Cekricek.id — Setiap tanggal 1 Sura, di lereng Gunung Lawu di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, orang berkumpul untuk diruwat. Yang datang biasanya mereka yang dalam kepercayaan Jawa disebut sukerta: anak tunggal, anak kembar, orang dengan riwayat kelahiran yang dianggap tidak biasa. Upacaranya berlangsung di kompleks percandian yang usianya hampir enam abad. Dan di dinding candi itu, terpahat sejak abad ke-15, ada relief yang menceritakan hal yang kurang lebih sama: seorang dewi yang dikutuk menjadi raksasa, lalu dibersihkan kembali menjadi dirinya semula.
Hubungan antara pahatan batu itu dan ritual yang masih hidup ditelusuri Muhammad Heno Wijayanto, I Made Suparta, dan Turita Indah Setyani dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia lewat artikel Tracing the transformation of the “ruwatan” rituals in Java from the fifteenth to the twenty-first century (Melacak transformasi ritual ruwatan di Jawa dari abad ke-15 sampai abad ke-21), yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 26 No. 3 pada 2025. Mereka menggabungkan dua jenis bahan yang biasanya diperiksa terpisah: relief candi dan naskah mantra.
Gunung Tempat Para Dewa Membersihkan Diri
Gunung Lawu punya riwayat panjang dalam teks Jawa. Dalam Tantu Panggĕlaran, kitab tentang pembentukan Pulau Jawa, gunung itu disebut sebagai tempat keluarga dewa bertapa untuk kembali ke wujud asal mereka. Bhaṭāra Kālarudra kembali menjadi Bhaṭāra Guru, Dewi Dūrga kembali menjadi Dewi Umā, dan Bṛnggiriṣṭi kembali menjadi Kumāra. Tapa untuk memulihkan wujud semula itu, menurut para penulis, dapat dipahami sebagai bentuk ruwatan. Barangkali karena cerita itulah Lawu tetap menjadi tempat ruwatan yang terkenal sampai sekarang.
Baca juga: Candi Sukuh, Kuil Majapahit Tanpa Arca Raja di Lereng Lawu
Sejak setidaknya abad ke-15, lereng Lawu memang dihuni komunitas keagamaan yang dalam kesusastraan zaman itu disebut maṇḍala. Komunitas semacam ini biasanya berdiri di tempat terpencil — hutan, puncak bukit, lereng gunung — yang sunyi dan tenang. Jejaknya berupa candi: Sukuh, Cetha, Planggatan, dan Kethek. Pada masa Majapahit, fungsi candi terbagi dua, yaitu sebagai tempat pemujaan dewa dan raja, serta sebagai bangunan berteras tempat para pertapa melakukan puja. Candi-candi gunung abad ke-15 termasuk jenis kedua, dan disebut maṇḍala kadewaguruan, yaitu komunitas yang dipimpin tokoh bergelar dewaguru.
Candi Sukuh dinilai memenuhi syarat itu. “Penyebutan Candi Sukuh sebagai maṇḍala kadewaguruan bukan dugaan semata, melainkan didasarkan pada terpenuhinya sejumlah kriteria arkeologis dan tekstual,” tulis Wijayanto, Suparta, dan Setyani; kalimat aslinya berbahasa Inggris. Kriteria itu meliputi lokasi yang jauh dari permukiman, halaman yang cukup luas untuk menampung komunitas, serta temuan benda keagamaan dan tembikar yang menandakan kegiatan bersama dalam jangka panjang. Ditambah lagi, sebuah prasasti di situs itu menyebut upacara penobatan seorang pendeta bernama Begawan Ganggasudi.
Angka Tahun yang Disamarkan Jadi Gambar
Candi Sukuh selesai dibangun sekitar abad ke-15. Penanggalannya diketahui dari candrasengkala, yaitu angka tahun yang disamarkan menjadi rangkaian kata atau gambar. Salah satunya gapura buta mangan wong, gerbang-raksasa-memakan-orang, yang menunjuk tahun 1359 Śaka atau 1437 Masehi. Ada pula goh wiku anahut buntut, sapi-pendeta-menggigit-ekor, dan goh wiku tedha srengenge, sapi-pendeta-memakan-matahari, yang keduanya menunjuk 1379 Śaka atau 1457 Masehi. Rentang angka tahun di reliefnya berkisar 1359 sampai 1381 Śaka, kira-kira 1437 sampai 1459 Masehi.
Rentang itu berdekatan dengan masa penulisan teks-teks yang diperiksa. Naskah Bhīma Swarga diperkirakan digubah pada abad ke-15, sedangkan Aji Saraswati pada abad ke-16 di Gunung Lawu. Dari katalog naskah Merapi-Merbabu, para penulis mendaftar lima naskah Bhīma Swarga dan enam naskah Aji Saraswati. Keadaannya jauh dari ideal: satu naskah tinggal serpihan teks dan rusak parah, satu lagi kehilangan sekitar dua lembar di awal dan satu lembar di akhir yang justru memuat kolofonnya, dan kondisi dua naskah lain sama sekali tidak diketahui. Suntingan yang dipakai dibangun dengan saling menambal antarnaskah.
