Der Vorleser dan Luka Sejarah yang Diwariskan ke Generasi Baru

Ilustrasi sebuah buku terbuka di atas kursi berlengan.

Ilustrasi sebuah buku terbuka di atas kursi berlengan. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Di ruang sidang, seorang jaksa mengusulkan agar saksi ahli membandingkan tulisan tangan terdakwa dengan tulisan pada sebuah laporan. Terdakwa itu, Hanna Schmitz, memotong: “Anda tidak perlu memanggil saksi ahli. Saya mengaku bahwa saya yang menulis laporan itu.” Ia berbohong. Hanna buta huruf dan tidak mungkin menulis apa pun. Ia memilih dihukum lebih berat daripada mengaku tidak bisa membaca.

Adegan dari novel Der Vorleser itu menjadi salah satu tumpuan analisis Hilda Septriani dan Kamelia Gantrisia, dua dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, dalam artikel Memori Kolektif dan Trauma Sejarah dalam Novel Der Vorleser Karya Bernhard Schlink yang terbit di jurnal Puitika Vol. 22 No. 1 pada 2026. Jurnal itu dikelola Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Padang. Naskahnya diajukan pada 19 April 2026, direvisi pada 6 Mei, diterima dua hari kemudian, dan diterbitkan pada 2 Juni 2026.

Novel dari Seorang Hakim yang Jadi Novelis

Der Vorleser terbit pada 1995, ditulis Bernhard Schlink yang lahir pada 1944 di Bielefeld, Jerman. Schlink bukan sastrawan tulen: ia profesor hukum dan mantan hakim. Latar itu, tulis kedua peneliti, memengaruhi cara ia menyusun cerita, terutama dalam menghadirkan dilema moral yang berlapis. Novel ini meraih Hans Fallada Prize pada 1998 dan diterjemahkan ke puluhan bahasa.

Baca juga: Stasiun 819 Meter, Alasan Rumah Sakit Petronella Dibangun di Pinggir Kota

Kisahnya bertumpu pada hubungan antara Michael Berg, remaja laki-laki dari generasi yang lahir setelah perang, dan Hanna Schmitz, perempuan dewasa yang belakangan ketahuan pernah menjadi penjaga kamp konsentrasi. Dalam persidangan diungkap bahwa Hanna sempat bekerja di Siemens Berlin sebelum masuk SS pada musim gugur 1943. Ketika hakim bertanya apakah ia masuk secara sukarela, ia menjawab ya. Ketika ditanya mengapa, ia diam.

Penelitian ini memakai cara kerja kualitatif dengan metode analisis historis-sosiologis atas teks sastra, bersandar pada gagasan René Wellek dan Austin Warren bahwa pendekatan sosiologis dapat memperlakukan sastra sebagai dokumen sosial. Sumber data utamanya satu: novel Der Vorleser edisi 1995. Yang dianalisis adalah struktur naratif, penokohan, dan kutipan-kutipan teks yang dianggap relevan.

Menolak Pembagian Pelaku Jahat dan Korban Baik

Temuan pertama menyangkut cara Schlink menggambarkan Hanna. “Schlink merepresentasikan Hanna bukan sebagai tokoh kejam yang antagonis, melainkan justru digambarkan sebagai tokoh yang rentan, malu, dan memiliki keterbatasan personal yang ditutup rapat-rapat olehnya,” tulis Hilda Septriani dan Kamelia Gantrisia. Menurut keduanya, lewat cara itu Schlink menolak penyederhanaan sejarah yang membelah dunia menjadi dua kubu: pelaku jahat di satu sisi, korban baik di sisi lain.

Penolakan itu menular ke tokoh yang lain. Michael, yang pernah mencintai Hanna sebelum tahu masa lalunya, terjebak di antara dua dorongan yang saling meniadakan. Dalam terjemahan yang dibuat kedua peneliti dari halaman 128 novel itu, Michael berkata: “Aku ingin memahami sekaligus menghakiminya. Namun, hal itu terlalu menakutkan untuk dilakukan. Ketika aku mencoba untuk memahaminya, aku merasa tidak bisa lagi menghakiminya sebagaimana seharusnya.” Kalimat aslinya berbahasa Jerman.

