- Michelle Bachelet mundur dari pencalonan Sekjen PBB lewat video di Instagram pada Sabtu.
- Bachelet hanya meraih satu suara dukungan dalam jajak informal ketiga Dewan Keamanan.
- Rebeca Grynspan memimpin bursa dengan sembilan suara, diikuti Carolyn Rodrigues-Birkett dengan delapan suara.
- Masa jabatan Antonio Guterres berakhir 31 Desember di tengah peringatan keruntuhan keuangan PBB.
Cekricek.id — Mantan Presiden Chile Michelle Bachelet mundur dari pencalonan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengakhiri upayanya menjadi perempuan pertama yang memimpin badan dunia itu dalam sejarah 80 tahunnya.
Bachelet, 74 tahun, mengumumkan keputusannya lewat video di Instagram pada Sabtu, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Minggu (20/9/2026). “Hari ini saya umumkan bahwa saya memutuskan untuk tidak melanjutkan pencalonan saya untuk posisi Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa,” katanya. Ia menambahkan tidak menyesal “telah mengambil tantangan besar ini” meski “waktunya tidak tepat” untuk jenis pencalonan yang ingin ia wakili.
Peta Suara Berubah di Dewan Keamanan
Kemunduran Bachelet muncul setelah Dewan Keamanan PBB merilis jajak pendapat informal ketiga pada Jumat, di mana ia hanya meraih satu suara “dukung”, 11 suara “tidak dukung”, dan tiga suara “tanpa pendapat”. Perolehan itu merosot dibanding enam suara dukungan pada Juli dan dua suara pada Agustus.
Jajak yang sama menempatkan Rebeca Grynspan dari Kosta Rika, yang kini memimpin badan Perdagangan dan Pembangunan PBB, di posisi teratas dengan sembilan suara dukungan, diikuti ketat oleh Carolyn Rodrigues-Birkett dari Guyana dengan delapan suara. Kandidat lain yang masih bertahan dalam bursa pencalonan Sekretaris Jenderal PBB pengganti Antonio Guterres adalah Rafael Grossi dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA), mantan Presiden Senegal Macky Sall, dan diplomat Ekuador Maria Fernanda Espinosa.
Untuk direkomendasikan Dewan Keamanan, seorang kandidat butuh dukungan sembilan dari 15 anggota dan harus terhindar dari hak veto lima anggota tetap yakni Tiongkok, Prancis, Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat, sebelum pemungutan suara akhir di Majelis Umum.
Guterres Hadapi Krisis Keuangan Jelang Akhir Masa Jabatan
Bachelet dicalonkan Chile pada Februari dengan dukungan Brasil dan Meksiko. Hanya satu warga Amerika Latin, Javier Perez de Cuellar dari Peru, yang pernah menduduki kursi puncak PBB, dan rotasi tidak resmi antarkawasan sebelumnya menempatkan Amerika Latin dalam antrean untuk periode ini.
Siapa pun pengganti Guterres, yang masa jabatannya berakhir 31 Desember, akan memimpin organisasi yang tengah menghadapi berbagai krisis. Guterres sebelumnya memperingatkan negara anggota bahwa PBB menghadapi “keruntuhan keuangan yang mengancam”, dengan tunggakan iuran senilai 1,57 miliar dolar AS hingga akhir 2025.
Para pemimpin dunia akan berkumpul di New York pekan depan untuk sesi tahunan tingkat tinggi Majelis Umum, yang dibuka Selasa dengan tema “Memulihkan Kepercayaan, Mengelola Transformasi”.