Satu naskah menonjol. Naskah bernomor 10 L 218 adalah induk bagi naskah-naskah lain dalam korpus itu, dan kolofonnya menyebut tempat penulisan ri sidatapa sang hyang lawu, yang kira-kira berarti di tempat tapa yang berhasil, Sang Hyang Lawu. Letak Sidatapa sampai kini tidak diketahui dan mungkin kini bernama lain. Naskah itu memuat empat kolofon bertanggal, tanda bahwa ia disalin sedikitnya empat kali: 1478 Śaka atau 1556 Masehi, 1481 Śaka atau 1559 Masehi, lalu 1512 dan 1513 dalam penanggalan Merapi-Merbabu yang setara dengan 1590 dan 1591 Masehi. Yang menarik, naskah itu ditulis di Lawu, sekitar 100 kilometer dari kawasan Merapi-Merbabu tempat ia akhirnya tersimpan.
Mantra untuk Mengembalikan Seorang Dewi
Relief Sudamala di Candi Sukuh menceritakan pembersihan Bhaṭārī Durgā oleh Sadewa, bungsu Paṇḍawa, yang karena jasanya diberi nama Sudamala. Menurut ceritanya, Umā dikutuk suaminya, Bhaṭāra Guru, menjadi Durgā. Ia digambarkan bertaring, berambut kusut, membawa golok, diiringi bidadari yang ikut dikutuk menjadi raksasa. Relief berikutnya menampilkan Durgā yang telah kembali menjadi Umā, dengan para pengiring yang juga pulih ke bentuk semula.
Yang selama ini kurang tersambung adalah bagaimana ritual itu sebenarnya dijalankan. Teks-teks naratif Jawa Pertengahan hanya memuat ruwatan sebagai jalan cerita, tanpa perincian praktik dan mantranya. Naskah Aji Saraswati-lah yang memuat rumusannya. Dalam salah satu bagian, prosesi ruwatan Durgā digambarkan lengkap: gerbang yang dihias, rangkaian bunga, kendi permata berisi air, dupa, arak-arakan yang dipimpin pendeta, brahmana, dan resi dari kalangan Siwa maupun Buddha, disertai mantra dan bunyi genta yang dipukul bergantian. Tujuannya disebut bukan hanya memurnikan sang dewi, melainkan juga membersihkan desa, tanah, hutan, dan kuburan.
Bagian yang paling tidak terduga adalah yang berjudul Pawiwidaren, yaitu cara menjadi bidadari. Untuk kembali menjadi Umā dengan kecantikan perempuan ideal, Durgā harus memiliki ciri tujuh bidadari sekaligus: rupa seperti Suprabhā, tubuh seperti Nilottamā, perawakan seperti Tunjung Biru, watak seperti Sulasih, keluwesan seperti Lengleng Madanu, kearifan seperti Gagar Mayang, dan sifat keperempuanan seperti Menaka. Menurut para penulis, ketujuh ciri itu bukan hanya soal fisik, melainkan juga mutu moral dan spiritual.
Baca juga: Rayap di Tiang 1771: Klenteng Tertua Semarang Bertahan dari Sumbangan Umat
Anagram yang Bertahan Enam Abad
Bagian paling mengesankan dari pelacakan ini adalah sebuah mantra bernama rajah Kāla Cakra. Bunyinya berupa deretan kata yang tersusun sebagai anagram — bukan anagram huruf, melainkan anagram suku kata, sesuai sifat aksara Jawa yang berbasis suku kata. Kata pertama melambangkan segala hal buruk, dan kata kedua adalah suku katanya yang dibalik, melambangkan segala hal baik. Bunyi yamaraja jaramaya, misalnya, tersusun begitu.
Para penulis membariskan tujuh versi mantra ini berdampingan: dari Bhīma Swarga tradisi Jawa Barat, dua versi tradisi Merapi-Merbabu, lalu Serat Hong Ilaheng, Ruwatan Tiyang Adang Karubuhan Dandang, Ruwatan Murwakala Gagrak Surakarta, dan Ruwatan Murwakala Cirebon. Namanya berubah-ubah — Sastra Binedati, Setra Bedhati, Sasra Bedati — dan ejaannya bergeser dari satu naskah ke naskah lain, tetapi pola simetris dan harmoni bunyinya bertahan. Dalam sebagian besar sumber, rajah itu digambarkan diterakan pada dada Kāla.
