Kelas Renang Bikin Mahasiswa Asing di Sydney Merasa Diterima

A A

Instruktur berkerudung ungu memandu kelas latihan air peserta dewasa di kolam renang, Jawa Barat [Foto: dwirizqif/Pexels]

  • Bagi banyak narasumber, Learn to Swim menjadi pengalaman pertama masuk ke air.
  • Dari 18 narasumber, 11 orang mengikuti Learn to Swim, tiga orang Beach Ocean Safe, dan empat orang mengikuti keduanya.
  • Biaya menjadi pendorong yang paling sering disebut dalam catatan Peden dan Lawton.
  • Tidak ada data yang mengukur secara objektif keterampilan dan pengetahuan keselamatan air sebelum dan sesudah program.
Daftar Isi
  1. Peden mendengar cerita para penonton
  2. Lawton menandai hambatan dari kampung halaman
  3. Program di unit tempat Raman dan Jackson bekerja
  4. Yang digali Peden dari dorongan para mahasiswa
  5. Teman pertama di Australia
  6. Catatan yang bisa diperiksa pembaca

Amy Peden mewawancarai 18 mahasiswa internasional University of New South Wales satu per satu lewat Microsoft Teams sepanjang Mei 2024. Semuanya pernah mengikuti Learn to Swim atau Beach Ocean Safe, dua program keselamatan air bersubsidi di kampus UNSW Sydney. Kampus itu, tulis Peden, terletak dekat pantai-pantai terkenal Australia seperti Bondi, Bronte, dan Coogee.

Hasil percakapan itu ditulis Amy E Peden, Madhav Raman, Oliver Jackson, dan Belinda Lawton dalam A qualitative analysis of the impact of drowning prevention programs on belonging among international students, yang diterima untuk terbit di BMC Public Health, tahun 2026. Peden dan Lawton bekerja di School of Population Health serta Beach Safety Research Group UNSW Sydney. Raman dan Jackson berasal dari Health Promotion Unit di kampus yang sama.

Pertanyaan yang dibawa Peden dan rekan-rekannya sederhana. Mereka ingin tahu apakah belajar berenang dan mengenali bahaya pantai mengubah rasa memiliki mahasiswa asing selama kuliah di Australia. Rasa memiliki, tulis para penulis, adalah kebutuhan dasar manusia sekaligus inti kohesi sosial. UNSW Sydney sendiri menampung lebih dari 41.000 mahasiswa internasional dari lebih dari 140 negara pada 2025.

Jawaban para narasumber dirangkum Peden dan rekan-rekannya sejak abstrak. “Kami menemukan pengalaman para mahasiswa sangat positif, menumbuhkan keterampilan dan rasa percaya diri yang meningkat menurut penilaian mereka sendiri,” tulis mereka dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Menurut Peden, kepercayaan diri itu kemudian membuka jalan ke pergaulan dengan teman dan masyarakat yang lebih luas.

Peden mendengar cerita para penonton

Sebelum ikut program, banyak narasumber Peden menghindari air sama sekali. Menurut Peden dan Lawton, keikutsertaan mereka sendiri sudah menandakan minimnya keterampilan dan pengetahuan tentang kondisi perairan Australia. Seorang mahasiswa yang dicatat sebagai SI2 bercerita hanya berani mencelupkan kaki di pantai. Ia takut karena pantai di sana memang punya bendera, tetapi tidak berpagar.

Ketakutan itu bertolak belakang dengan pemandangan yang mereka lihat setiba di Australia, ketika orang ramai menikmati pantai. Peden dan Lawton mencatat, mahasiswa yang datang tanpa bisa berenang menempatkan diri sebagai pengamat, bukan peserta, dalam banyak kegiatan bersama teman sebaya maupun masyarakat luas. Para penulis menyebutnya perasaan berdiri di luar sambil melihat ke dalam.

Seorang mahasiswi yang dicatat penulis sebagai SI17 menggambarkannya dalam wawancara dengan Peden. “Saya merasa seperti semacam penonton, padahal saya ingin sekali bergabung dengan mereka, tetapi saya tidak tahu harus mulai dari mana,” katanya dalam kalimat yang aslinya berbahasa Inggris. Ia menambahkan bahwa ia memang belum punya pengalaman berselancar ataupun berenang.

