 1942 lewat Detasemen Sakaguchi dari Divisi ke-48. Garnisun KNIL yang bertahan hanya berkekuatan sekitar 700 personel dan tidak memberikan perlawanan berarti.

Markas Besar Angkatan Darat ke-16 kemudian menyusun tiga saf pertahanan di Jawa: garis pantai dijaga pasukan bumiputera, pinggir dataran tinggi dipegang pasukan reguler Jepang, dan kawasan pegunungan diisi kombinasi pasukan Jepang dan bumiputera dengan kemampuan gerilya. Di Yogyakarta, jejaknya berupa tiga kawasan gua — Kaliurang di utara, Berbah di timur, dan Pundong di selatan — yang seluruhnya digali dengan tenaga romusha.

Dua Belas Gua Perisai, Tiga Gua Gudang

Survei mencatat 12 gua di sisi timur laut dan 3 gua di sisi barat daya. Perbedaan keduanya tidak sekadar jumlah.

Dua belas gua di sisi timur laut berbentuk lorong tunggal — diklasifikasikan sebagai tipe I — dengan mulut berstruktur lengkung bata bersemen yang mengisi sekitar lima meter pertama lorong. Dua di antaranya bercabang menyerupai huruf Y, bentuk yang dalam kajian gua pertahanan Jepang di Pasifik diidentifikasi sebagai pos anti-personel, efektif mencegah musuh masuk ke dalam lorong. Seluruh mulut gua di sisi ini menghadap ke arah kompleks permukiman Belanda dan Pabrik Gula Tanjung Tirto.

Di sisi barat daya, ceritanya berbeda. Gua yang diberi kode GJ1-BD punya empat pintu yang saling terhubung lewat lorong penghubung, masing-masing berambang beton, dan salah satunya menyisakan bekas engsel — tanda pernah ada daun pintu. Di dalam lorong pertama dan ketiga terdapat ceruk berukuran sekitar 10 x 30 sentimeter. Ceruk serupa dijumpai pada gua-gua pertahanan Jepang di Pulau Saipan, tempat kotak amunisi disimpan. Di lorong kedua dan keempat, ada struktur yang menyerupai bantalan rel kereta api, indikasi bahwa barang yang keluar-masuk cukup berat sehingga perlu lori untuk bongkar muat.

Dari kombinasi itu, GJ1-BD diidentifikasi sebagai gudang senjata dan logistik. Dua gua lain di sisi yang sama, GJ2-BD dan GJ3-BD, dibiarkan polos tanpa penguat apa pun dan dibaca sebagai lapisan proteksi sebelum orang mencapai gudang.

Baca juga: Air Mancur di Taman Fatahillah dan Jaringan Air Bersih Batavia Abad ke-18

Bertahan di Balik Punggung Bukit

Susunan itulah yang membuat kedua penulis menyimpulkan bahwa Jepang menerapkan reverse slope defense atau pertahanan lereng terbalik di Pengklik. Prinsipnya sederhana: kekuatan utama tidak ditaruh di lereng yang menghadap musuh, melainkan di balik punggung bukit. Lereng depan menjadi perisai yang menyerap serangan infanteri dan kavaleri sekaligus memutus jangkauan artileri lawan, sementara aset yang paling berharga aman di seberangnya.

Dalam kasus ini, dua belas gua di sisi timur laut adalah lapis pertama yang menerima serangan, dan gudang logistik di sisi barat daya adalah yang dilindungi. Pembangunan gua di sisi timur laut mengikuti garis kontur bukit — pilihan yang masuk akal secara teknis, karena mengabaikan kondisi tanah denudasional berarti gua tidak akan bertahan lama.

Perhitungan itu ternyata tidak sepenuhnya berhasil. Survei menemukan sisi timur laut memiliki kerawanan longsor yang tinggi, dan beberapa gua kini sudah tertimbun tanah. Para penulis menilai arsitek militer Jepang kemungkinan sudah menyadari kelemahan geologis itu, tetapi tetap memilih lokasi tersebut karena kemudahan aksesnya ke jalan utama Yogyakarta–Solo lebih berharga daripada kerugian dari sisi tanah.

Membaca Medan dengan Peta Lama dan QGIS

Pendekatan yang dipakai disebut battlefield archaeology atau arkeologi medan perang: menelusuri lanskap sebuah konflik lewat survei, dokumentasi temuan, dan analisis fitur yang ditinggalkan manusia sebelum, selama, dan sesudah kampanye militer. Data survei lapangan digabungkan dengan peta-peta lama — termasuk peta Jepang Nanpo Yochizu 1941, Jaba-to zenzu 1942, dan peta Angkatan Darat Amerika Serikat terbitan 1944 — lalu diolah dalam perangkat lunak QGIS untuk melihat korelasi antarsitus.

Perbandingan peta itu memunculkan temuan sampingan yang menarik: peta buatan Jepang justru menyajikan jalur komunikasi secara kabur, sementara peta Angkatan Darat Amerika Serikat tahun 1944 memuatnya lebih rinci. Perbedaan itu dibaca sebagai jejak upaya kontraintelijen Jepang terhadap aktivitas intelijen lawan.

Identifikasi gudang senjata di GJ1-BD sendiri tidak hanya bersandar pada struktur fisik. Keterangan warga yang mengaku pernah menemukan bubuk "obat" di kawasan itu ikut dipakai sebagai penguat, diperoleh lewat percakapan tidak formal dengan pengurus Desa Wisata Pengklik pada Juni 2024. Sementara untuk gua-gua Jepang di lereng Merapi, para penulis menyatakan fungsinya belum diketahui secara pasti.

Kajian arkeologis atas gua-gua Jepang di Yogyakarta sebelumnya, menurut kedua penulis, berhenti pada pemerian bentuk: berapa panjangnya, bagaimana mulutnya, apa bahannya. Pertanyaan mengapa bukit tertentu yang dipilih dan bagaimana gua-gua itu bekerja sebagai satu sistem belum banyak dijawab. Di Pengklik, jawabannya ternyata ada pada arah hadap mulut gua dan pada sisi bukit mana yang sengaja dikorbankan.

Baca Juga

Gedung putih bekas balai kota Batavia dengan atap merah dan menara jam, dilihat dari Lapangan Fatahillah, Kota Tua Jakarta
Air Mancur di Taman Fatahillah dan Jaringan Air Bersih Batavia Abad ke-18
Bangunan utama Candi Sukuh berbentuk piramida terpancung dari batu dengan gerbang di tengah dan arca di halaman
Candi Sukuh, Kuil Majapahit Tanpa Arca Raja di Lereng Lawu
Sastrawan Minangkabau Darman Moenir saat wisuda pada 1989
Darman Moenir dan Novel yang Mengalahkan Budi Darma
Ratusan guci keramik amphora tertumpuk di dasar laut, tertutup endapan dan lumut setelah terendam ribuan tahun
Bangkai Kapal Romawi Kuno Ditemukan di Perairan Sisilia
Kompleks stupa bata tua berlumut berdiri di padang rumput yang dikelilingi hutan tropis berkabut
Candi Muara Takus, Menyingkap Jejak Sejarah Panjang Sekte Bhairawa hingga Islam di Tanah Melayu
Cungkup beratap gonjong Minangkabau di kompleks makam Tuanku Imam Bonjol, Desa Lotta, Minahasa
Makam Imam Bonjol di Minahasa dan Nisan yang Berubah