Cekricek.id — Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan negaranya tidak akan menerima kehadiran militer Israel sekecil apa pun di wilayahnya, sekalipun perundingan dengan Tel Aviv masih berjalan. Pernyataan itu ia sampaikan di hadapan sebuah lembaga Maronit di Beirut, saat menjelaskan posisi Lebanon dalam pembicaraan yang sudah berlangsung beberapa putaran.
“Pada akhirnya, kami tidak akan membiarkan Israel bertahan, bahkan tidak seinci pun di tanah kami,” kata Aoun, seperti dikutip dari Al Arabiya English, Selasa (11/8/2026).
Tiga tujuan yang dibawa Beirut
Aoun menyebut perundingan sedang bergerak ke arah yang ia nilai baik dan menegaskan tidak ada perbedaan pandangan di dalam negeri soal apa yang hendak dicapai. “Tidak ada perselisihan di antara orang Lebanon mengenai tujuan-tujuannya,” ujarnya.
Ia merinci tiga hal yang dikejar Beirut di meja perundingan: penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon, pemulangan tahanan, dan rekonstruksi kawasan yang hancur akibat perang. Menurut Aoun, kesepakatan kerangka yang dicapai sebelumnya sudah menekan cakupan operasi militer Israel, meski belum menghentikannya.
Presiden Lebanon itu menempatkan jalur diplomasi sebagai pilihan yang lebih murah dibanding kelanjutan pertempuran, yang ia sebut sebagai perang yang menghancurkan negaranya. “Tujuan saya hari ini adalah membangun kembali negara, apa pun harganya,” kata Aoun.
Baca juga: Lebanon Tahan Jenderal Era Assad, Timbang Serahkan ke Suriah
Putaran berikutnya di Roma
Putaran terakhir pembicaraan Lebanon–Israel berakhir pekan lalu di Roma. Seorang pejabat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyebut kedua delegasi akan kembali bertemu di kota yang sama pada awal September, sementara komunikasi lanjutan berjalan di Beirut, Yerusalem, dan Washington.
Hari pertama dari dua hari perundingan itu sempat terpotong. Delegasi Lebanon menyatakan kekesalannya atas serangan Israel yang terus berlanjut, sedangkan pihak Israel menuduh isi pertemuan dibocorkan. Pembahasan yang sempat berjalan menyentuh verifikasi pihak ketiga atas operasi pembersihan yang dilakukan tentara Lebanon, serta dukungan bagi rekonstruksi.
Mekanisme pemantauan gencatan senjata yang dipimpin Amerika Serikat masih bekerja untuk memastikan zona percontohan di Lebanon selatan berjalan. Di zona-zona itu, angkatan bersenjata Lebanon secara bertahap mengambil alih tanggung jawab keamanan.
Baca juga: Netanyahu Tolak Rencana 15 Poin Trump untuk Gaza
Tekanan dari dalam negeri
Perundingan langsung dengan Israel bukan pilihan yang mulus di dalam negeri Lebanon. Hizbullah, kelompok yang didukung Iran, berulang kali mengecam pembicaraan itu dan meminta pemerintah menghentikannya sama sekali. Kelompok tersebut berpendapat pemerintah semestinya lebih dulu memperoleh dukungan luas di dalam negeri sebelum melangkah, meski Hizbullah sendiri tidak pernah meminta izin ketika menyeret Lebanon dua kali ke dalam perang dengan Israel.
Pejabat Amerika yang sama mengakui prosesnya jauh dari mudah, menyebut Hizbullah berusaha menggagalkannya, sementara Israel dan Lebanon sama-sama menghadapi tekanan politik dalam negeri.
Yang membedakan babak ini dari sebelumnya, menurut pejabat tersebut, adalah kenyataan bahwa kedua tim akhirnya duduk bersama, berkomunikasi langsung, dan menghasilkan sejumlah opsi — sesuatu yang ia sebut sebagai perubahan struktural, terlepas dari hasil akhirnya.
Bagi Aoun, ukuran keberhasilan tetap sederhana dan sulit sekaligus: tidak ada tentara asing yang tersisa di selatan, dan penduduk yang mengungsi bisa kembali ke rumah yang layak ditinggali.
Baca juga: Tiga Tentara Lebanon Terluka, Israel Masuk Desa Perbatasan





















