- Alasan paling sering untuk berhenti menyusui adalah ASI yang dirasa tidak cukup, dengan 68 rujukan terkode di seluruh transkrip, tertinggi di antara tema lain.
- Hambatan pekerjaan menempati urutan kedua dengan 64 rujukan terkode, dan inilah satu-satunya tema yang muncul di semua kelompok partisipan.
- Ketika ditanya soal jalan keluar, sebagian besar ayah, ibu, dan tenaga kesehatan justru menolak gagasan membayar ibu supaya menyusui.
- Penelitian hanya mencakup empat distrik sehingga tidak mewakili seluruh Laos dan tidak bisa digeneralisasi ke semua orang tua di negeri itu.
Daftar Isi
- Dari 19 Persen pada 2000 ke Target 60 Persen pada 2025
- Wallenborn 2021 dan Jurang antara Kota dan Desa
- Sonephet dan Rekan tentang ASI yang Dirasa Tidak Cukup
- Kerja Pagi Sampai Pukul Delapan Malam, Dulu Tidak Begitu
- Susu Formula dan Status Sosial di Masyarakat Modern
- Relton 2018 dan Uang yang Ditolak Para Orang Tua
- Catatan yang Tidak Selaras dalam Naskah Sonephet
Pada awal abad ini, bayi yang hanya menerima ASI pada enam bulan pertamanya masih menjadi minoritas di Laos. Survei nasional tahun 2000 mencatat angkanya sekitar 19,03 persen, dan survei-survei berikutnya memperlihatkan kenaikan bertahap sampai sekitar 44,89 persen pada 2017. Di ibu kota, Vientiane, angkanya justru jauh di bawah itu: pada tahun yang sama kurang dari seperempat ibu di sana menyusui secara eksklusif.
Gambaran itu menjadi titik tolak Souliviengkham Sonephet, Rebecca Reno, Günther Fink, Sengchanh Kounnavong, dan Jordyn T. Wallenborn dalam People who have money feed formula to their infants: a qualitative study of exclusive breastfeeding barriers and potential interventions in Lao People’s Democratic Republic, yang terbit di BMC Public Health volume 26 nomor 1827 tahun 2026. Mereka berasal dari Lao Tropical and Public Health Institute, University of California Berkeley, serta Swiss Tropical and Public Health Institute dan University of Basel.
Judul naskah itu dipinjam dari ucapan seorang partisipan, dan kalimat tersebut merangkum ketegangan yang mereka temukan. Bagi sebagian warga Vientiane, susu formula bukan sekadar pengganti ketika ASI dirasa kurang, melainkan juga tanda kehidupan modern yang mampu dibeli oleh keluarga berpunya, sementara keluarga pekerja yang kekurangan uang terpaksa memerah ASI supaya ibunya tidak absen dari pekerjaan.
Dari 19 Persen pada 2000 ke Target 60 Persen pada 2025
Sonephet dan rekan-rekannya menempatkan persoalan ini dalam anjuran Organisasi Kesehatan Dunia, yakni ASI eksklusif selama enam bulan pertama lalu menyusui berlanjut sampai dua tahun atau lebih bersama makanan pendamping. Mereka juga mengutip perkiraan Victora dan kawan-kawan pada 2016 bahwa menyusui, baik eksklusif maupun lanjutan, mencegah sekitar 823.000 kematian anak balita setiap tahun.
Angka Laos dalam naskah ini disusun dari survei ke survei. Merujuk kajian Bal dan kawan-kawan tahun 2022, angka ASI eksklusif diperkirakan sekitar 19,03 persen pada 2000, 26,87 persen pada 2006, 40,67 persen pada 2011/2012, dan 44,89 persen pada 2017. Kajian yang sama mencatat wilayah tempat tinggal, etnis, indeks kekayaan, dan umur anak berkaitan dengan praktik tersebut.