Para narasumber Peden sudah tahu renang penting bagi budaya Australia sebelum mereka datang. Mereka menyaksikannya lewat televisi, pertandingan olahraga, film, dan media sosial. Seorang mahasiswa bahkan menyebut semua orang pernah mendengar tentang Pantai Bondi. Menurut Peden dan Lawton, keindahan alam dan iklim yang bersahabat menarik mereka memilih kampus Australia, tetapi ketidakmampuan berenang menghalangi mereka menikmatinya.

Dua program air di UNSW SydneyLearn to Swim delapan minggu di kolam, Beach Ocean Safe tiga hari di pantai.Dua program air di UNSW SydneyKeduanya menekankan kecakapan air, bukan gaya renangLearn to SwimBeach Ocean Safe8 minggu3 hari penuhLama programKolam renangPantaiTempat1 jam per mingguTeori dan praktikPertemuanTak kuat 15 meterMahasiswaSasaranRenang dasarArus rip, CPRMateri kunci11 orang3 orangNarasumber yangikutEmpat narasumber lain mengikuti kedua program sekaligus.
Sumber: Amy E Peden, Madhav Raman, Oliver Jackson, dan Belinda Lawton, A qualitative analysis of the impact of drowning prevention programs on belonging among international students, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Lawton menandai hambatan dari kampung halaman

Belinda Lawton, yang menganalisis transkrip bersama Peden, menemukan pola dalam cerita tentang hambatan. Bagi banyak narasumber, Learn to Swim menjadi pengalaman pertama masuk ke air. Seorang mahasiswi yang dicatat sebagai SI9 bercerita ia biasa pergi ke pantai hanya untuk duduk atau berdiri di dekatnya. Ikut program itulah, katanya, kali pertama ia benar-benar masuk ke air.

Menurut Lawton dan Peden, kabar tentang orang tenggelam di kampung halaman menumbuhkan rasa takut yang menghalangi sebagian narasumber mencari kursus. Seorang mahasiswi mengingat sungai yang curam dan berarus serta banyak cerita anak tenggelam. Mahasiswi lain mengenang pesan orang tuanya agar tidak mendekati air karena berbahaya, sementara soal keselamatan air nyaris tidak pernah dibicarakan.

Namun hambatan utama, tulis Peden dan Lawton, adalah tidak adanya kesempatan belajar berenang di negara asal. Seorang mahasiswi yang dicatat sebagai SI12 menyebut renang mahal di negaranya, sehingga hanya anak keluarga berpenghasilan tinggi yang punya akses. Bagi anak kota dari keluarga berpenghasilan rendah atau menengah, katanya, bisa berenang bukanlah hal yang lumrah.

Lawton dan Peden juga mencatat rasa malu yang muncul ketika orang dewasa baru belajar berenang. Hambatan-hambatan itu, menurut para penulis, membuat peserta datang dengan rasa takut dan keterampilan terbatas. Karena itulah lingkungan belajar yang suportif muncul berulang kali sebagai pendorong dalam cerita para narasumber yang mereka wawancarai.

Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis

Program di unit tempat Raman dan Jackson bekerja

Kedua program dijalankan Health Promotion Unit UNSW Sydney, tempat Madhav Raman dan Oliver Jackson bekerja. Learn to Swim berlangsung delapan minggu untuk mahasiswa yang tidak sanggup berenang lebih dari 15 meter, dengan satu pelajaran satu jam per minggu. Beach Ocean Safe mengisi tiga hari penuh di pantai, dari membaca rambu dan bendera, mengenali arus rip, sampai CPR dasar dan pertolongan pertama.

Menurut Peden dan rekan-rekannya, kurikulum kedua program disusun untuk kecakapan air secara luas, bukan untuk melatih gaya renang. Dari 18 narasumber, 11 orang mengikuti Learn to Swim, tiga orang Beach Ocean Safe, dan empat orang mengikuti keduanya. Mereka berasal dari sembilan negara, dengan China, India, Indonesia, dan Sri Lanka sebagai asal terbanyak.

Biaya menjadi pendorong yang paling sering disebut dalam catatan Peden dan Lawton. Pelajaran renang cukup dibayar sekali, sebesar 75 dolar. Seorang mahasiswi yang dicatat sebagai SI13 menekankan bahwa bagi mahasiswa internasional, biaya adalah hal yang paling menentukan ketika ingin mencoba sesuatu. Mahasiswi lain menyebut kelasnya bagus, murah, dan memberi akses kolam gratis selama program.