Untuk membaca pergolakan itu, kedua peneliti memakai pandangan filsuf Paul Ricoeur bahwa ingatan historis tidak pernah hadir secara netral, melainkan selalu terikat pada emosi, identitas, dan kebutuhan menafsir ulang masa lalu. Hanna, dalam pembacaan itu, bukan hanya terdakwa dalam peristiwa sejarah, tetapi juga sosok yang bentuknya ditentukan oleh cara Michael mengingat dan menilainya.

Latar peristiwanya adalah masa ketika Jerman baru saja kalah pada 1945. Mengutip Iman Santoso, kedua peneliti menulis bahwa persoalan pascaperang bukan hanya soal dampak perang, melainkan juga kekosongan moral — terutama bagi generasi muda yang mempersoalkan peran orang tua mereka pada era Nazi. Mengutip Sudarmaji, mereka menambahkan bahwa masyarakat Jerman ketika itu tidak hanya harus membangun kembali kota-kotanya, tetapi juga hati nurani yang rusak akibat perang dan propaganda. Novel ini, dalam pembacaan keduanya, menempatkan pergulatan sebesar itu ke dalam hubungan dua orang.

Diam yang Berbicara Lebih Keras

Bagian persidangan diperlakukan sebagai titik puncak. Hanna mengaku menulis laporan yang tak mungkin ia tulis, dan Michael — satu-satunya orang yang tahu rahasia itu — memilih tidak bersuara. Ia tidak membela Hanna, tetapi juga tidak membeberkan keterangan yang bisa meringankan hukumannya.

Baca juga: Istana Kesultanan Serdang Jadi Perumahan, Koordinatnya Meleset 10 Km

Kedua peneliti membaca pilihan itu lewat gagasan Ernestine Schlant tentang bahasa kesunyian dalam sastra Jerman Barat pascaperang, yakni bahwa kesunyian bisa menjadi simbol kebenaran yang lebih jujur ketimbang pengakuan lisan, terutama ketika seseorang menanggung beban keterlibatan dan rasa malu yang tak tertanggungkan. Dari sini mereka menarik persoalan yang lebih besar: pertentangan antara hukum dan keadilan. Mengutip Titon Slamet Kurnia, hubungan keduanya diibaratkan aliran sungai dari hulu ke hilir — tetapi dalam praktiknya, putusan yang sah secara formal bisa melahirkan ketidakadilan secara moral. Hanna divonis bukan berdasarkan kebenaran yang utuh, melainkan berdasarkan pernyataan formal yang tidak diuji lebih dalam.

Membaca sebagai Alegori

Judul novel itu sendiri berarti “si pembaca” atau orang yang membacakan. Michael memang rutin membacakan karya sastra untuk Hanna, dan aktivitas itu diperlakukan kedua peneliti sebagai lambang hubungan antara pengetahuan, bahasa, dan kesadaran moral. Kebalikannya juga dibaca sebagai lambang. “Buta huruf yang dialami Hanna dapat dibaca sebagai alegori ketidakmampuan generasi lama untuk ‘membaca’ dimensi moral dari tindakan mereka sendiri pada masa Nazi,” tulis keduanya.

Tafsir semacam ini perlu ditempatkan pada tempatnya: ia berlaku untuk tokoh rekaan di dalam sebuah novel, bukan kesimpulan tentang perilaku warga Jerman sungguhan. Yang diteliti adalah teks sastra dan cara teks itu membangun makna, bukan data sejarah atau data psikologis.

Trauma yang Datang Terlambat

Bagian kedua analisis menyoroti jarak antargenerasi. Michael mewakili orang Jerman yang lahir setelah perang, yang tidak mengalami Holocaust secara langsung tetapi tumbuh di bawah bayang-bayangnya. Pertanyaan yang menghantuinya — sejauh mana sebuah generasi harus menanggung kesalahan generasi sebelumnya — disebut kedua peneliti sebagai pertanyaan yang juga hidup di masyarakat Jerman pascaperang.

Salah satu kutipan yang mereka bedah memperlihatkan betapa ruwetnya perasaan itu. Dalam terjemahan keduanya atas halaman 79 novel tersebut, Michael mengaku: “Aku terkejut. Aku menyadari bahwa selama ini aku menganggap penahanan Hanna sebagai sesuatu yang wajar dan benar. Bukan karena dakwaan, beratnya tuduhan, atau kuatnya kecurigaan — yang bahkan belum sepenuhnya kupahami sendiri — melainkan karena dengan berada di dalam sel, ia keluar dari duniaku, keluar dari hidupku.” Kelegaan yang memalukan itu, bagi kedua peneliti, adalah wajah lain dari beban yang diwariskan.