Di tingkat ibu kota, survei indikator sosial Laos tahun 2017 yang dikutip para peneliti menunjukkan hanya 21,0 persen ibu di Vientiane yang menyusui secara eksklusif, dan kurang dari separuh, yaitu 42,3 persen, bayinya mendapat ASI secara predominan pada umur nol sampai lima bulan. Kementerian Kesehatan Laos lalu meluncurkan kampanye nasional 2021–2025 untuk menaikkan angka ASI eksklusif dari 45 persen menjadi 60 persen.
Wallenborn 2021 dan Jurang antara Kota dan Desa
Upaya sebelumnya tidak berjalan mulus. Naskah ini mencatat intervensi bersama Kementerian Kesehatan Laos, Uni Eropa, dan UNICEF untuk mendorong pendidikan serta dukungan menyusui bagi tenaga kesehatan, ibu, dan keluarga, yang dinilai tidak berhasil. Menurut para penulis, kegagalan itu kemungkinan dipengaruhi oleh perbedaan praktik menyusui di komunitas perkotaan dan perdesaan yang belum diperhitungkan dengan cermat.
Perbedaan itu sebelumnya dipetakan oleh Wallenborn dan kawan-kawan pada 2021, yang menemukan ibu di perdesaan lebih mungkin menyusui dibanding ibu di perkotaan. Selisih itu berkaitan dengan tingkat pendidikan, indeks kekayaan, tempat tinggal, dan struktur sosial-ekonomi yang lebih luas. Studi baru ini menggali hambatan itu dari sisi warga kota, lewat penuturan orang tua, tenaga kesehatan, dan tokoh komunitas.
Pertanyaan itu diajukan di empat distrik, yaitu Chanthabuly, Sikhottabong, Sangthong, dan Pakgnum, kepada 23 ibu dan 21 ayah yang mempunyai anak di bawah dua tahun, ditambah tenaga kesehatan, anggota Lao Women’s Union, pemimpin komunitas, serta para tetua dan nenek. Sebagian besar partisipan berasal dari kelompok etnis Lao Loum, sehingga suara kelompok etnis lain nyaris tidak terwakili.
Baca juga Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh
Sonephet dan Rekan tentang ASI yang Dirasa Tidak Cukup
Alasan paling sering untuk berhenti menyusui adalah ASI yang dirasa tidak cukup, dengan 68 rujukan terkode di seluruh transkrip, tertinggi di antara tema lain. Perasaan kurang itu kerap muncul segera setelah melahirkan, ketika sebagian partisipan mengaku tidak tahu cara memulai produksi ASI. Tenaga kesehatan mencatat bahwa persepsi ASI kurang pada masa pascapersalinan sering berujung pada tambahan susu formula.
Kekhawatiran yang sama muncul lagi ketika bayi tumbuh, antara satu dan sembilan bulan setelah persalinan. Para partisipan menyebut aneka penyebab, dari faktor keturunan, usia ibu yang lebih tua, persalinan sesar, sampai kembali bekerja dengan pompa yang tidak memadai atau tanpa waktu dan ruang untuk memerah. Seorang anggota Lao Women’s Union di Chanthabuly menganggap gejala ini sebagai sesuatu yang baru.
“...ASI sekarang tidak cukup. Dulu ibu hanya memberi ASI, tetapi sekarang itu tidak mungkin,” ujar anggota Lao Women’s Union itu dalam kutipan yang aslinya berbahasa Inggris di naskah. Tradisi pascapersalinan juga dikaitkan dengan ASI, karena menurut seorang tenaga kesehatan di Sikhottabong, berbaring di ranjang panas atau dekat api setelah melahirkan diyakini membuat ASI tidak keluar.
Keyakinan tentang makanan dan minuman ikut dicatat. Sebagian partisipan menduga makanan pantangan setelah melahirkan dan kurangnya asupan ibu memengaruhi jumlah ASI, sebagian lagi percaya air hangat menambah ASI sedangkan air dingin menguranginya. Para penulis mengingatkan bahwa angka pada tabel mereka hanya menunjukkan seberapa sering sebuah tema muncul, bukan prevalensi ataupun besar pengaruhnya.
