Cekricek.id — Sepuluh ibu penyandang disabilitas rungu di Kota Padang yang terdampak banjir akhir 2025 mengikuti pelatihan usaha buket bunga yang digelar Tim Program Pengabdian UNP Berdampak (PPUB) Departemen Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang. Seluruh sesi didampingi juru bahasa isyarat agar peserta dapat mengikuti pelatihan tanpa hambatan komunikasi.
Dikutip dari laman resmi Universitas Negeri Padang, unp.ac.id, Selasa (18/8/2026), pelatihan berlangsung pada Sabtu (8/8) di Ruang Sidang Lantai 2 Fakultas Ilmu Pendidikan UNP. Kegiatan digelar bersama Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (GERKATIN) Provinsi Sumatera Barat, organisasi yang menaungi para peserta.
Baca juga: Fadly Amran Pimpin Upacara HUT ke-81 RI di Kota Padang
Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, termasuk Kota Padang, pada penghujung 2025 tidak hanya berdampak pada kondisi fisik dan sosial masyarakat. Bencana itu juga memengaruhi aktivitas serta perekonomian keluarga, termasuk keluarga penyandang disabilitas rungu. Sepuluh peserta yang hadir merupakan anggota GERKATIN yang rumah dan usahanya ikut terdampak banjir di wilayah Sumatera Barat.
Pemulihan Ekonomi Jadi Titik Masuk
“Pemberdayaan ekonomi merupakan salah satu aspek penting dalam mendukung proses pemulihan masyarakat setelah bencana,” kata Dr. Elsa Efrina, M.Pd., Ketua Pelaksana Pengabdian.
Melalui keterampilan produktif, penyandang disabilitas rungu diharapkan memiliki alternatif dalam memperkuat ketahanan ekonomi keluarga. Kegiatan dirancang untuk memberikan keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha dari lingkungan rumah maupun komunitas, sehingga peserta tidak sepenuhnya bergantung pada lapangan kerja di luar.
Dukungan terhadap kegiatan itu disampaikan Sekretaris GERKATIN, Feri Naldi. Ia menyambut baik kegiatan pemberdayaan yang memberikan kesempatan kepada anggota GERKATIN untuk memperoleh keterampilan baru sekaligus mengembangkan potensi ekonomi.
Baca juga: Baru 33 Persen Warga Padang Daftar Portal Perlinsos
Juru Bahasa Isyarat Sepanjang Pelatihan
Untuk memastikan pelatihan berlangsung inklusif, panitia menghadirkan juru bahasa isyarat yang menjembatani komunikasi antara narasumber, tim pengabdian, dan peserta. Dengan dukungan tersebut, peserta dapat mengikuti materi, berdiskusi, mengajukan pertanyaan, hingga mengikuti instruksi praktik secara optimal.
Antusiasme peserta terlihat selama sesi diskusi dan praktik. Mereka aktif bertanya mengenai cara memulai usaha serta mengikuti setiap tahapan pembuatan buket, mulai dari menyiapkan bahan, menyusun bunga, membentuk rangkaian, hingga melakukan pengemasan.
Dua Materi, dari Teknologi Digital sampai Teknik Merangkai
Materi pertama bertajuk “Pentingnya Berwirausaha dan Peran Teknologi dalam Usaha” disampaikan Ferdian Ondira Asa, S.Pd., M.Sn., dosen Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni UNP. Peserta dibekali wawasan dasar kewirausahaan, pentingnya membangun kepercayaan diri dalam memulai usaha, serta pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung dan mempromosikan produk. Peserta juga diperkenalkan pada pemanfaatan media digital sebagai sarana promosi agar produk yang dihasilkan dapat menjangkau konsumen secara lebih luas dan tidak terbatas pada lingkungan sekitar.
Materi kedua, “Tata Cara dan Praktik Pembuatan Buket Bunga”, dipandu Dr. Jupriani, M.Sn., dosen Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni UNP sekaligus pelaku usaha di bidang merangkai bunga. Peserta mempelajari pemilihan bahan, teknik merangkai bunga, efisiensi penggunaan bahan, hingga teknik pengemasan agar produk memiliki tampilan menarik dan nilai jual.
Baca juga: Longsor 17 Titik di Padang Pariaman, 14 Sudah Dibersihkan
Usai menerima materi, peserta langsung mempraktikkan pembuatan buket bunga secara mandiri dengan pendampingan tim pengabdian dan panitia. Pendekatan praktik itu dipilih agar peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung dalam menghasilkan produk yang berpotensi dipasarkan.
Kolaborasi Tim PPUB PLB FIP UNP dan GERKATIN disebut menjadi bagian penting dalam menghadirkan pemberdayaan bagi kelompok masyarakat yang terdampak bencana sekaligus menghadapi hambatan dalam mengakses peluang ekonomi. Kegiatan ini juga dinyatakan sejalan dengan Sustainable Development Goals, khususnya poin ke-8 mengenai pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta poin ke-10 mengenai berkurangnya kesenjangan melalui akses yang lebih setara bagi penyandang disabilitas rungu.














