Pil GLP-1 Aleniglipron Pangkas Berat Badan 12,1 Persen dalam 36 Pekan

Ilustrasi obat dalam kemasan blister dan kapsul

Ilustrasi obat. [Foto: Ilustrasi/Pexels]

Cekricek.id — Obat penurun berat badan berbentuk pil yang ditelan sekali sehari memangkas bobot tubuh peserta uji klinis hingga 12,1 persen dalam 36 pekan. Hasil uji fase 2b itu disiarkan Northwestern Medicine dan menempatkan aleniglipron sebagai penantang obat suntik golongan GLP-1 yang selama ini menguasai terapi obesitas.

Dikutip dari ScienceDaily, Senin (10/8/2026), uji coba merekrut 230 orang dewasa berusia rata-rata 50 tahun di 38 pusat medis di Amerika Serikat. Mereka dibagi ke dalam tiga kelompok dosis — 45, 90, dan 120 miligram — serta satu kelompok pembanding yang hanya menerima plasebo.

Penurunan Bobot Mengikuti Besaran Dosis

Kelompok dosis terendah kehilangan 9,0 persen bobot tubuh, kelompok 90 miligram 10,7 persen, dan kelompok dosis tertinggi 12,1 persen. Kelompok plasebo hanya turun 0,5 persen pada rentang waktu yang sama. Pola bertingkat itu yang dipakai tim peneliti untuk menentukan dosis mana yang layak dibawa ke tahap uji berikutnya.

Golongan GLP-1 bekerja dengan meniru hormon usus yang muncul setelah makan dan memberi sinyal kenyang ke otak sekaligus memperlambat pengosongan lambung. Semua obat golongan ini yang beredar luas untuk penurunan berat badan diberikan lewat suntikan mingguan.

Yang membedakan aleniglipron dari semaglutide dan tirzepatide bukan sekadar bentuknya. Obat suntik golongan GLP-1 dibuat dari peptida, rantai asam amino yang rapuh di saluran cerna. Aleniglipron disusun sebagai molekul kecil hasil sintesis kimia.

“Yang membedakan aleniglipron adalah bentuknya sebagai molekul kecil, artinya obat ini dibuat secara kimiawi dan bisa diminum dengan atau tanpa makanan,” kata Robert Kushner, profesor emeritus ilmu penyakit dalam pada Divisi Endokrinologi, Metabolisme, dan Kedokteran Molekuler Northwestern Medicine.

Satu dari Sepuluh Peserta Berhenti di Tengah Jalan

Sebanyak 10,4 persen peserta menghentikan pengobatan sebelum uji selesai. Angka itu ikut membentuk rencana tahap lanjutan: penambahan dosis akan diperlambat agar tubuh peserta punya waktu menyesuaikan diri.

“Kami tidak menemukan hal yang mengkhawatirkan; tidak ada sinyal keamanan baru. Kami menemukan dosis yang tampaknya efektif, dan peningkatan dosis akan diperlambat lagi ketika kami masuk ke uji fase III untuk meningkatkan toleransi,” ujar Kushner.

Uji fase 2b berada di tengah rantai pengujian obat, bukan di ujungnya. Jumlah pesertanya masih ratusan, bukan ribuan, dan pengamatannya berhenti pada bulan kesembilan. Pertanyaan yang belum terjawab justru yang paling menentukan bagi penderita diabetes tipe 2 dan obesitas: apakah bobot yang turun bertahan setelah obat dihentikan, dan bagaimana efeknya pada kesehatan jantung dalam hitungan tahun.

Rancangan uji ini tersamar ganda, artinya baik peserta maupun peneliti tidak mengetahui siapa yang menerima obat dan siapa yang menerima plasebo sampai data ditutup. Penempatan peserta ke masing-masing kelompok dilakukan secara acak, sehingga selisih hasil antar kelompok lebih kecil kemungkinannya berasal dari perbedaan karakter peserta.

Laporan Ilmiahnya

Hasil uji itu dipaparkan Julio Rosenstock, peneliti di University of Texas Southwestern Medical Center, Dallas, bersama Ildiko Lingvay dari kampus yang sama, Donna Ryan dari Pennington Biomedical Research Foundation, Ania M. Jastreboff dari Yale School of Medicine, dan Robert Kushner dari Northwestern University Feinberg School of Medicine, lewat artikel Oral small molecule GLP-1 receptor agonist aleniglipron in people with overweight or obesity: a randomized, double-blind, placebo-controlled phase 2b trial dalam jurnal Nature Medicine pada 2026.

Peserta uji direkrut dari kalangan orang dewasa dengan berat badan berlebih atau obesitas, tanpa diabetes. Perusahaan pengembangnya, Structure Therapeutics, berkantor di South San Francisco dan menempatkan sebagian penulis pendamping dalam daftar penulis artikel tersebut.

Baca Juga

Guru mendampingi anak-anak belajar di ruang kelas
Psikolog UMM Ingatkan Guru Tak Buru-buru Melabeli Anak Berkebutuhan Khusus
Ilustrasi pemeriksaan citra rontgen dada oleh tenaga medis
UGM Kembangkan TBScreen.AI, Alat Bantu Skrining Tuberkulosis untuk Wilayah 3T
Ilustrasi mahasiswa kedokteran berdiskusi di lingkungan kampus
Mahasiswa Kedokteran USK Juara II Internasional lewat Meta-Analisis Terapi PTSD Pengungsi
Ilustrasi tabung reaksi di laboratorium penelitian farmasi
Riset Dosis Antibiotik Bayi Sepsis Antar Dosen Farmasi UNAND Raih Penghargaan ICHS 2026
Segelas susu sapi segar di atas kain putih
Tiga Sajian Susu Penuh Lemak Sehari Tak Menambah Berat Badan
Daun ganja hijau difoto dari jarak dekat
Pengguna Ganja Rutin Bangun dengan Kadar Kortisol Lebih Tinggi