Rasa aman juga berperan. Seorang mahasiswa yang dicatat sebagai SI5 bercerita kepada Peden, setiap sesi didampingi sekitar 10 sampai 16 relawan dari klub, perenang mahir sekaligus penyelamat terlatih yang menyemangati peserta. Menurut Peden dan Lawton, komitmen kuat pada keselamatan dalam rancangan kurikulum dan cara instruktur mengajar menjadi komponen kunci lingkungan yang suportif itu.

Belajar bersama sesama pemula juga meringankan. SI17, mahasiswi yang merasa seperti penonton tadi, mengaku gugup karena sudah lama tidak memakai baju renang dan harus menjalani tes kemampuan. Ia menuturkan kepada Peden bahwa dukungan sosial di kelas membuatnya tidak terlalu cemas mempelajari keterampilan yang menurutnya sangat buruk ia kuasai.

Asal negara 18 mahasiswa yang diwawancaraChina: Mahasiswa +5; India: Mahasiswa +4; Indonesia: Mahasiswa +2; Sri Lanka: Mahasiswa +2; Hong Kong: Mahasiswa +1; Iran: Mahasiswa +1; Maladewa: Mahasiswa +1; Nepal: Mahasiswa +1; Vietnam: Mahasiswa +1.Asal negara 18 mahasiswa yang diwawancaraJumlah orang per negara asal2460China5India4Indonesia2Sri Lanka2Hong Kong1Iran1Maladewa1Nepal1Vietnam110 perempuan dan 8 laki-laki; 8 pascasarjana, 8 PhD, 2 sarjana.
Sumber: Amy E Peden, Madhav Raman, Oliver Jackson, dan Belinda Lawton, A qualitative analysis of the impact of drowning prevention programs on belonging among international students, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Yang digali Peden dari dorongan para mahasiswa

Motivasi tiap narasumber berbeda, tetapi Peden dan Lawton mencatat semuanya punya dorongan kuat untuk ikut. Ada yang ingin menguasai kecakapan hidup, ada yang ingin ikut menikmati budaya pantai yang mereka saksikan. Seorang mahasiswi yang dicatat sebagai SI10 merasa kehilangan kesempatan musim panas karena tidak bisa ikut bermain air bersama suami dan teman-temannya di Pantai Bondi.

Sebagian lain melihat program sebagai jalan berteman. Menurut Peden dan Lawton, mahasiswa yang ikut di awal masa studi menyebut manfaat langsung berupa koneksi sosial. Seorang mahasiswa yang dicatat sebagai SI1 menyebut program itu cara bertemu orang baru, sekaligus bagian dari menyesuaikan diri dengan kota, negara, dan gaya hidup yang serba baru baginya.

Rasa bangga juga muncul dalam cerita yang dicatat Peden. SI2 yang dulu hanya mencelupkan kaki kini bangga telah keluar dari zona nyamannya di negeri yang serba asing. Seorang mahasiswi PhD yang dicatat sebagai SI18 bercerita bahwa ayahnya perenang andal yang dulu gagal mengajarinya. “Saya kira ia lebih senang soal renang daripada soal PhD saya,” katanya dalam bahasa Inggris.

Teman pertama di Australia

Pada tahap persepsi, Peden dan Lawton menemukan narasumber dari kedua program merasakan rasa memiliki yang lebih besar terhadap kampus dan masyarakat. SI2 mengaku dulu menolak ajakan teman karena tidak percaya diri di air. Kini ia ikut pergi bersama mereka, belajar dari mereka, dan merencanakan kegiatan bersama. Menurutnya, hal itu membuatnya merasa jauh lebih terhubung.

Bagi sebagian narasumber, perubahan itu sangat harfiah. “Di program Learn to Swim-lah saya pertama kali punya teman di Australia. Jadi, teman-teman pertama saya berasal dari program Learn to Swim,” kata seorang mahasiswa yang dicatat Peden sebagai SI4, dalam kalimat yang aslinya berbahasa Inggris. Mahasiswi lain, SI6, menyebut kelas itu waktu yang baik untuk berteman.

Peden dan Lawton juga mencatat manfaat bagi kesehatan fisik dan mental. Beberapa narasumber bicara terbuka tentang rasa terisolasi, stres, bahkan depresi sebelum ikut program. SI18 menuturkan dokter pernah mendiagnosisnya depresi karena tekanan di laboratorium PhD, dan tingkat stresnya turun jauh setelah berenang. Ia menyebutnya hal paling berdampak yang membuatnya menyukai kampus.

