- Putin menyampaikan kepada Trump bahwa dimulainya kembali perundingan damai dengan Ukraina dalam waktu dekat sulit terjadi.
- Kremlin menyebut serangan drone Ukraina ke Moskow dan tempat pemungutan suara pada hari pemilu sebagai alasannya.
- Zelenskyy menyebut kesepakatan solar AS-Rusia sebagai hadiah bagi Putin.
Cekricek.id — Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan dimulainya kembali perundingan damai dengan Ukraina dalam waktu dekat sulit terjadi, dengan alasan serangan drone ke Moskow saat pemilu parlemen bulan lalu.
Dalam percakapan telepon dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat, Putin mengatakan Moskow siap melanjutkan negosiasi dengan Kyiv setelah pemilu parlemen, tetapi serangan drone ke ibu kota membuat perundingan trilateral Rusia, Ukraina, dan AS sulit segera dilanjutkan, menurut laporan Al Jazeera, Sabtu (10/10/2026).
“Dengan melancarkan serangan drone berskala besar ke Moskow, kota-kota lain, dan tempat-tempat pemungutan suara pada hari terpenting pemilu, serta menyasar sejumlah orang yang terlibat dalam penyelenggaraan pemilu, rezim Kyiv pada kenyataannya telah memutus kemungkinan dimulainya kembali proses negosiasi secara langsung,” kata penasihat kebijakan luar negeri Kremlin Yuri Ushakov tentang percakapan itu.
“Seperti yang dikatakan presiden, kami sekarang akan menilai kapan negosiasi ini bisa dilanjutkan,” tambahnya.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Kamis mengatakan perang Rusia di Ukraina berada dalam kebuntuan yang berbahaya dan AS akan terus bekerja untuk mencapai kesepakatan mengakhiri perang. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy awal pekan ini menyatakan negaranya siap menggelar perundingan trilateral dengan AS dan Rusia bulan ini.
Pada Jumat, Trump mengumumkan seusai percakapan itu bahwa Rusia sepakat memasok lebih dari 300.000 ton solar ke pasar Amerika dan global. Kesepakatan itu dikritik anggota parlemen AS, Zelenskyy, dan sekutu Eropa.
Zelenskyy menyebut kesepakatan tersebut sebagai hadiah bagi Putin. “Semua uang itu mengalir ke perang melawan rakyat, melawan Ukraina, melawan kita semua. Saya yakin tim kami hanya dijadikan tabir asap. Dan itu jelas tidak adil,” ujarnya dalam pernyataan.
Menanggapi kesepakatan itu, juru bicara pemerintah Inggris menyatakan Inggris akan terus menekan Rusia lewat rezim sanksi terberat yang pernah diberlakukan negara itu.