Pada masa Jawa Baru, mantra yang semula hanya bunyi mulai diberi tafsir. Dalam Ruwatan Murwakala Gagrak Surakarta suntingan M. Thoyib, tiap larik dijelaskan artinya. Larik terakhir berbunyi: “Heh kang dadi ama, yogya asiha, sing sapa amemungsuhi, maliha dadi asih.” Kira-kira: siapa yang menjadi hama, hendaklah ia mengasihi; siapa yang memusuhi, semoga berbalik menjadi kasih. Pola yang sama berlaku untuk larik-larik lain: yang membuat lapar diminta mengenyangkan, yang membuat miskin diminta mencukupkan, yang berniat mengecewakan diminta justru melegakan.
Perahu yang Terbuat dari Tiga Makhluk Terbang
Naskah lain dalam korpus yang sama, Samadhining Anglayarakĕn Anak Mitra, memuat perumpamaan yang tidak kalah kaya. Tiga makhluk terbang dalam mitologi — Garuḍa kendaraan Wiṣṇu, Gatayu penyelamat Sinta, dan Wilmana kendaraan Rawana — diandaikan sebagai bagian sebuah perahu. Garuḍa menjadi lambung perahu, Gatayu menjadi kemudi, Wilmana menjadi dayung, dan perahu itu sendiri melambangkan tubuh manusia. Ketiganya diminta membersihkan tubuh dari dasamala, sepuluh kekotoran, serta dari penyakit dan segala penghalang. Ritualnya dilakukan tiga kali semalam sambil menahan napas.
Frasa anak mitra akeh, anak dengan banyak kawan, menurut para penulis merujuk pada praktik ruwatan massal — persis yang sampai sekarang digelar di kompleks Candi Sukuh pada bulan Sura. Di candi itu memang berdiri arca Garuḍa, dan pada gerbangnya ada relief Garuḍa mencengkeram ular. Adegan itu berasal dari cerita Garuḍeya dalam Ādiparwa: pembebasan Dewi Winata, ibu Garuḍa, yang diperbudak Dewi Kadru, ratu para ular. Ular melambangkan kejahatan, dan perjuangan Garuḍa adalah usaha membersihkannya.
Dari Ruwatan Orang Mati ke Ruwatan Orang Hidup
Pergeseran terpenting yang dicatat artikel ini bukan pada bunyi mantranya, melainkan pada sasarannya. Pada latar Siwais, rajah Kāla Cakra dipakai dalam ritual pembersihan bagi orang yang sudah meninggal, untuk melepaskan arwah dari belenggu Kāla dan Yama dan mengantarnya ke surga. Akarnya ada pada cerita Bhīma Swarga, tentang Bhīma yang membebaskan arwah kedua orang tuanya, Pandu dan Madri, yang terperangkap di neraka.
Dalam Serat Hong Ilaheng dan lakon wayang Murwakala, yang lebih dekat dengan tradisi Islam, fungsi itu meluas. Ruwatan tidak lagi hanya membersihkan arwah orang mati, tetapi juga menjadi tindakan pencegahan bagi yang masih hidup — terutama mereka yang tergolong sukerta: anak tunggal lelaki ontang-anting atau perempuan unting-unting, kembar dua lelaki uger-uger lawang atau dua perempuan kembang sepasang, dan mereka yang kelahirannya dianggap tidak lazim. Unsur mantra dan doanya tetap, fungsinya yang bertambah. Gagasan yang menaunginya adalah memayu hayuning bawana, merawat keselamatan dunia, yang mencakup manusia, alam, dan alam gaib sekaligus.
Baca juga: Ketika Haji Merah Menyerang Muhammadiyah dari Mimbar dan Koran
Kesimpulan yang ditarik para penulis dinyatakan dengan hati-hati. “Relief-relief ini bukan sekadar bentuk ekspresi artistik; sebaliknya, relief-relief itu mengisyaratkan suatu sistem pengetahuan ritual dan mencerminkan fungsi candi sebagai ruang sakral untuk memulihkan keseimbangan kosmos,” tulis Wijayanto, Suparta, dan Setyani dalam kalimat berbahasa Inggris yang diterjemahkan di sini. Kata mengisyaratkan dipilih dengan sadar. Sepanjang artikel, kaitan antara relief dan naskah disebut sebagai hipotesis: pembangunan Candi Sukuh untuk keperluan ruwatan dinyatakan diduga terilhami cerita-cerita pada reliefnya, bukan dibuktikan.
Keterbatasannya pun cukup terbuka. Naskah yang dipakai sebagian rusak, sebagian tanpa kolofon, dan dua di antaranya tidak diketahui kondisinya; letak Sidatapa yang disebut kolofon tetap gelap; dan tidak ada bukti tertulis dari abad ke-15 yang secara langsung menyatakan bahwa upacara ruwatan pernah digelar di halaman Candi Sukuh. Yang berhasil ditunjukkan adalah kesejajaran — antara adegan di batu, rumusan mantra di lontar, dan lakon wayang yang masih dipentaskan — dan kesejajaran itu sudah cukup panjang umurnya untuk membuat orang berhenti sejenak. Enam abad, satu anagram, dan sebuah gunung yang sejak awal dipercaya sebagai tempat orang membersihkan diri.
















