Cekricek.id — Pada 2018, seorang pengumpul batu bernama Wardi menemukan sebuah bongkahan di sawah di Desa Kataan, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, tidak jauh dari sebuah arca Gaṇeśa tua di Dusun Nglarug. Ketika berusaha mengangkatnya, batu itu pecah. Baru setelah dibalik, Wardi sadar bahwa sisi bawahnya bertulisan. Dua belas baris aksara Kawi, yang selama beberapa tahun berikutnya akan memaksa para ahli menggeser satu tanggal yang sudah lima puluh tahun tercetak di buku-buku sejarah.
Temuan itu dipaparkan Arlo Griffiths dari École française d’Extrême-Orient, Titi Surti Nastiti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, dan Wayan Jarrah Sastrawan dari Australian National University, Canberra, lewat artikel The earliest documents in Old Javanese (Dokumen-dokumen tertua dalam bahasa Jawa Kuno), yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 26 No. 3 pada 2025. Isinya pendek, hanya sebelas halaman, tetapi menyentuh satu titik pangkal: kapan sebenarnya orang Jawa mulai menulis dalam bahasa mereka sendiri.
Tanggal yang Sudah Setengah Abad Dipercaya
Sejak 1974, ketika P.J. Zoetmulder menerbitkan Kalangwan, karya rujukan tentang sastra Jawa Kuno, jawabannya seolah sudah tetap. Zoetmulder membuka bahasannya dengan sebuah prasasti yang ditemukan di perkebunan Sukabumi di Kabupaten Kediri, yang kini lebih dikenal sebagai Harinjing A. Tanggalnya dikonversi menjadi 25 Maret 804 Masehi. “Arti penting 25 Maret 804 dalam studi Jawa Kuno adalah bahwa itulah tanggal paling awal yang sejauh ini ditemukan, saat bahasa Jawa Kuno dipakai,” tulis Zoetmulder dalam kutipan yang dimuat ulang dalam artikel itu. Kalimat aslinya berbahasa Inggris.
Baca juga: Sisi Batu yang Tak Pernah Dibaca Akhirnya Terbuka Lewat Fotogrametri
Sebelum tanggal itu, prasasti-prasasti yang ditemukan di wilayah berbahasa Jawa memang ada — yang tertua dari tahun 732 Masehi — tetapi semuanya berbahasa Sanskerta. Bahan tahan lama seperti batu dan lempeng tembaga hanya dipakai untuk dokumen resmi yang dianggap penting: peringatan peristiwa besar, atau keputusan yang harus mengikat generasi berikutnya. Selama berabad-abad, bahasa yang dipilih untuk keperluan itu adalah Sanskerta, bukan bahasa sehari-hari.
Zoetmulder sendiri sudah memasang rambu terhadap kesimpulannya sendiri. Ia mengingatkan bahwa Harinjing A pun tidak sampai kepada kita dalam bentuk aslinya, melainkan sebagai salinan yang dibuat sekitar 120 tahun kemudian, sehingga argumen berdasarkan ketiadaan bukti tidak boleh dianggap berat. “Kita sama sekali tidak tahu berapa banyak yang telah hilang tak tergantikan, atau temuan apa yang masih disimpan masa depan untuk kita,” tulisnya. Lima puluh satu tahun kemudian, kalimat itu terbukti.
Sebuah Nama Bulan yang Bukan Sanskerta
Bukti pertama justru datang dari batu yang nyaris tidak berbunyi. Sekitar 2004 sampai 2005, sebuah batu ditemukan dekat jalan Salatiga-Tuntang-Bawen, di Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Batu itu kini tersimpan di Museum Ronggowarsito, Semarang, dengan nomor inventaris 04.1135. Tulisannya sangat pendek dan barangkali bisa dibaca sebagai śrī 685 Asuji. Tiga patah kata, satu angka.
