Cekricek.id — Seekor kumbang kulit kayu yang tidak cocok dengan satu pun pertelaan yang sudah ada membawa peneliti Universitas Brawijaya pada spesies yang belum pernah dideskripsikan ilmu pengetahuan. Kumbang itu kini bernama Hyorrhynchus takakumaensis Setiawan, Hata & Smith, sp. nov., dengan nama umum Jepang Takakuma-ōkikuimushi.
Temuan tersebut dipaparkan Yogo Setiawan, S.P., M.P., peneliti Fakultas Bio-industri, Pertanian, dan Kehutanan Universitas Brawijaya yang tengah menempuh pendidikan doktoral di The United Graduate School of Agricultural Sciences, Kagoshima University, lewat artikel A new species of Hyorrhynchus Blandford, 1894 (Coleoptera, Curculionidae, Scolytinae, Hyorrhynchini) and two new records of xyleborine ambrosia beetles from Japan dalam jurnal ZooKeys pada 14 Juli 2026. Dikutip dari laman resmi Universitas Brawijaya, prasetya.ub.ac.id, Senin (10/8/2026), riset itu dikerjakan bersama Kagoshima University, Saga University, dan Michigan State University.
Setahun Menyisir Hutan Penelitian
Nama spesiesnya diambil dari lokasi penemuan. “Nama takakumaensis diambil dari nama tempat temuannya, yakni Takakuma Experimental Forest,” kata Yogo. Hutan penelitian milik Kagoshima University itu berada di Pegunungan Takakuma, Semenanjung Osumi, Kyushu bagian selatan, dan menjadi lokasi seluruh pengambilan sampel.
Sampel dikumpulkan dua pekan sekali sepanjang satu tahun. “Mulai musim panas 2024 hingga musim panas 2025, sehingga mencakup empat musim,” ujarnya. Rentang selama itu diambil untuk melihat keragaman sekaligus dinamika komunitas kumbang kulit kayu dan kumbang ambrosia di hutan beriklim hangat Jepang bagian selatan.
Pekerjaan lapangannya tidak ringan. Wadah spesimen sempat membeku pada musim dingin, sementara pada musim panas suhu di lokasi mencapai 36 derajat Celsius. Lokasinya sendiri ditempuh sekitar 45 menit menyeberang dengan feri ditambah satu jam perjalanan darat.
Genus Bertambah Jadi Sebelas
Satu spesimen menarik perhatian karena ciri morfologinya berbeda dari anggota genus Hyorrhynchus lain. Pembedanya terletak pada epistoma yang bertanduk atau bertuberkel lebar, serta pola seta dan vestitur pada elitra. Setelah dibandingkan dengan koleksi museum dan dikonsultasikan kepada ahli taksonomi
Baca juga: Anjing Purba 30 Juta Tahun Ternyata Bukan Pelari
di Michigan State University, spesimen itu disimpulkan belum pernah dideskripsikan sebelumnya.
Sebelum publikasi ini, genus Hyorrhynchus memuat sepuluh spesies di dunia. Kini jumlahnya menjadi sebelas, sedangkan catatan spesies genus itu di Jepang naik dari dua menjadi tiga.
Yogo juga melaporkan dua spesies kumbang ambrosia yang sebelumnya belum pernah tercatat di Jepang, yaitu Anisandrus auratipilus Smith, Beaver & Cognato, 2020 dan Debus shoreae (Stebbing, 1907). Temuan A. auratipilus menjadi catatan kedua spesies itu di dunia sejak dideskripsikan dari spesimen yang dikoleksi di Provinsi Fujian, Tiongkok, sementara D. shoreae selama ini dikenal tersebar di kawasan tropis Asia Timur dan Asia Tenggara.
Kumbang ambrosia berperan dalam penguraian kayu dan siklus hara di hutan
Baca juga: Dinosaurus Bisa Jadi Raksasa, Tapi Kenapa Tak Pernah Mungil?
, tetapi sebagian jenisnya merupakan hama penting pada sektor kehutanan dan pertanian. Karena itu, menurut Yogo, pendataan keragaman kelompok kumbang ini penting dilakukan
Baca juga: Hutan Nagari Sumbar dan Negara yang Berdiri Dua Kaki
.



















