Bank Jepang Naikkan Suku Bunga ke 1,25 Persen Tertinggi 31 Tahun

A A

Papan indeks Nikkei di Bursa Tokyo saat Bank Jepang umumkan kenaikan suku bunga ke 1,25 persen [Foto: Al Jazeera]

  • Suku bunga Jepang naik 0,25 poin ke 1,25 persen, tertinggi 31 tahun sejak era suku bunga ultra-rendah.
  • Inflasi inti bertahan di sekitar 2 persen pada Agustus karena biaya pangan dan energi terus naik.
  • BoJ menyebut guncangan demografi struktural dan tekanan selisih suku bunga dengan AS mendorong kenaikan.

Cekricek.id — Suku bunga Jepang naik ke 1,25 persen, level tertinggi dalam 31 tahun, setelah Bank of Japan (BoJ) menaikkan biaya pinjaman sebesar 0,25 poin di tengah inflasi yang masih di atas target.

Mengutip laporan Al Jazeera, Jumat (19/09/2026), dewan gubernur BoJ memutuskan kenaikan pada Jumat sebagai langkah lanjutan keluar dari era suku bunga ultra-rendah yang selama puluhan tahun menopang yen sebagai mata uang pendanaan murah global.

Kenaikan ini menjadi yang pertama sejak Juni dan membawa suku bunga acuan lebih dekat ke level netral, sementara inflasi inti Jepang bertahan di sekitar 2 persen pada Agustus karena perusahaan terus meneruskan kenaikan biaya pangan dan kebutuhan pokok.

Direktur Eksekutif BoJ, Koji Nakamura, menggambarkan tekanan struktural di balik kebijakan tersebut. “Guncangan demografi yang bergerak lambat,” katanya, merujuk pada penyusutan angkatan kerja yang mendorong kenaikan upah dan tidak bisa dianggap sementara.

Tekanan eksternal turut memengaruhi keputusan. Bank Sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga pada Rabu dan memberi sinyal kenaikan lanjutan tahun ini, sehingga selisih suku bunga Amerika Serikat–Jepang yang melebar berisiko melemahkan yen dan mengerek biaya impor, menurut analisis yang dikutip Reuters.

Suku bunga Jepang kini masih di bawah Bank Sentral Eropa yang pekan lalu menaikkan suku bunga acuan ke 2,5 persen, namun langkah BoJ dipandang penting untuk menjaga stabilitas harga dan nilai tukar.

Inflasi dan Pelemahan Yen Jadi Pemicu Kenaikan

Jepang bergulat dengan inflasi yang didorong harga energi, tekanan pasokan global, serta inflasi domestik yang melebihi target 2 persen. Data Agustus menunjukkan inflasi inti tetap dekat target, namun harga pangan olahan terus naik.

BoJ juga menyoroti pasar tenaga kerja yang mengetat. Penyusutan populasi usia produktif membuat perusahaan menaikkan upah demi mempertahankan pekerja, yang pada akhirnya mendorong harga jual.

Di sisi nilai tukar, setiap pelebaran selisih suku bunga dengan Amerika Serikat berpotensi menekan yen. Yen yang lebih lemah membuat impor energi dan bahan baku lebih mahal bagi ekonomi Jepang yang sangat bergantung pada pasokan luar negeri.

Baca juga Imbal hasil obligasi Jepang 3 persen pertama sejak 1996

Pasar Menanti Sinyal Gubernur Kazuo Ueda

Perhatian pasar kini tertuju pada konferensi pers Gubernur Kazuo Ueda usai pertemuan kebijakan untuk mencari petunjuk jadwal dan laju kenaikan lanjutan.

Analis menilai nada pernyataan Ueda akan menentukan ekspektasi pasar soal apakah BoJ akan kembali menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang atau menahan diri sambil mengamati dampak kenaikan kali ini terhadap pertumbuhan.

Di dalam negeri, kenaikan biaya pinjaman diperkirakan memengaruhi kredit perumahan dan investasi korporasi, meski dampaknya belum terlihat seketika karena sebagian besar pinjaman berbunga tetap dan bank masih menyesuaikan penawaran.

Bagikan

Baca Juga

Rusia dan China Veto Panel Pengawas Sanksi Iran di PBB
Qatar Dorong Kerangka Keamanan Teluk Libatkan Iran Pasca Perang
Turkiye Siap Penuhi Kebutuhan Pertahanan Arab Saudi Hadapi Houthi
Aleema Khan Ditangkap Jelang Pawai PTI Desak Bebaskan Imran Khan
Kelambu Kamar Tidur dan Lansia Pesisir Surat Thani yang Jatuh
Amerika Serikat Cabut Sanksi terhadap Eritrea