Di sini mereka memakai gagasan Cathy Caruth bahwa trauma kerap muncul secara tertunda, tidak selesai pada saat peristiwanya terjadi, lalu kembali menghantui pada masa sesudahnya. Juga gagasan Aleida Assmann bahwa masyarakat modern menyimpan masa lalu yang traumatis lewat memori kultural: arsip, pendidikan, monumen, dan karya sastra. Dalam kerangka itu, novel diperlakukan sebagai salah satu wadah memori tersebut — jalan bagi generasi yang tidak mengalami peristiwanya untuk mengaksesnya.

Yang menarik, kedua peneliti menekankan bahwa trauma dalam novel ini tidak ditampilkan lewat ledakan perang atau kekerasan fisik, melainkan lewat kebisuan, jarak emosional, dan kegagalan tokoh-tokohnya membangun hubungan dengan orang lain. Michael digambarkan hidup dengan keterputusan emosional, sementara Hanna memilih menyembunyikan identitasnya sampai akhir. “Gambaran kedua tokoh tersebut melambangkan bahwa trauma sejarah tidak selalu hadir sebagai cerita yang disebarluaskan, tetapi justru melalui keheningan mendalam yang perlu diinterpretasikan lebih lanjut,” tulis Hilda Septriani dan Kamelia Gantrisia.

Baca juga: Ketika Haji Merah Menyerang Muhammadiyah dari Mimbar dan Koran

Celah yang Diisi dan Batas yang Tidak Dinyatakan

Alasan penelitian ini dikerjakan dijelaskan lewat pemetaan riset terdahulu. Di luar Indonesia, Der Vorleser sudah dibahas Erin McGlothlin dan Anne Fuchs dalam kerangka sastra Holocaust generasi kedua, Gökhan Kişmir lewat konsep kesalahan kolektif atau kollektive Schuld, dan William Collins Donahue lewat kritik etis atas cara Schlink menggambarkan pelaku Holocaust. Di Indonesia, kajian atas novel ini cenderung berkutat pada psikologi tokoh dan struktur penokohan serta latar, keduanya berupa skripsi. Celah yang diklaim kedua peneliti adalah kajian berbahasa Indonesia yang secara tegas menggabungkan teori memori kolektif dengan konsep trauma sejarah.

Yang tidak ada dalam artikel ini adalah bagian yang memaparkan keterbatasan penelitiannya sendiri. Kedua penulis tidak menuliskannya, sehingga pembaca perlu menakarnya sendiri: bahan yang dianalisis hanya satu novel, kutipan yang dibahas dipilih oleh penelitinya, dan seluruh kesimpulan bersifat tafsir atas karya fiksi. Simpulan yang mereka tarik pun dirumuskan pada tataran itu — bahwa Der Vorleser memperlihatkan sastra bisa bekerja sebagai medium memori kultural yang menjaga ingatan bersama sekaligus mendorong dialog antargenerasi, dan bahwa menghadapi sejarah secara jujur adalah langkah untuk memahami luka masa lalu secara lebih manusiawi.

Tag:

Baca Juga

Ilustrasi perahu layar tradisional berlayar di muara sungai berkabut di pesisir barat Kalimantan
Arsip 1814: Bajak Laut Sambas Dipimpin Sultannya
Ilustrasi kumpulan naskah tulisan tangan kuno.
Saat Bangsawan Sunda Bangga Bisa Berbahasa Jawa Kuno
Ilustrasi tumpukan koran lama yang menguning termakan usia.
Doenia Baroe 1930 dan Suara Perempuan Peranakan
Ilustrasi pesisir berbatu Jepang yang berkabut, latar tempat kisah persekusi umat Kristen pada abad ke-17.
Konflik Iman Kakure Kirishitan di Film Silence
Ilustrasi pahatan aksara kuno pada permukaan batu.
Dua Prasasti yang Memundurkan Umur Bahasa Jawa Kuno
Ilustrasi tumpukan majalah lawas di meja kayu.
Manglé, Majalah Sunda yang Bertahan Enam Puluh Delapan Tahun