Cekricek.id — Atmosfer tipis Pluto tampaknya mulai menyusut. Serangkaian pengamatan menunjukkan tekanannya turun sekitar 16 persen antara pertengahan 2021 dan 2023, tanda pertama bahwa selubung gas planet katai itu mengerut seiring perjalanannya menjauhi matahari.
Analisis itu disusun Amanda Sickafoose, ilmuwan senior pada Planetary Science Institute di Arizona, bersama koleganya. Hasilnya dimuat lewat artikel Changes in Pluto’s Atmosphere Based on Stellar Occultation Data from 2017 to 2023 dalam jurnal The Planetary Science Journal pada 2026.
Membaca Atmosfer dari Kedipan Bintang
Angka 16 persen itu tidak berarti atmosfer Pluto lenyap. Yang terbaca adalah penurunan tekanan pada rentang waktu tertentu, dan itulah pertama kalinya tren menurun tertangkap setelah bertahun-tahun pengukuran justru memperlihatkan tekanan yang naik atau bertahan.
Pluto tidak lagi punya pengunjung. Setelah wahana New Horizons milik NASA melintas pada 2015, tidak ada instrumen yang mengukur atmosfernya dari dekat. Astronom lalu bersandar pada okultasi bintang, yakni momen ketika Pluto lewat tepat di depan sebuah bintang jauh dan meredupkan cahayanya.
Pola peredupan itu yang dibaca. Atmosfer yang lebih rapat membelokkan cahaya bintang secara berbeda dibanding atmosfer yang menipis, sehingga bentuk kurva cahaya dapat diterjemahkan menjadi angka tekanan. Cara ini bekerja, tetapi bergantung pada kebetulan geometris: Pluto, bintang, dan teleskop harus segaris, dan kesempatan semacam itu tidak datang sesuka hati.
Baca juga: Menjelajah Batas Tata Surya: Di Manakah Ujungnya?
Dunia yang Membeku Perlahan
Suhu permukaan Pluto berkisar minus 230 derajat Celsius, sementara atmosfer atasnya justru lebih hangat pada sekitar minus 203 derajat Celsius. Atmosfer itu sendiri sangat renggang: tekanannya tercatat sekitar 10 mikrobar pada 2015, jauh di bawah tekanan udara di permukaan Bumi.
Selubung gas itu bertahan karena panas matahari menyublimkan es nitrogen di permukaan. Ketika Pluto menjauh, pasokan panas berkurang dan gas diperkirakan mengembun kembali menjadi embun beku. Satu putaran mengelilingi matahari memakan waktu 248 tahun, dan planet katai itu baru akan mencapai titik terjauhnya pada 49 satuan astronomi sekitar tahun 2114.
Pluto melewati titik terdekatnya dengan matahari pada 1989. Sejak itu ia terus menjauh, tetapi atmosfernya sempat bertahan lebih lama daripada perkiraan sejumlah model — permukaan yang menyimpan panas diduga menunda proses pengembunan. Karena itu, terbacanya penurunan tekanan sekarang dianggap sebagai penanda waktu yang ditunggu-tunggu.
“Kita berada pada titik yang sangat menarik untuk Pluto. Pekerjaan kami menunjukkan atmosfernya baru saja mulai menurun tekanannya,” kata Amanda Sickafoose, ilmuwan senior Planetary Science Institute, seperti dikutip dari Space.com, Senin (10/8/2026).
Baca juga: Corong Magnet Saturnus Melenceng ke Sisi Sore, Terbaca dari Data Cassini 2004–2010
Belum Kata Akhir
Sickafoose berhati-hati menyebutnya keruntuhan. Penurunan yang terbaca baru mencakup rentang beberapa tahun, sedangkan siklus musim Pluto berlangsung berpuluh tahun. Ada pula kemungkinan tekanan bergerak naik-turun sebelum benar-benar meluruh, dan metode okultasi hanya memberi potret pada tanggal-tanggal tertentu, bukan rekaman berkelanjutan.
Yang jelas, pengamatan lanjutan menuntut kesabaran. Setiap kesempatan okultasi harus diramalkan jauh hari, lalu dikejar dengan teleskop yang kebetulan berada di jalur bayangan. Jawaban atas pertanyaan apakah atmosfer Pluto benar-benar sedang runtuh baru akan terkumpul dalam hitungan dasawarsa.
Baca juga: NASA Konfirmasi Asteroid 2024 YR4 Berpeluang Tabrak Bulan Desember 2032





















