- Puluhan warga Tunisia berunjuk rasa di Tunis menuntut pembebasan empat aktivis Global Sumud Flotilla.
- Pengadilan memperpanjang penahanan praperadilan keempat aktivis selama empat bulan lagi.
- Ghassen Bouaazi sebut Wael Naouar sudah mogok makan 35 hari dan kehilangan lebih 20 kilogram berat badan.
- Nidhal Khadraoui sebut Henchiri butuh operasi mendesak yang belum dilakukan meski direkomendasikan dokter penjara.
Cekricek.id — Puluhan orang berunjuk rasa di Tunis pada Sabtu menuntut pembebasan empat aktivis Global Sumud Flotilla, seiring meningkatnya kekhawatiran atas memburuknya kesehatan mereka setelah salah satu memasuki bulan kedua mogok makan.
Pengunjuk rasa berjalan dari markas Serikat Wartawan Nasional Tunisia (SNJT) menuju Avenue Habib Bourguiba di pusat kota Tunis, membawa bendera Tunisia dan Palestina serta potret keempat tahanan, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Minggu (20/9/2026). Mereka juga meneriakkan yel-yel antipemerintah.
Penahanan Diperpanjang Empat Bulan
Demonstrasi itu berlangsung beberapa hari setelah pengadilan memperpanjang masa tahanan praperadilan Wael Naouar, Ghassen Henchiri, Ghassen Boughdiri, dan Nabil Channoufi selama empat bulan lagi. Mereka ditahan sejak Maret dalam penyelidikan dugaan pelanggaran keuangan terkait penggalangan dana untuk armada tersebut, menurut media pemerintah Tunisia yang mengutip sumber yudisial. Keempat aktivis dan tim pembela mereka membantah tuduhan tersebut, sementara para pendukung menyebut kasus ini bagian dari tindakan keras yang lebih luas terhadap masyarakat sipil dan perbedaan pendapat politik.
Naouar, anggota komite pengarah armada, memulai mogok makan tanpa batas waktu sejak 16 Agustus untuk memprotes penahanannya. Tiga lainnya menyusul pada 9 September, menurut pernyataan para pendukung dan Global Sumud Flotilla.
Kesehatan Tahanan Kian Mengkhawatirkan
Ghassen Bouaazi, anggota Komite Nasional Pembelaan Aktivis Sumud Flotilla, mengatakan kesehatan Naouar merosot signifikan. “Wael Naouar sudah mogok makan sekitar 35 hari dan kesehatannya merosot cukup parah,” kata Bouaazi kepada Al Jazeera di sela unjuk rasa Sabtu. Ia menyebut Naouar mengalami pingsan berulang, kesulitan bernapas, dan halusinasi, serta kehilangan lebih dari 20 kilogram berat badan.
“Sekarang ada bahaya nyata yang mengancamnya,” kata Bouaazi, seraya menambahkan bahwa komitenya menilai Presiden Kais Saied dan pemerintahannya bertanggung jawab secara politik, hukum, dan moral atas segala bahaya yang mungkin menimpa para tahanan. “Kami menuntut agar otoritas menutup kasus ini sekali dan untuk selamanya,” katanya, menyebut tuduhan terhadap keempat aktivis sebagai “klaim yang meragukan”.
Keempat aktivis merupakan anggota Global Sumud Flotilla, kampanye internasional yang berupaya menentang blokade Israel atas Gaza dan mengirimkan bantuan kemanusiaan. Menurut Nidhal Khadraoui, mantan sekretaris jenderal Serikat Umum Pelajar Tunisia (UGET) yang lain, Naouar dan aktivis lainnya tetap bertekad melanjutkan mogok makan hingga dibebaskan. Khadraoui juga menyebut Henchiri membutuhkan operasi mendesak akibat komplikasi cedera sebelumnya yang dialaminya saat ditahan di Israel, namun prosedur itu belum dilakukan meski ada rekomendasi dokter penjara.
Human Rights Watch menyebut otoritas Tunisia semakin sering menggunakan undang-undang keuangan, antipencucian uang, dan antiterorisme terhadap aktor dan aktivis masyarakat sipil. Kasus ini muncul di tengah kekhawatiran yang lebih luas soal menyempitnya ruang gerak masyarakat sipil di Tunisia, sementara pemerintah Saied menolak tuduhan bahwa peradilan dipakai untuk membungkam lawan, dengan menyebut peradilan tetap independen dan proses hukum berjalan sesuai aturan.
“Negara Tunisia, atas nama entitas Zionis, sedang menghukum kawan-kawan kami atas perjuangan mereka untuk Gaza dan Palestina,” kata Khadraoui kepada Al Jazeera, menambahkan bahwa “seluruh aksi ke depan akan bersifat eskalatif” dan pihaknya menuntut pertanggungjawaban penuh otoritas Kais Saied atas nasib para tahanan, yang juga menjadi sorotan dalam berbagai perkembangan di Gaza maupun upaya gencatan senjata yang pernah ditempuh sebelumnya.















