Cekricek.id — Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (Bureau of Labor Statistics/BLS) melaporkan indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) Juli 2026 naik 0,1 persen secara bulanan setelah penyesuaian musiman, dengan laju tahunan melandai ke 3,4 persen.
Mengutip laporan resmi BLS, Rabu (12/8/2026), inflasi inti yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi naik 0,2 persen secara bulanan dan 2,5 persen secara tahunan, turun tipis dari 2,6 persen pada Juni. Sewa tempat tinggal atau shelter tercatat menyumbang sekitar dua pertiga dari kenaikan indeks harga bulanan secara keseluruhan.
Sewa Naik, Energi Turun
Data BLS menunjukkan kenaikan pada sejumlah komponen, di antaranya sewa tempat tinggal naik 0,1 persen bulanan dan 3,2 persen tahunan, biaya perawatan medis naik 0,4 persen, tarif penerbangan melonjak 2,2 persen bulanan dan 25,5 persen dibanding tahun lalu, serta komunikasi naik 0,6 persen.
Di sisi lain, harga energi tercatat turun 1,5 persen secara bulanan meski masih naik 14,7 persen dibanding Juli tahun lalu. Harga bensin turun 2,9 persen bulanan, dan premi asuransi kendaraan bermotor turun 0,3 persen.
Ekonom: Bisa Mendekati Target The Fed
Mark Zandi, Kepala Ekonom Moody's Analytics, menilai tren pelandaian inflasi berpeluang berlanjut dalam setahun ke depan selama tidak ada gejolak baru dari kawasan konflik.
“Barring fresh escalations in the Iran war, inflation could continue to ease, dipping close to the Federal Reserve's 2% annual goal by this time next year,” kata Zandi, yang bila diterjemahkan berarti selama tidak ada eskalasi baru dari perang di Iran, inflasi berpotensi terus melandai hingga mendekati target tahunan Bank Sentral AS sebesar 2 persen pada waktu yang sama tahun depan.
Data Penentu Arah Suku Bunga
Laporan CPI Juli menjadi salah satu data penting yang dipantau pelaku pasar menjelang pertemuan kebijakan moneter The Fed berikutnya, setelah bank sentral AS bergulat dengan tekanan politik terhadap independensinya, termasuk upaya Gedung Putih memecat Gubernur The Fed Lisa Cook. Data inflasi yang melandai umumnya membuka ruang lebih besar bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan suku bunga acuan.
Pelandaian inflasi AS turut terjadi di tengah gejolak harga energi global, menyusul lonjakan harga minyak Brent ke atas USD84 per barel akibat ketegangan di Selat Hormuz. Kombinasi harga energi yang bergejolak dan inflasi inti yang melandai membuat arah kebijakan The Fed pada paruh kedua 2026 masih menjadi perhatian utama pasar keuangan global, termasuk bank-bank sentral di kawasan Asia yang turut memantau pergerakan suku bunga acuan AS, termasuk Bank Indonesia yang tengah menyiapkan pergantian kepemimpinan lembaganya.





















