Lingkar Pinggang Ramalkan Risiko Penyakit Jantung Lebih Akurat dari BMI, Studi 260.000 Orang

Ilustrasi pengukuran lingkar pinggang dengan pita ukur

Ilustrasi pengukuran lingkar pinggang, salah satu indikator risiko kardiovaskular yang diteliti. [Foto: Ilustrasi/Pexels]

Cekricek.id — Sebuah analisis lintas kohort berskala besar menemukan lingkar pinggang dan rasio pinggang-pinggul dapat meramalkan risiko penyakit kardiovaskular jauh lebih akurat dibanding indeks massa tubuh atau BMI, indikator yang selama puluhan tahun jadi standar penilaian berat badan sehat di klinik-klinik seluruh dunia.

Temuan itu dipaparkan Zeina Dardari, peneliti utama, bersama Michael Blaha, direktur riset klinis di Johns Hopkins Ciccarone Center for the Prevention of Cardiovascular Disease sekaligus penulis senior studi ini, lewat artikel Risk Reclassification Beyond BMI by Waist Circumference and Waist-to-Hip Ratio Across Nine Cardiovascular Outcomes: Results from the Cross-Cohort Collaboration dalam jurnal Journal of the American College of Cardiology pada 11 Agustus 2026.

260.000 Orang, Dipantau 20 Tahun

Tim menganalisis data lebih dari 260.000 partisipan yang dipantau rata-rata selama 20 tahun, membandingkan lingkar pinggang dan rasio pinggang-pinggul terhadap sembilan luaran kardiovaskular, termasuk serangan jantung, stroke, gagal jantung, dan kematian. Skala dan durasi pemantauan sebesar ini membuat studi ini salah satu yang paling komprehensif untuk topik reklasifikasi risiko berbasis lemak sentral.

“Lingkar pinggang dan rasio pinggang-pinggul mengklasifikasi ulang risiko yang selama ini ditentukan lewat ambang BMI konvensional. Kami melihat individu dengan berat badan normal secara klinis yang ternyata memiliki adipositas sentral tinggi dan rasio pinggang-pinggul tinggi, dan itu berkaitan dengan risiko lebih tinggi pada sebagian besar luaran yang diteliti,” kata Blaha.

Berat Badan Normal Bukan Jaminan Bebas Risiko

Temuan ini menegaskan kelemahan lama BMI: indikator itu hanya menghitung rasio berat terhadap tinggi badan tanpa membedakan dari mana berat itu berasal, apakah dari lemak yang menumpuk di sekitar organ perut (lemak viseral) atau dari otot dan lemak yang tersebar merata di tubuh. Lemak viseral dikenal lebih aktif secara metabolik dan lebih erat kaitannya dengan peradangan kronis serta gangguan pembuluh darah dibanding lemak subkutan di bagian tubuh lain.

Akibatnya, seseorang dengan BMI yang tergolong “normal” bisa saja menyimpan lemak perut dalam jumlah signifikan dan tetap berisiko tinggi, sementara orang lain dengan BMI lebih tinggi namun distribusi lemaknya lebih merata bisa jadi risikonya lebih rendah dari yang diperkirakan hanya lewat angka BMI.

Dorongan untuk Ukur Pinggang di Pemeriksaan Rutin

Harlan Krumholz, pemimpin redaksi jurnal JACC sekaligus profesor di Yale School of Medicine, menyebut hasil studi ini memperkuat dorongan agar pengukuran lingkar pinggang dan rasio pinggang-pinggul dijadikan bagian rutin pemeriksaan kesehatan, bukan sekadar pelengkap opsional di samping penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi. Tim peneliti menyebut langkah itu relatif murah dan mudah diterapkan di layanan kesehatan primer, tanpa memerlukan alat pencitraan mahal seperti CT scan untuk mengukur lemak viseral secara langsung.

Baca juga: Kadar Lp(a) di Atas 175 nmol/L Berkaitan dengan Risiko Stroke yang Lebih Tinggi

Baca juga: 98 Persen Produk Perawatan dan Pembersih Rumah Tangga Simpan Bahan Kimia Tak Tercantum di Label

Baca Juga

Ilustrasi rekaman elektrokardiogram (EKG)
Model AI Deteksi Gangguan Jantung yang Sulit Terbaca Hanya dari Satu Sadapan EKG
Ilustrasi tabung sampel darah di laboratorium
Kadar Lp(a) di Atas 175 nmol/L Berkaitan dengan Risiko Stroke yang Lebih Tinggi
Ilustrasi obat dalam kemasan blister dan kapsul
Pil GLP-1 Aleniglipron Pangkas Berat Badan 12,1 Persen dalam 36 Pekan
Siluet seorang perempuan berlari di tepi danau kota saat fajar
Studi: 150 Menit Olahraga Sepekan Ternyata Belum Cukup
Olahraga Ekstrem Bisa Bahayakan Jantung, Ini Penjelasan dari Dokter
Olahraga Ekstrem Bisa Bahayakan Jantung, Ini Penjelasan dari Dokter
Cekricek.id - Makan Terlambat Ternyata Mempengaruhi Pembakaran Kalori dan Penyimpanan Lemak
Makan Terlambat Ternyata Mempengaruhi Pembakaran Kalori dan Penyimpanan Lemak