Cekricek.id — Sebuah UMKM kopi asal Jawa Barat, Java Halu Coffee, mengekspor 10 ton kopi mentah (green bean) senilai USD155.000 atau sekitar Rp2,64 miliar ke Inggris. Pengiriman yang dilepas dari Kabupaten Bandung Barat pada Selasa (18/08/2026) ini menjadi salah satu bukti UMKM kopi Indonesia mampu menembus pasar global bila mendapat pendampingan yang tepat.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Fajarini Puntodewi mengatakan capaian ini menunjukkan pentingnya dukungan berkelanjutan bagi pelaku usaha kecil dan menengah agar dapat bersaing di pasar internasional. “Pelepasan ekspor kali ini merupakan bukti nyata bahwa UMKM yang diberikan wadah dan pendampingan tepat sanggup menembus pasar dunia,” kata Fajarini, menurut keterangan tertulis Kementerian Perdagangan, Sabtu (22/08/2026).
Baca juga Ekspor Minyak Atsiri RI USD 348,7 Juta, Nilam Jadi Andalan
Sudah Menembus Tujuh Negara Sejak 2019
Fajarini menambahkan Java Halu Coffee sejatinya bukan pemain baru di pasar ekspor. Sejak 2019, produk kopi asal Jawa Barat ini telah menjangkau pasar Timur Tengah, Jepang, Australia, Korea Selatan, Turki, Inggris, dan Amerika Serikat. Ia berharap capaian ini turut mendorong produsen kopi Indonesia lain untuk berani menembus pasar global, sekaligus mendorong ekspor kopi olahan bernilai tambah, bukan sekadar biji mentah.
Deputi Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan menyebut ekspor ini menegaskan daya saing dan kualitas kopi asal provinsinya di pasar internasional, sekaligus menjadi bukti bahwa produk UMKM dari daerah pegunungan seperti Bandung Barat mampu memenuhi standar mutu yang disyaratkan pasar negara maju, sementara Direktur Java Halu Coffee Rani Mayasari mengapresiasi kolaborasi lintas tingkat pemerintahan, mulai dari pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat, termasuk dukungan dari Bank Indonesia dalam proses pembinaan ekspor UMKM tersebut. Turut hadir dalam pelepasan ekspor ini Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer dan Jasa Miftah Farid, Direktur Pengembangan Pasar dan Informasi Ekspor Bayu Nugroho, Wakil Bupati Bandung Barat Asep Ismail, serta perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat Junanto Herdiawan. Kehadiran pejabat dari berbagai instansi ini menunjukkan pola kolaborasi lintas lembaga yang belakangan makin sering diterapkan pemerintah dalam mendorong ekspor produk daerah, alih-alih hanya mengandalkan satu kementerian atau lembaga saja untuk mengurus seluruh rantai pembinaan UMKM berorientasi ekspor.
Baca juga KKI 2026: Korporasi Gandeng UMKM, Target Rp446,9 Miliar
Kopi Masih Jadi Andalan Ekspor UMKM
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil kopi utama dunia, dengan beragam varietas asal Sumatra, Jawa, Sulawesi, hingga Bali yang memiliki karakteristik cita rasa berbeda-beda dan diminati pasar spesialti internasional. Namun nilai tambah dari perdagangan kopi Indonesia selama ini lebih banyak dinikmati negara pengolah dan pengemas di luar negeri, karena sebagian besar volume ekspor masih berupa biji hijau yang belum melalui proses sangrai atau pengemasan bernilai jual tinggi seperti yang dikirim Java Halu Coffee kali ini.
Komoditas kopi selama ini menjadi salah satu andalan ekspor pertanian Indonesia, dengan sebagian besar produk yang dikirim ke luar negeri masih berupa biji mentah alih-alih produk olahan bernilai tambah seperti kopi sangrai atau kopi instan. Kementerian Perdagangan berulang kali mendorong pelaku usaha untuk bergeser ke hilirisasi produk kopi agar nilai tambah yang diperoleh eksportir dalam negeri lebih besar, mengingat harga jual produk olahan di pasar internasional bisa berkali-kali lipat dibanding biji mentah.
Baca juga ADB Jual Obligasi Global US$2 Miliar Tenor 10 Tahun
Nilai ekspor kali ini, meski relatif kecil dibanding total ekspor kopi nasional yang mencapai ratusan juta dolar Amerika Serikat per tahun, menjadi contoh konkret bagaimana kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga keuangan dapat membuka jalan bagi UMKM daerah untuk langsung menembus pasar ekspor tanpa melalui eksportir besar sebagai perantara.
Keterlibatan Bank Indonesia dalam proses pembinaan Java Halu Coffee turut menggambarkan pola pendampingan UMKM berorientasi ekspor yang belakangan makin lazim diterapkan di berbagai daerah, di mana bank sentral dan pemerintah daerah membina pelaku usaha dari sisi standar mutu, kemasan, hingga kepatuhan dokumen ekspor sebelum produk dinyatakan siap menembus pasar negara tujuan. Pendekatan semacam ini dinilai lebih berkelanjutan dibanding sekadar fasilitasi satu kali pengiriman, karena UMKM yang dibina diharapkan dapat kembali melakukan ekspor secara mandiri pada pengiriman berikutnya.
















