Cekricek.id — Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman Rashad al-Alimi menyatakan pemerintahnya tidak akan lagi membiarkan kelompok Houthi memonopoli keputusan perang dan damai. Pernyataan itu keluar menyusul serangan rudal dan pesawat nirawak yang menghantam Pelabuhan Mokha di barat daya Yaman.
Dikutip dari Anadolu, Senin (10/8/2026), al-Alimi menyampaikan sikap tersebut dalam pertemuan dengan para duta besar negara-negara penyokong proses politik Yaman. Ia menegaskan pihak pemerintah tidak memulai eskalasi terbaru, tetapi komitmen pada perdamaian tidak boleh dibaca sebagai kebebasan bagi Houthi untuk menentukan kapan dan di mana menyerang.
“Negara tidak akan lagi membiarkan milisi memonopoli keputusan untuk memulai konfrontasi, waktunya, lokasinya, dan skalanya, lalu memonopoli pula keputusan kapan konfrontasi itu harus dihentikan,” kata Rashad al-Alimi.
Dermaga, Gudang, dan Rumah Sakit Rusak
Serangan pada Minggu (9/8/2026) menewaskan sedikitnya tujuh warga sipil dan personel militer serta melukai sekitar 35 orang di pelabuhan yang terletak dekat Selat Bab al-Mandeb dan permukiman di sekitarnya. Di antara korban terdapat perempuan dan anak-anak.
Hantaman itu merusak dermaga laut, fasilitas layanan, dan derek bongkar muat yang menjadi tulang punggung kegiatan pelabuhan. Persediaan pangan yang tersimpan di kawasan itu ikut rusak, begitu pula kapal-kapal niaga yang sedang bersandar.
Kerusakan meluas ke luar area dermaga. Sebuah rumah sakit Saudi, kantor imigrasi dan paspor, serta proyek penyediaan air bersih di sekitarnya tercatat terdampak.
Peringatan kepada Komunitas Internasional
Al-Alimi menempatkan serangan Mokha sebagai bagian dari eskalasi yang sudah berlangsung berminggu-minggu, bukan peristiwa tunggal. Ia menyebut pemerintahnya berulang kali mengingatkan dunia internasional bahwa perdamaian tidak bisa dibangun di atas keberadaan kelompok bersenjata yang memegang rudal balistik sekaligus mengendalikan keputusan perang.
“Perdamaian yang langgeng tidak dapat dibangun dengan kelompok bersenjata yang memiliki rudal balistik dan menguasai keputusan perang dan damai,” ujarnya.
Menurut al-Alimi, pemerintah selama ini mendahulukan perdamaian dan menahan diri. Ia menunjuk pada kebijakan memperlancar lalu lintas udara dan pelabuhan serta kerja sama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pihak internasional lain sebagai bukti sikap tersebut.
Perkembangan terakhir, kata dia, menunjukkan persamaan politik dan militer di lapangan sudah berubah. “Periode serangan Houthi tanpa konsekuensi telah berakhir,” kata al-Alimi.
Ia meminta komunitas internasional melindungi warga sipil, fasilitas sipil, dan pelabuhan niaga, menghormati kedaulatan negara, serta menolak penggunaan rudal dan pesawat nirawak untuk memperoleh keuntungan yang tidak sah.
Para Duta Besar Mengecam
Dalam pertemuan itu, para duta besar mengecam keras serangan terbaru Houthi terhadap pasukan pemerintah, lokasi sipil, dan fasilitas ekonomi termasuk pelabuhan. Kecaman yang sama mereka tujukan pada serangan ke wilayah Arab Saudi dan terhadap kapal-kapal niaga.
Jeda Sejak 2022 yang Kian Rapuh
Pertempuran di sejumlah front Yaman kembali menajam sejak bulan lalu. Negara itu sempat menikmati jeda relatif sejak April 2022 setelah hampir 12 tahun perang antara pasukan pemerintah yang didukung koalisi pimpinan Arab Saudi dan kelompok Houthi yang disokong Iran.
Pelabuhan Mokha berada di jalur Laut Merah yang menjadi urat nadi pelayaran niaga menuju Terusan Suez. Belum ada keterangan mengenai kapan lalu lintas bongkar muat di pelabuhan itu dapat dipulihkan sepenuhnya.





