Kerja Pagi Sampai Pukul Delapan Malam, Dulu Tidak Begitu
Hambatan pekerjaan menempati urutan kedua dengan 64 rujukan terkode, dan inilah satu-satunya tema yang muncul di semua kelompok partisipan. Ibu kembali bekerja antara satu sampai enam bulan setelah melahirkan. Seorang partisipan menyebut ibu yang bukan pegawai pemerintah mendapat cuti melahirkan pendek, sehingga tidak cukup waktu untuk menyusui sesuai anjuran, apalagi memerah ASI dan menyimpannya di lemari es.
Keterputusan itu paling terasa pada perempuan yang bekerja jauh dari rumah atau di luar desanya. Menurut seorang informan, kebanyakan dari mereka buruh, sebagian keluarganya sangat miskin, dan ada yang melahirkan kurang dari lima atau enam bulan sebelumnya. Mereka disarankan memerah ASI ke botol, tetapi bila tempat kerjanya sangat jauh dan tidak bisa pulang, bayinya akhirnya diberi susu formula.
Para tetua membandingkan keadaan itu dengan masa muda mereka. Dulu, tutur seorang di antaranya, ada waktu istirahat siang sehingga ibu bisa pulang menyusui bayinya lalu kembali bekerja. Kini orang berangkat pagi dan bekerja sampai pukul delapan malam. Perbandingan lintas generasi ini sejajar dengan keluhan tentang ASI yang dulu dianggap cukup, tetapi kini dirasa tidak lagi memadai.
Susu Formula dan Status Sosial di Masyarakat Modern
Kepraktisan susu formula hanya muncul dalam sembilan rujukan terkode, tetapi dari tema inilah judul naskah lahir. Formula dipandang memberi keleluasaan bagi ibu bekerja, mengurangi beban fisik, bisa diberikan oleh pengasuh lain, dan membuat ibu lebih bebas bepergian. Pandangan ini terutama muncul pada ibu muda, ibu yang baru pertama kali melahirkan, dan keluarga dengan status sosial-ekonomi lebih tinggi.
“Orang yang punya uang memberi bayinya susu formula. Mereka seharusnya tidak memberi susu formula, tetapi menyusui,” kata seorang partisipan yang ucapannya dijadikan judul, dalam kutipan yang aslinya berbahasa Inggris. Ia menambahkan bahwa ini masyarakat modern, orang ingin hidup mudah dan nyaman. Seorang ayah juga menyebut formula membuat istrinya bisa tidur tanpa harus bangun berkali-kali pada malam hari.
Persalinan sesar dan layanan kesehatan menambah lapisan lain. Seorang ibu dari Pakgnum bercerita bayinya terus menangis ketika ia masih berada di ruang operasi, sehingga suaminya membeli susu bubuk dan bayi itu langsung tenang. Dua ibu lain beralih ke formula karena menyusui terasa sakit akibat luka operasi. Para penulis mencatat dukungan praktis setelah sesar terbatas, sehingga menyusui pun terlambat dimulai.
Kutipan paling tajam datang dari seorang tenaga kesehatan di Sangthong. Ia menyebut timnya memberi saran ASI eksklusif sejak pemeriksaan kehamilan, tetapi bila ibu tidak bisa menyusui karena puting datar, mereka menyarankan susu bubuk karena perusahaan susu bubuk beriklan kepada mereka di departemen tersebut. Para penulis mengakui praktik pemasaran seperti itu tidak dinilai secara sistematis dalam studi mereka.
Baca juga Kartu Stiker Bintang Buat Ibu di Myanmar Tuntas Periksa Nifas
Temuan ini diletakkan para penulis dalam rantai riset kawasan. Thepha dan kawan-kawan mencatat kepraktisan formula sebagai penghambat di Thailand, Kim dan Chapman menemukan pengenalan pengganti ASI yang terlalu dini di Vietnam, sementara Phoutthakeo dan kawan-kawan pada 2014 menunjukkan promosi susu formula lintas batas menekan ASI eksklusif di Laos sendiri. Studi dari Tiongkok dan Malaysia menyoroti minimnya dukungan setelah persalinan sesar.
