Kevin, 14 Tahun, Jadi Mahasiswa Termuda ITB Angkatan 2026

A A

Ilustrasi gedung Aula Barat di Kampus ITB Ganesha, Bandung. [Foto: A2613/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Kevin Vincent Noel Sitanggang menjadi mahasiswa termuda ITB angkatan 2026 pada usia 14 tahun.
  • Kevin menyelesaikan SD dalam empat tahun lewat program akselerasi dan masuk SMP pada usia sembilan tahun.
  • Setelah belum berhasil di jalur SNBP, Kevin lolos ke FTTM ITB melalui UTBK-SNBT.

Cekricek.id — Kevin Vincent Noel Sitanggang, 14 tahun, menjadi mahasiswa termuda ITB angkatan 2026. Ia memulai kuliah di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) Institut Teknologi Bandung.

Perjalanan Kevin menuju ITB diwarnai percepatan pendidikan, kompetisi akademik, dan kegagalan pada jalur seleksi pertama, mengutip keterangan tertulis Institut Teknologi Bandung, Senin (14/09/2026).

“Saya adalah anak kecil yang punya banyak mimpi. Salah satunya adalah bermimpi bisa menjadi mahasiswa ITB,” ujar Kevin.

Jalan Mahasiswa Termuda ITB lewat Akselerasi

Kevin masuk sekolah dasar pada usia lima tahun. Pada 2016, saat ia masih kelas satu, ayahnya mendaftarkannya ke program akselerasi. Ia menyelesaikan SD dalam empat tahun dan masuk SMP pada usia sembilan tahun.

Sejak SD, Kevin aktif mengikuti kompetisi akademik. Di SMP ia ikut KSN Matematika dan English Speech Contest tingkat kota. Di SMA ia ikut OSN Matematika dan meraih juara ketiga English Speech Contest tingkat SMA se-Kota Bandung.

Selama SMA, Kevin mempertahankan peringkat pertama lima semester berturut-turut. Namun, ia belum berhasil lewat Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dengan pilihan FMIPA-M ITB dan FTI-RI ITB.

Atas arahan ayahnya yang alumnus Teknik Pertambangan ITB, Kevin memilih FTTM sebagai pilihan pertama pada UTBK-SNBT. Ia kemudian dinyatakan lolos.

“Saya mempersiapkan UTBK sekitar dua bulan dan sebetulnya hasilnya kurang maksimal. Saya pun mengira saya tidak akan lolos. Namun, Tuhan memiliki rencana yang lain,” tuturnya.

Baca juga Penerimaan 5.326 mahasiswa baru di UII

Lebih Banyak Gagal daripada Berhasil

“Mungkin banyak orang yang mengira bahwa saya adalah anak yang sudah pintar sejak lahir dan bisa melalui tantangan akademik apa pun dengan mudah. Faktanya, saya lebih banyak gagal daripada berhasil,” katanya.

Bagi mahasiswa termuda ITB itu, perbedaan usia dengan teman seangkatan menjadi tantangan tersendiri. Kevin mengaku kadang kelelahan mengejar ritme belajar yang lebih cepat. Ia juga pernah menghadapi impostor syndrome, yakni perasaan ragu bahwa dirinya layak berada di posisinya.

Untuk belajar, ia memadukan Feynman Technique dan Active Recall. Selain itu, ia memakai teknik Pomodoro, yaitu 50 menit belajar dan 10 menit istirahat, sebanyak dua repetisi.

Baca juga Sarasehan KAMIL ITB untuk calon mahasiswa pascasarjana

“Jadwal belajar harian sangat krusial dalam membangun disiplin karena jika hanya bergantung pada motivasi dan semangat, kita akan cepat kelelahan atau burnout. Motivasi kita bisa redup kapan saja,” ujarnya.

Di luar akademik, Kevin menekuni piano yang dikenalkan ayahnya sejak SD. Ketertarikannya pada FTTM juga bermula dari sang ayah, yang mengenalkannya pada alat berat dan industri pertambangan.

Baca juga Pesan UB kepada 1.500 mahasiswa jalur prestasi

“Berjuanglah bukan untuk hasil, tetapi untuk proses. Belajarlah bukan hanya untuk nilai, tetapi untuk mereka yang telah lebih dulu berkorban demi memastikan kita bisa belajar dengan baik,” katanya.

Bagikan

Baca Juga

ITB Hadirkan Sains dan Edukasi Ketahanan Pesisir di Rajuni Kecil
Harman Subakat: Pusat Gravitasi Organisasi Itu Manusia
Sarasehan KAMIL ITB Siapkan Mahasiswa Menapaki Pascasarjana
ITB dan Masagi Cibogo Olah Botol PET Jadi Filamen 3D
Pakar ITB: Gambut Kering Jadi Bahan Bakar Karhutla Berulang
Pakar ITB: Abu Krakatau Bisa Picu Erosi dan Banjir Lahar