Cekricek.id — Rusia membebaskan mantan Marinir Amerika Serikat Robert Gilman dari tahanan setelah lebih dari empat tahun mendekam di penjara, di tengah kekhawatiran kondisi kesehatannya yang memburuk drastis dalam beberapa pekan terakhir.
Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (11/8/2026), Gilman ditahan di Voronezh, kota sekitar 550 kilometer di selatan Moskow, sejak Januari 2022. Ia sempat divonis 4,5 tahun penjara, namun masa hukumannya berulang kali diperpanjang oleh otoritas Rusia.
Kembali ke Tanah Air Malam Ini
Gilman, 32 tahun, yang pernah bertugas di Korps Marinir AS antara Agustus 2019 dan Agustus 2020, dijadwalkan tiba di Pangkalan Angkatan Udara Andrews dekat Washington DC pada Selasa malam waktu setempat. Dari sana ia akan dibawa ke pusat rehabilitasi di San Antonio, Texas, untuk menjalani pemulihan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan kabar pembebasan itu lewat Truth Social. Ia menyebut persetujuan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk melepaskan Gilman berlangsung "atas dasar kemanusiaan", dan menegaskan tidak ada tahanan yang dibebaskan pihak Amerika Serikat sebagai imbalannya.
"Sudah Lama Semestinya Terjadi"
Kabar pembebasan itu datang beberapa hari setelah kelompok advokasi memperingatkan kondisi Gilman berada dalam titik nyaris kritis akibat pneumonia berat dan episode katatonik. Senator Amerika Serikat Ed Markey menyambut pembebasan itu sembari menyoroti perlakuan yang diterima Gilman selama ditahan.
"Sudah lama semestinya terjadi," kata Ed Markey, Senator Amerika Serikat, mengomentari pembebasan tersebut, seperti dikutip Al Jazeera. Markey menyebut Gilman sempat "disiksa secara fisik, dipaksa mengonsumsi obat, dan mendapat provokasi dari otoritas Rusia" selama masa penahanannya.
Seorang pejabat Amerika Serikat yang sempat berbicara dengan Gilman setelah pembebasannya menyebut kondisinya, "sejauh ini tampak cukup baik," tanpa merinci lebih jauh kondisi medisnya.
Tuduhan yang Dibantah Sejak Awal
Gilman ditangkap dengan tuduhan menyerang petugas di Rusia. Ayahnya, Vladimir Gilman, sejak awal membantah tuduhan itu lewat opini yang ia tulis di media Amerika pada Oktober 2024. Menurut sang ayah, putranya jatuh sakit dan tanpa sengaja menendang seorang petugas yang tidak sampai terluka, dan petugas itu sempat mencabut laporannya sebelum kasus tetap berlanjut ke pengadilan.
Sedikitnya sepuluh warga negara Amerika Serikat lain masih berstatus tahanan di Rusia hingga artikel ini diturunkan, menurut catatan yang dikutip Al Jazeera.
Bagian dari Pola yang Lebih Luas
Pembebasan Gilman berlangsung di tengah hubungan Washington dan Moskow yang masih diwarnai ketegangan akibat perang di Ukraina. Cekricek.id sebelumnya memberitakan gelombang serangan Rusia semalaman menewaskan 12 orang di Ukraina, dengan Presiden Volodymyr Zelenskyy menyebut rudal Korea Utara turut dipakai. Ruang bagi suara oposisi di dalam negeri Rusia sendiri kian menyempit; Mahkamah Agung Rusia baru saja mencoret Yabloko, satu-satunya partai resmi penentang perang, dari surat suara pemilihan parlemen bulan depan.
Pembebasan warga asing dari penjara negara yang tengah berkonflik dengan negaranya bukan cerita baru pada pekan-pekan terakhir. Sepasang warga Inggris baru saja mengakhiri mogok makan 93 hari di penjara Evin, Iran, setelah bertahun-tahun ditahan dengan tuduhan yang juga dibantah keluarga mereka. Kasus Gilman menambah daftar itu, sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik ketegangan diplomatik antarnegara besar, ada warga sipil yang menanggung akibatnya secara langsung selama bertahun-tahun.
Belum ada keterangan resmi dari pemerintah Rusia mengenai alasan spesifik di balik keputusan membebaskan Gilman pada saat ini, maupun apakah langkah itu terkait dengan pembicaraan diplomatik yang lebih luas antara Washington dan Moskow.





