Kuncinya ada pada kata terakhir. Asuji adalah nama bulan, dan bentuk itu khas bahasa Jawa Kuno; dalam bahasa Sanskerta nama bulan yang sama adalah Aśvajit atau Āśvina. Karena itu, kalau bahasa teks pendek ini memang dimaksudkan sebagai Jawa Kuno, umurnya jauh melampaui Harinjing A. “Sudah hampir pasti bahwa tahun 685 adalah tahun Śaka,” tulis Griffiths, Nastiti, dan Sastrawan — dan bulan Asuji pada tahun itu jatuh antara 13 September dan 11 Oktober 763 Masehi. Empat puluh satu tahun lebih tua daripada tanggal yang selama ini dianggap paling awal.
Para penulis tidak menutupi kelemahan bukti ini. Batu Kesongo, kata mereka sendiri, tidak banyak mengandung isi kebahasaan. Seluruh kesimpulan bergantung pada satu nama bulan dan pada asumsi bahwa penulisnya memang bermaksud menulis dalam bahasa Jawa Kuno, bukan sekadar memakai satu kata lokal di tengah teks berbahasa lain. Karena itu batu ini disebut memberi petunjuk, bukan bukti tuntas.
Dua Belas Baris dari Kabupaten Temanggung
Prasasti Disunuh yang ditemukan Wardi berbeda. Batunya berbentuk tak beraturan, tinggi 48 sentimeter, lebar 73 sentimeter, tebal 25 sentimeter, dengan satu sisi rata yang memuat dua belas baris aksara Kawi. Kini benda itu berada di Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X; ketika tim peneliti melakukan survei pada 2023, batu itu sudah direkatkan kembali dari beberapa pecahan dan belum diberi nomor inventaris. Sebelumnya prasasti ini sempat dikenal dengan nama Sri Ranapati, sebuah nama yang menurut para penulis tidak dapat diterima karena berasal dari pembacaan yang keliru.
Tata letaknya pun membingungkan pada pandangan pertama: teks dimulai pada baris ketiga, turun sampai baris dua belas, lalu kembali mengisi baris satu dan dua — agaknya karena ruang di bawah sudah habis. Isinya adalah keputusan seorang panglima pasukan atau senāpati yang mengembalikan status sīma, yaitu status tanah berhak istimewa, kepada desa Ḍisunuh, disusul daftar nama para pemuka yang hadir dan dua orang penulisnya.
Baca juga: Satu-satunya Nisan Bertulis di Lombok Menyebut Angka Tahun 1729
Bahasanya menyimpan kejutan lain. Prasasti ini memakai bentuk bahasa Jawa Kuno yang tampak dipengaruhi bahasa Melayu Kuno: ejaan ḍi dipakai menggantikan ri, dan kata mamulaṅakan diturunkan dari kata dasar pulaṅ, yang dalam Jawa Kuno tidak lazim dipakai untuk arti mengembalikan, sedangkan makna itu justru khas dalam bahasa Melayu. Satu aksara pada baris keenam sampai kini tidak terbaca; para penulis mencoba tujuh kemungkinan bacaan dan mengakui tidak satu pun menghasilkan kata yang masuk akal.
Kalender Jawa yang Tidak Patuh pada Buku India
Bagian yang paling teknis dari artikel ini justru yang paling memperlihatkan bagaimana Jawa memperlakukan warisan India. Prasasti Disunuh mencantumkan tanggal lengkap: tahun Śaka 709, bulan Caitra, hari keenam paruh gelap, hari Jumat, Vurukuṅ, Pon. Ketika unsur-unsur pawukon itu — kombinasi siklus enam, lima, dan tujuh hari yang berkelindan menjadi daur 210 hari — dicocokkan dengan perangkat lunak berbasis kitab astronomi Sanskerta Sūryasiddhānta, hasilnya tidak jatuh pada bulan Caitra melainkan Vaiśākha.
