Selisihnya lima koma nol persen. Dari kotak suara di enam distrik pemungutan, Islandia memutuskan untuk tidak kembali ke meja perundingan dengan Uni Eropa.
Referendum yang digelar Minggu (30/08/2026) itu menghasilkan 52,5 persen suara menolak dan 47,5 persen mendukung pembukaan kembali perundingan aksesi. Penghitungan hampir rampung, hanya menyisakan sejumlah kecil surat suara di satu distrik.
“Bangsa ini menolak perundingan aksesi dengan Uni Eropa,” demikian penyiar publik RUV, sebagaimana dikutip Al Jazeera, Minggu (30/08/2026).
Dua Argumen yang Bertabrakan
Perdana Menteri Kristrun Frostadottir menyebut pemungutan suara itu sebagai momen penentu, dan menyatakan penolakan akan menyingkirkan seluruh spekulasi tentang Uni Eropa.
Baca juga Zelensky Tolak Pemilu Perang, Sebut Bisa Belah Ukraina
Kubu yang mendukung berargumen keanggotaan bisa menekan suku bunga Islandia yang tinggi dan memperkuat keamanan di tengah ketidakstabilan global, terutama karena perang di Ukraina dan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tentang Greenland.
Baca juga AS Janjikan Sanksi Terberat ke Iran, China Diminta Ikut
Kubu penolak mengangkat dua hal: kedaulatan negara dan hak atas perikanan, sektor yang menopang ekonomi pulau berpenduduk kecil itu.
Tujuh Belas Tahun Setelah Krisis
Islandia mengajukan permohonan keanggotaan Uni Eropa pada 2009, tidak lama setelah krisis keuangan meruntuhkan sistem perbankannya. Pemerintah yang skeptis terhadap Eropa menghentikan perundingan itu pada 2013.
Baca juga Trump Ingin Jadikan Selat Hormuz Wilayah AS, Ini Kata Pakar
Hasil hari Minggu menutup kemungkinan membuka kembali pintu tersebut dalam waktu dekat.














