Cekricek.id — Universitas Andalas mengajak masyarakat Sumatera Barat berhenti memunggungi Samudra Hindia. Ajakan itu disampaikan dalam kuliah umum bagi mahasiswa baru yang menghadirkan Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Santo Darmasumarto, di kampus Limau Manis, Padang.
Kuliah umum bertajuk perjuangan kepentingan nasional Indonesia di Samudra Hindia melalui Indian Ocean Rim Association itu digelar Selasa (11/8/2026), dikutip dari laman resmi Universitas Andalas, unand.ac.id. Materinya menyoroti posisi geografis Sumatera Barat yang berhadapan langsung dengan samudra terbesar ketiga di dunia, tetapi selama ini lebih banyak menoleh ke Selat Malaka.
Jalur dagang yang selama ini dibelakangi
Santo menilai orientasi itu perlu dibalik. “Sebagai orang yang tinggal di Sumatera Barat, kita seharusnya melihat ke Samudra Hindia. Samudra Hindia merupakan jalur perdagangan yang sangat krusial. Karena itu, jangan terus memunggungi Samudra Hindia,” katanya di hadapan mahasiswa baru.
Ia menjelaskan IORA beranggotakan 23 negara yang mengelilingi Samudra Hindia, dengan Indonesia sebagai salah satu pendirinya. Indonesia kini memegang kursi ketua kelompok kerja ekonomi biru di organisasi tersebut.
“Indonesia saat ini menjadi ketua Working Group mengenai blue economy. Ini merupakan peluang yang sangat besar bagi Indonesia untuk mengembangkan kerja sama dan penelitian di bidang ekonomi biru,” ujar Santo.
Baca juga: Sumbar Usulkan Tambak Udang Rp7,2 Triliun di Mentawai, Menteri KKP Perintahkan Survei
Peran kampus dalam diplomasi
IORA dibentuk pada 1997 dan menghimpun negara-negara di tepian Samudra Hindia dari Afrika Timur, Asia Selatan, Asia Tenggara, sampai Australia. Organisasi ini bekerja di sejumlah bidang prioritas, di antaranya keselamatan pelayaran, perikanan, penanganan bencana, dan ekonomi biru — bidang terakhir itulah yang kini dipimpin Indonesia.
Rektor UNAND Efa Yonnedi menempatkan perguruan tinggi sebagai salah satu pintu diplomasi yang sering terlewat, di samping jalur pemerintah. Menurutnya, pertukaran mahasiswa dan riset bersama adalah bentuk hubungan antarnegara yang bekerja pelan tetapi bertahan lama.
“UNAND terus mendorong perluasan kerja sama dengan perguruan tinggi di negara-negara IORA, baik melalui pertukaran mahasiswa, credit earning, maupun riset kolaborasi internasional. Posisi Sumatera Barat yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia merupakan modal strategis yang perlu kita manfaatkan untuk membangun jejaring akademik yang semakin kuat,” kata Efa.
Baca juga: Konferensi Nasional di UNAND Siapkan Masukan Akademik untuk RUU Ketenagakerjaan
Klaim itu bersandar pada angka penerimaan tahun ini. UNAND menerima sekitar 2.000 pelamar mahasiswa internasional dari 45 negara, dan kurang dari 50 orang di antaranya diterima. Rasio yang ketat itu dipakai kampus sebagai penanda naiknya perhatian luar negeri terhadap Padang, meski jumlah kursinya sendiri masih kecil.
Ekonomi biru sebagai pekerjaan rumah daerah
Menyasar mahasiswa baru sebagai pendengar juga berarti menaruh isu kebijakan luar negeri pada awal masa kuliah, ketika pilihan bidang minat belum mengeras. Kuliah umum semacam ini biasanya diikuti tawaran program pertukaran dan skema riset bersama pada semester-semester berikutnya.
Isi kuliah umum itu bersinggungan langsung dengan sektor yang belum tergarap penuh di Sumatera Barat: perikanan tangkap, budi daya laut, pelabuhan, sampai riset kelautan. Provinsi ini memiliki garis pantai panjang di pesisir barat Sumatera dan gugusan pulau kecil, tetapi kontribusi sektor kelautan terhadap ekonomi daerah masih kalah jauh dibanding pertanian dan perdagangan.
Menempatkan mahasiswa baru sebagai audiens membuat pesannya berjangka panjang. Kerja sama riset lintas negara di kawasan Samudra Hindia baru akan terasa hasilnya bertahun-tahun kemudian, saat angkatan yang mendengarkan kuliah umum ini menyelesaikan studinya.
Baca juga: Jejak Kerajaan Minangkabau Kuno: Ketika Sumatera Menjadi Jantung Perdagangan Dunia





