Ketidakcocokan itu bukan kesalahan pemahat. Sistem penyisipan bulan tambahan yang dipakai di Jawa ternyata tidak mengikuti aturan Sūryasiddhānta. Kalender Jawa mengulang bulan Phālguna 708 Śaka, tiga bulan lebih awal daripada sistem India yang mengulang bulan Jyeṣṭha 709 Śaka. Akibatnya, satu rentang hari yang sama disebut Caitra menurut penanggalan Jawa tetapi Vaiśākha menurut perhitungan India. Setelah selisih itu diperhitungkan, tanggal prasasti Disunuh dapat dipastikan jatuh pada 13 April 787 Masehi — tujuh belas tahun lebih tua daripada Harinjing A.
Prasasti yang Ternyata Cuma Salinan
Bagian terakhir artikel ini membongkar kembali Harinjing A sendiri. Dokumen itu tidak bertahan dalam wujudnya tahun 804, melainkan sebagai salinan yang dipahatkan sekitar 120 tahun kemudian pada sebuah stela, bersama dua catatan lanjutan yang disebut B dan C. Dengan kata lain, ia termasuk golongan piagam yang diterbitkan ulang, dan kesetiaan salinan semacam itu terhadap dokumen aslinya tidak pernah bisa sepenuhnya dipastikan.
Yang terpahat di batu itu sebenarnya angka 706 Śaka, yang berarti 784 Masehi. Angka 726 yang tercantum di semua buku sejarah adalah hasil koreksi yang diusulkan Louis-Charles Damais pada 1955, meneruskan pembacaan P.V. van Stein Callenfels. Damais berpendapat bahwa unsur-unsur siklus hari dalam prasasti itu tidak cocok dengan tahun 706, dan menganggap lebih masuk akal mengandaikan satu kesalahan angka tahun daripada dua atau tiga kesalahan pada unsur hari.
Griffiths, Nastiti, dan Sastrawan sepakat bahwa angka yang terpahat memang 706, tetapi tidak sepakat pada penyelesaiannya. Menurut mereka, sama mudahnya membayangkan bahwa catatan asli memuat urutan tanda hari yang sedikit berbeda, karena bentuk rangkaian aksaranya mirip dan salinan yang kita punya tidak memakai tanda baca yang mungkin ada pada aslinya. Mengandaikan kesalahan salin pada tanda hari, kata mereka, bukan campur tangan penyuntingan yang lebih besar daripada mengandaikan angka nol seharusnya angka dua.
Yang Bisa dan Belum Bisa Dipastikan
Artikel ini berakhir tanpa kemenangan yang bulat, dan penulisnya mengatakannya sendiri. “Kami tidak tahu penyelesaian mana untuk konversi tanggal Harinjing A yang secara historis benar,” tulis Griffiths, Nastiti, dan Sastrawan. Seandainya tanggal itu memang jatuh pada 706 Śaka, Harinjing A justru lebih tua daripada Disunuh.
Baca juga: Rayap di Tiang 1771: Klenteng Tertua Semarang Bertahan dari Sumbangan Umat
Namun urutan umur bukan satu-satunya ukuran. Karena Harinjing A adalah salinan abad ke-10 atas teks abad ke-8, Disunuh tetap menjadi teks Jawa Kuno bermakna panjang yang paling tua yang terpelihara dalam wujud tulisannya yang asli, dengan ciri aksara yang jelas lebih kuno. Batu Kesongo, meski nyaris tanpa isi, memberi petunjuk bahwa bahasa Jawa Kuno sudah mulai ditulis pada 685 Śaka atau 763 Masehi. Keduanya menggeser awal tradisi tulis berbahasa daerah di Jawa dari abad ke-9 ke abad ke-8, dan memindahkan titik awalnya dari Jawa Timur ke Jawa Tengah.
Satu hal lagi yang ditinggalkan artikel ini sebagai pekerjaan rumah: peran bahasa Melayu Kuno. Jejaknya terasa pada ejaan dan kosakata prasasti Disunuh, dan menurut para penulis peran itu semakin nyata berkat temuan-temuan sejak 1960-an — sesuatu yang tidak sempat dibahas Zoetmulder pada zamannya. Bahasa tulis pertama orang Jawa, tampaknya, tidak lahir sendirian.
















