Cekricek.id — Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan ribuan pasien di Jalur Gaza masih menunggu giliran dievakuasi untuk mendapat perawatan di luar wilayah itu, sepuluh bulan setelah gencatan senjata mulai berlaku.
Dikutip dari Anadolu, Selasa (11/8/2026), juru bicara WHO Tarik Jasarevic menyatakan “ribuan pasien masih menunggu evakuasi medis”. Pernyataan itu disampaikannya di tengah rujukan pasien yang kini berjalan lebih teratur dibanding masa perang terbuka, tetapi belum sanggup mengejar panjangnya antrean.
Hampir 13 Ribu Pasien sejak Oktober 2023
Jasarevic memaparkan, sebanyak 12.913 pasien telah dievakuasi secara medis dari Gaza sejak Oktober 2023. Sebanyak 6.186 di antaranya anak-anak. Mereka berangkat bersama sekitar 16.000 pendamping, sebab pasien anak dan pasien dengan kondisi berat tidak dilepas sendirian ke rumah sakit di luar wilayah.
Ritme pengiriman saat ini berlangsung tiga sampai empat kali dalam sepekan. “Pekan lalu, 2 hingga 8 Agustus, 101 pasien dan 164 pendamping dievakuasi,” kata Jasarevic.
Pendamping ikut dihitung karena evakuasi medis dari Gaza jarang berupa keberangkatan tunggal. Dari 12.913 pasien yang sudah berangkat sejak Oktober 2023, hampir separuhnya anak-anak, dan rombongan pendamping yang menyertai mereka jumlahnya justru melampaui jumlah pasien itu sendiri.
Jumlah itu memberi gambaran tentang jarak antara kapasitas dan kebutuhan. Dengan seratusan pasien yang berangkat tiap pekan, daftar tunggu yang berisi ribuan nama tidak akan habis dalam hitungan bulan, apalagi selama korban baru terus berjatuhan.
Gencatan Senjata yang Tidak Menghentikan Korban
Gencatan senjata di Gaza mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Sejak tanggal itu, serangan Israel menewaskan 1.258 orang dan melukai 4.145 orang lainnya, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Adapun total korban akibat serangan Israel di Jalur Gaza sejak Oktober 2023 mencapai 73.386 orang tewas dan 174.256 orang terluka. Angka yang terakhir itulah yang menjadi kolam sesungguhnya bagi daftar tunggu evakuasi: sebagian besar penyintas luka berat memerlukan operasi lanjutan, rehabilitasi, atau perawatan yang tidak lagi tersedia di dalam Gaza.
Sisa Fasilitas yang Menanggung Bebannya
Layanan kesehatan di dalam wilayah itu sendiri masih ditopang fasilitas darurat. Cekricek.id sebelumnya memberitakan Bulan Sabit Merah Palestina membuka rumah sakit lapangan keenamnya di Gaza utara, penanda bahwa rumah sakit permanen belum kembali berfungsi penuh.
Persoalannya tidak berhenti pada tempat tidur dan ruang operasi. Rantai pasok bantuan juga menyusut, setelah armada truk pengangkut bantuan di Gaza tinggal seperempat dan pemantau hak asasi manusia memperingatkan ancaman kelaparan. Obat, alat medis, dan bahan bakar untuk generator rumah sakit bergerak lewat jalur yang sama dengan pangan.
Evakuasi medis sendiri bukan sekadar urusan mengangkut orang. Setiap keberangkatan memerlukan persetujuan lintas otoritas, negara penerima yang bersedia menanggung perawatan, serta koridor yang aman pada hari keberangkatan. Ketika salah satu unsur itu tersendat, keberangkatan tertunda dan antrean kembali memanjang.
Selama gencatan senjata berjalan pun, kebutuhan perawatan tidak berkurang seiring waktu. Luka lama menuntut tindakan lanjutan berbulan-bulan sesudahnya, sementara serangan yang masih terjadi menambah nama baru ke dalam daftar. Di situlah angka “ribuan” yang disebut Jasarevic bertahan, meski keberangkatan tetap berlangsung tiap pekan.
Baca juga: Pendaftaran Sekolah Makkah di Gaza Selatan Dibuka, Seribu Murid pada Tahap Pertama




















