Codelco Diizinkan Simpan Seluruh Laba, Pertama dalam 50 Tahun

Ilustrasi kawasan tambang tembaga terbuka

Ilustrasi kawasan tambang tembaga terbuka; bukan foto lokasi tambang Codelco di Chile. [Foto: Ilustrasi/Pexels]

Cekricek.id — Pemerintah Chile di bawah Presiden José Antonio Kast mengizinkan perusahaan tambang tembaga negara Codelco menahan seluruh labanya sepanjang 2025, senilai 2,42 miliar dolar AS, untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun.

Dikutip dari UPI, Rabu (12/8/2026), kebijakan ini diambil di tengah beban utang Codelco yang kian menumpuk dan tantangan produksi akibat penuaan sejumlah tambang andalan perusahaan.

Modal Segar untuk Tambang yang Menua

Menteri Ekonomi dan Pertambangan Chile Daniel Mas menjelaskan kebijakan ini bertujuan menjaga keberlangsungan investasi Codelco pada proyek-proyek tambang utamanya. “Codelco perlu mempertahankan investasi pada proyek-proyek pertambangan besarnya, mengatasi penuaan sejumlah deposit, dan memulihkan kapasitas produksinya,” kata Daniel Mas, Menteri Ekonomi dan Pertambangan Chile.

Ketua Codelco Bernardo Fontaine menyambut keputusan ini sebagai modal untuk mengembalikan posisi perusahaan di industri tembaga global. “Tujuan kami adalah Codelco kembali meraih posisi kepemimpinan yang layak diperolehnya,” kata Bernardo Fontaine, Ketua Codelco.

Utang Kotor Tembus 26 Miliar Dolar AS

Direktur Núcleo Minero Álvaro Merino melaporkan utang kotor Codelco telah mencapai sekitar 26 miliar dolar AS, dengan rasio liabilitas terhadap ekuitas sebesar 3,27. Sepanjang 2025, perusahaan menanamkan investasi 5,073 miliar dolar AS meski biaya produksinya naik 4,8 persen menjadi 208,6 sen per pon.

Codelco menguasai 6 persen cadangan tembaga dunia dan memproduksi 1,334 juta metrik ton logam tersebut sepanjang 2025. Perusahaan memproyeksikan produksi 1,331 hingga 1,357 juta metrik ton pada 2026.

Kesenjangan dengan Raksasa Tambang Swasta

Meski menyambut baik kebijakan penahanan laba ini, Dekan Fakultas Ekonomi Universidad Finis Terrae Miguel Vargas Román mengingatkan langkah ini belum cukup untuk menutup jarak Codelco dengan perusahaan tambang internasional. Menurutnya perbaikan posisi keuangan Codelco memang nyata, tetapi “tidak cukup untuk menutup kesenjangan dengan perusahaan-perusahaan tambang internasional,” kata Miguel Vargas Román, Dekan Fakultas Ekonomi Universidad Finis Terrae, dikutip UPI.

Codelco selama puluhan tahun diwajibkan menyetorkan sebagian besar labanya ke kas negara Chile, kebijakan yang berlaku sejak nasionalisasi industri tembaga negara itu pada awal 1970-an. Pergeseran kebijakan ini menandai perubahan signifikan dalam cara Santiago mengelola salah satu aset pertambangan terpentingnya di tengah persaingan global memperebutkan pasokan tembaga untuk transisi energi.

Ketergantungan sejumlah negara pada komoditas tambang untuk menopang ekonomi bukan cerita baru di kawasan berkembang. Cekricek.id sebelumnya memberitakan ekspor tembaga menyumbang 70 persen pendapatan ekspor Zambia namun manfaatnya belum banyak dirasakan warga, sementara upaya sejumlah negara mengolah mineral tambangnya sendiri kerap terganjal keterbatasan infrastruktur hilir. Cekricek.id sebelumnya memberitakan Australia yang memiliki cadangan litium terbesar kedua dunia justru kesulitan mengolah sendiri mineral tersebut akibat dominasi China di industri hilirnya.

Belum ada rincian lebih lanjut soal jadwal evaluasi kebijakan penahanan laba ini maupun berapa lama kebijakan tersebut akan berlaku bagi Codelco ke depan.

Baca Juga

Ilustrasi kapal tanker minyak besar berlayar di laut lepas
Putin Ancam Balas Setimpal Jika Eropa Terus Sita Kapal Rusia
Gedung Parlemen Hungaria di tepi Sungai Danube, Budapest
Hungaria Pilih Hakim yang Pernah Disingkirkan Orban Jadi Presiden Baru
Ilustrasi kapal kargo besar berlayar melintasi laut lepas
Houthi Serang Kapal Kargo Tihamah di Bab al-Mandeb, Enam Tewas
Ilustrasi peluncur rudal militer di bawah langit cerah
Korea Utara Luncurkan Rudal Balistik Jelang Latihan Gabungan Korea Selatan-AS
Ilustrasi jalan pedesaan berdebu di Nigeria
Sepuluh Polisi dan 17 'Bandit' Tewas dalam Baku Tembak di Kebbi, Nigeria
Ilustrasi pintu masuk bekas tambang tua di kawasan berbatu
Longsor Timbunan Tambang di Rustenburg Afrika Selatan Tewaskan 14 Penambang Ilegal