Cekricek.id — Penduduk asli Peru rata-rata membawa sekitar sepuluh salinan gen AMY1, gen yang mengatur produksi enzim pengurai pati di air liur. Jumlah itu dua sampai empat salinan lebih banyak daripada populasi lain yang ikut dibandingkan, dan para peneliti menautkannya dengan ribuan tahun kebiasaan menyantap kentang di dataran tinggi Andes.
Dikutip dari ScienceDaily, Senin (10/8/2026), tim dari University of California, Los Angeles dan University at Buffalo membandingkan susunan gen tersebut pada 83 populasi manusia. Penduduk asli Peru menempati posisi teratas dengan sekitar sepuluh salinan, sementara populasi Maya rata-rata membawa enam salinan.
Gen AMY1 termasuk gen yang jumlah salinannya berbeda-beda antarindividu. Sebagian orang membawa dua salinan, sebagian lain belasan. Semakin banyak salinannya, semakin banyak enzim amilase yang diproduksi kelenjar ludah.
Keunggulan 1,24 Persen per Generasi
Analisis statistiknya menunjukkan seleksi alam mulai memihak pemilik salinan AMY1 yang lebih banyak sekitar 6.000 sampai 10.000 tahun lalu — rentang waktu yang berimpit dengan masa domestikasi kentang di Andes. Keunggulan yang terhitung sebesar 1,24 persen per generasi bagi mereka yang membawa sekitar sepuluh salinan atau lebih.
Angka itu terdengar kecil, tetapi bekerja secara berlipat sepanjang ratusan generasi. Enzim amilase yang diproduksi gen AMY1 memecah pati menjadi gula sederhana sejak makanan masih berada di mulut, sehingga pemilik salinan lebih banyak memanen energi lebih banyak dari umbi yang sama.
“Wilayah Andes berketinggian tinggi dikenal sebagai kawasan yang kaya untuk memahami adaptasi evolusi manusia,” kata Abigail Bigham, associate professor antropologi di University of California, Los Angeles.
Bukan Gen yang Muncul karena Makan Kentang
Para peneliti menekankan bahwa salinan gen itu tidak tumbuh sebagai jawaban atas menu makan. Variasi jumlah salinan sudah ada lebih dulu di dalam populasi; pola makan berbasis umbi hanya membuat sebagian varian lebih sering diwariskan.
“Ahli biologi sudah lama menduga kelompok manusia yang berbeda mengembangkan adaptasi genetik sebagai respons terhadap pola makannya, tetapi sangat sedikit kasus yang buktinya sekuat ini,” ujar Omer Gokcumen, profesor ilmu biologi di University at Buffalo.
“Evolusi itu memahat patung, bukan mendirikan bangunan. Bukan berarti penduduk asli Andes mendapat salinan AMY1 tambahan begitu mereka mulai makan kentang,” tutur Gokcumen.
Kesimpulan semacam ini menyimpan satu jebakan yang harus disingkirkan lebih dulu. Populasi pribumi Amerika mengalami penyusutan jumlah yang sangat tajam sesudah kontak dengan Eropa pada abad ke-15, dan penyusutan drastis semacam itu bisa meninggalkan jejak statistik yang menyerupai seleksi alam. Tim peneliti harus memisahkan kedua kemungkinan itu sebelum menyimpulkan bahwa pola makan yang menjadi pendorongnya.
Perbandingan dengan populasi Maya menjadi salah satu titik penting dalam analisis ini. Keduanya sama-sama masyarakat pribumi Amerika, tetapi bertumpu pada pangan pokok yang berbeda — jagung di Mesoamerika, umbi-umbian di Andes. Selisih empat salinan antara keduanya itulah yang menurut para peneliti sulit dijelaskan tanpa melibatkan pola makan.
Laporan Ilmiahnya
Temuan itu dipaparkan Kendra Scheer dari Department of Biological Sciences, University at Buffalo, bersama Abigail W. Bigham dan Omer Gokcumen, lewat artikel Rapid adaptive increase of amylase gene copy number in Indigenous Andeans dalam jurnal Nature Communications volume 17, nomor artikel 3822, pada 2026.
Kentang didomestikasi di kawasan Andes dan kini menjadi salah satu tanaman pangan pokok dunia, termasuk di kawasan tropis. Studi ini tidak menguji apakah jumlah salinan AMY1 berpengaruh pada risiko penyakit metabolik, dan tidak mengukur kadar gula darah peserta — yang diperiksa hanya jumlah salinan gen dan jejak seleksi alam pada data genom.
Baca juga: Rahasia Evolusi Manusia di India: Petani Iran Kuno, Neanderthal, dan Migrasi Besar 50.000 Tahun Lalu





















