Cekricek.id — Petani kakao di Distrik Momi Waren dan Ransiki, Papua Barat, masih menjual hasil panen dalam bentuk biji mentah dengan harga yang tidak stabil. Tim Ekspedisi Patriot Institut Teknologi Sepuluh Nopember menggelar pelatihan berkelanjutan untuk memutus ketergantungan itu.
Angka kemiskinan struktural di wilayah tersebut mencapai 26,83 persen pada 2024, menurut keterangan tertulis Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Rabu (02/09/2026). Kakao setempat pernah meraih Gold Award Cacao of Excellence pada 2023.
Baca juga Tim ITS Temukan Air Keruh di Enam Kampung Momi Waren
Ketua Tim Ekspedisi Patriot TEP 6 ITS sekaligus dosen Departemen Manajemen Bisnis, Berto Mulia Wibawa, S.Pi., M.M., Ph.D., menyebut pemasaran petani belum terorganisasi.
“Namun, kenyataannya para petani masih menjual hasil panen dalam bentuk biji mentah, dengan pemasaran belum komunal dan harga yang tidak stabil,” katanya.
Baca juga Tim UNAIR Petakan Aliran Sampah Prafi Sebelum Pilih Alat
Tim juga menemukan wilayah itu bertumpu pada satu komoditas. “Kami mendapati tidak ditemukannya petani beras, hanya petani kakao yang menunjukkan wilayah ini bergantung tinggi pada satu komoditas,” ujar Berto.
Pelatihan mencakup pembukuan, pemasaran digital, hingga penghubungan dengan pelaku industri, dan melibatkan PT Eiber Suth Cokran. “Kami berikan pelatihan pembukuan, digital marketing, hingga kerja sama dengan pelaku industri secara bertahap,” katanya.
Baca juga IPB Bangun Pemantau Kualitas Udara Dampak Karhutla Harian
Seluruh materi didokumentasikan sebagai panduan tertulis. “Seluruhnya didokumentasikan sebagai panduan tertulis yang bisa dipakai berulang, bukan pelatihan sekali pakai,” ujar Berto.
Tim belum menyebutkan jumlah petani yang mengikuti pelatihan maupun target kenaikan harga jual setelah program berjalan.