Seorang mahasiswa yang dicatat sebagai SI16 mengatakan kepada Peden bahwa pengalaman itu membuatnya sadar kuliah bukan hanya soal belajar. Ia jadi nyaman bergabung dengan klub dan perkumpulan, mengobrol dengan orang, dan lebih terlibat dalam kegiatan kampus di luar kelas. Semua itu, katanya, terjadi dalam lingkungan yang membuatnya merasa terlindungi.

Dari cerita-cerita itu Peden dan rekan-rekannya menarik benang merah. “Meski program yang diikuti para mahasiswa tampaknya soal renang dan keselamatan air, dampaknya bagi individu jauh melampaui pelatihan keterampilan; yang ditawarkan kepada mahasiswa adalah jalan untuk menjadi bagian dari jalinan sosial universitas dan masyarakat,” tulis mereka dalam bahasa Inggris.

Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang

Catatan yang bisa diperiksa pembaca

Peden dan Lawton sendiri mengakui batas temuan ini. Tidak ada data yang mengukur secara objektif keterampilan dan pengetahuan keselamatan air sebelum dan sesudah program. “Meski para mahasiswa melaporkan sendiri adanya kemajuan, rasa percaya diri mereka yang meningkat belum tentu berarti kemampuan berenang, terutama di lingkungan yang asing seperti sungai,” tulis para penulis dalam bahasa Inggris.

Narasumber Peden juga memilih sendiri untuk ikut. Dari 33 mahasiswa yang menyatakan minat, 18 orang diwawancara, di bawah target awal 20 karena kendala waktu dan ketidakhadiran. Tidak satu pun menyatakan punya disabilitas, dan semuanya berasal dari satu kampus di Sydney. Temuan Peden karena itu menggambarkan pengalaman kelompok kecil tersebut, bukan seluruh mahasiswa internasional di Australia.

Beberapa hal dalam naskah bisa dicek pembaca. Bagian metode menyebut Amy Peden yang melakukan wawancara, dan bagian kontribusi penulis menulis hal serupa. Namun bagian posisi peneliti dan bagian keterbatasan menyebut Peden dan Belinda Lawton sebagai dua penulis yang melakukan wawancara sekaligus analisis. Singkatan nama Peden pun berganti-ganti antara AP dan AEP.

Ada pula soal usia. Saat mendaftar, calon narasumber diminta menjawab pertanyaan tentang usia, sesuai syarat minimal 18 tahun. Tetapi di bagian keterbatasan, Peden dan rekan-rekannya menulis bahwa usia narasumber tidak dicatat. Teks hasil juga menyebut narasumber didominasi mahasiswa magister atau PhD, sedangkan tabelnya memakai label pascasarjana untuk delapan orang itu.

Baca juga Separuh Buruh Migran Myanmar di Chiang Rai Pergi Berobat

Pembaca juga perlu tahu posisi Madhav Raman dan Oliver Jackson. Naskah menyebut keduanya bekerja di unit yang mengelola Learn to Swim dan Beach Ocean Safe, tetapi tidak terlibat dalam pengumpulan, analisis, dan penafsiran data. Riset yang dipimpin Peden ini didanai Medibank, yang juga disebut dalam ucapan terima kasih bersama Health Promotion Unit.

Peden dan rekan-rekannya menutup naskah dengan usulan agar perguruan tinggi mempertimbangkan manfaat ganda program semacam ini, yakni menurunkan risiko tenggelam sekaligus menumbuhkan rasa memiliki. Di balik usulan itu ada 18 percakapan yang direkam Peden pada Mei 2024. Salah satunya datang dari mahasiswa yang dulu hanya berani mencelupkan kaki, lalu kini ikut ketika teman-temannya mengajak ke pantai.

Bagikan

Baca Juga

Koridor Hijau Bogotá: Warga Catat 702 Hambatan di 7th Street
Kunjungan Hipertensi Naik pada Hari Bursa Saham China Turun
Guboow Somalia: Luka Bakar Disengaja untuk Obati Nyeri Anak
ASI Eksklusif di Vientiane Terganjal Kerja dan Susu Formula
Rokok Elektrik dan Snus Minim Data, Bahaya Rokok Biasa Terbukti
Remitansi dan Modal Asing di 22 Negara Asia Bergerak Berlawanan