Relton 2018 dan Uang yang Ditolak Para Orang Tua
Ketika ditanya soal jalan keluar, sebagian besar ayah, ibu, dan tenaga kesehatan justru menolak gagasan membayar ibu supaya menyusui. Seorang ayah di Pakgnum menyebutnya tidak masuk akal, seperti menyewa orang untuk menyusui, karena menurutnya hal itu mestinya bergantung pada diri sendiri. Seorang tenaga kesehatan di Sikhottabong khawatir ibu hanya akan patuh selama uangnya masih ada.
Sikap itu berbeda dari bukti yang dikutip naskah. Relton dan kawan-kawan pada 2018 menunjukkan insentif uang menaikkan angka menyusui di Inggris, dan Washio dan kawan-kawan pada 2017 menemukan hal serupa pada ibu Puerto Rico berpenghasilan rendah. Para orang tua di Vientiane lebih memilih iklan di media sosial, pendidikan kesehatan, dan hadiah nonuang seperti mainan anak.
Usul yang paling konkret datang dari seorang ibu di Chanthabuly dan seorang nenek di Sikhottabong, yakni cuti pascapersalinan yang lebih panjang dengan gaji tetap dibayar. Sang nenek bahkan menyebut masa dukungan enam bulan sebagai durasi yang ideal. Kebutuhan akan perhatian petugas kesehatan pada masa nifas juga disejajarkan para penulis dengan temuan Lee dan kawan-kawan tentang ibu pertama kali di Vientiane.
Rangkuman para penulis menempatkan hambatan itu pada struktur, bukan niat. “Temuan kami mengungkap bahwa meskipun banyak partisipan menyatakan dukungan terhadap ASI eksklusif selama enam bulan pertama, mereka menghadapi hambatan yang signifikan dalam praktiknya,” tulis Souliviengkham Sonephet, peneliti Lao Tropical and Public Health Institute, bersama rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Batas studi ini disebut terang oleh para penulisnya. Penelitian hanya mencakup empat distrik sehingga tidak mewakili seluruh Laos dan tidak bisa digeneralisasi ke semua orang tua di negeri itu. Partisipan didominasi etnis Lao Loum, subjektivitas responden bisa menimbulkan selisih, dan bias ingin terlihat baik mungkin memengaruhi jawaban tenaga kesehatan, pemimpin komunitas, serta tetua. Pandemi COVID-19 juga mengganggu kerja lapangan.
Baca juga Bekal Ibu, Bukan Kuasa Ibu, yang Menentukan Vaksin Anak Filipina
Catatan yang Tidak Selaras dalam Naskah Sonephet
Beberapa bagian naskah bisa diperiksa sendiri oleh pembaca. Abstrak menyebut informan kunci terdiri atas empat tenaga kesehatan, empat anggota Lao Women’s Union, empat anggota komunitas kesehatan desa, dan empat tetua atau nenek. Bagian metode menyebut empat wakil Kementerian Kesehatan, empat tenaga kesehatan, dan empat tetua termasuk guru, sedangkan tabel tidak memuat kolom Kementerian Kesehatan.
Pembahasan juga menyebut insentif uang didukung para informan kunci, padahal bagian hasil mencatat kebanyakan tenaga kesehatan menolaknya. Wilayah studi ditulis Vientiane Capital di pendahuluan tetapi Vientiane Province di metode, dan satu distrik dieja dengan beberapa cara. Tema kekhawatiran soal bentuk payudara tercatat enam kali di tabel, namun tidak dibahas sama sekali di bagian hasil.
Deret angka dari 19,03 persen pada 2000 sampai target 60 persen pada 2025 memperlihatkan arah yang naik, tetapi percakapan di empat distrik Vientiane menunjukkan kenaikan itu tertahan di tempat kerja, di ruang operasi, dan di rak susu bubuk. Dalam rantai riset Laos, studi ini berdiri di antara peta kesenjangan kota-desa yang disusun sebelumnya dan uji intervensi yang oleh para penulisnya sendiri disebut belum dilakukan.















