Cekricek.id — Eksekusi di depan umum kembali digelar di Iran. Tiga pengunjuk rasa muda digantung di Isfahan, kota di bagian tengah negara itu, pada Selasa (28/7/2026).
Mengutip ABC News, Minggu (9/8/2026), ketiganya adalah Amirhossein Safari (27), Abolfazl Sepahi (23), dan Alireza Sepahi (25). Mereka dibawa dengan van ke Jalan Alikhani untuk menjalani hukuman gantung atas tuduhan yang berkaitan dengan aksi protes menentang rezim pada Januari lalu.
Perancah dan tali gantungan dipasang sejak dini hari. Sebuah derek didatangkan ke Lapangan Alikhani dan pasukan keamanan berkumpul di sekitarnya, sehingga muncul dugaan bahwa hukuman akan dijalankan secara terbuka.
Warga berdatangan ke lokasi begitu kabar rencana eksekusi menyebar. Saksi mata menuturkan kepada ABC News bahwa van pengangkut ketiga terpidana tiba dikawal sebuah truk bersenjata mesin.
PBB Catat 56 Eksekusi Sejak Maret
Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, Volker Türk, menyatakan rezim Republik Islam Iran telah mengeksekusi sedikitnya 56 orang atas tuduhan yang berkaitan dengan keamanan nasional sejak 19 Maret. Dua puluh tujuh di antaranya terkait unjuk rasa nasional pada Januari.
Lebih dari 100 orang lain terancam hukuman yang sama atas tuduhan serupa.
“Hukuman mati tidak sejalan dengan hak untuk hidup dan tidak dapat didamaikan dengan martabat manusia,” kata Türk. “Hukuman semacam itu tidak punya tempat di dunia kita.”
Sejumlah pengacara di dalam negeri mengatakan kepada ABC News bahwa jumlah sebenarnya orang yang terancam dieksekusi karena keterlibatan dalam protes bisa lebih besar daripada angka resmi.
Dalam perkara Alikhani saja, 12 pemuda dijatuhi hukuman mati dan beberapa lainnya divonis lima sampai sepuluh tahun penjara. Dari 12 orang itu, empat sudah digantung dan delapan sisanya masih menunggu giliran.
Baca juga: Serangan Israel ke Iran Tewaskan 865 Orang Menurut Laporan Aktivis HAM AS
Keluarga Ditekan agar Tidak Bicara
Amnesty International mengecam rangkaian hukuman gantung itu lewat pernyataan pada Selasa. Organisasi tersebut menyebut di antara para terpidana mati terdapat tiga orang yang ditangkap ketika masih anak-anak.
“Respons yang lemah dari komunitas internasional membuat otoritas Iran semakin berani melanjutkan amukan mematikan mereka. Negara-negara anggota PBB harus mengambil langkah diplomatik terkoordinasi secara mendesak untuk menekan otoritas Iran agar menghentikan eksekusi berikutnya,” demikian sebagian isi pernyataan Amnesty International.
Tekanan juga menyasar keluarga. Kerabat dan kawan para terpidana berulang kali diperingatkan aparat keamanan dan intelijen agar tidak berbicara kepada media, serta dilarang menghubungi keluarga terdakwa lain dalam perkara yang sama.
“Mereka menyiksa para tahanan berhari-hari supaya mengaku melakukan pembunuhan,” kata seorang anggota keluarga korban kepada ABC News.
“Hidup satu keluarga terbakar. Bukan hanya nyawa satu orang yang terancam. Kami semua terancam,” ujar kerabat lain.
Beberapa sumber yang dekat dengan para pengunjuk rasa yang dipenjara menyebut rezim mengancam akan menyasar anak-anak mereka yang lain apabila mereka berbicara kepada media.
Gelombang penindakan ini berlangsung setelah berbulan-bulan perang dengan Amerika Serikat dan unjuk rasa massal pada Januari.
Baca juga: Trump Umumkan Kesepakatan Gencatan Senjata Iran-Israel
Di luar isu hak asasi, Teheran juga masih berselisih dengan negara-negara Barat soal syarat pembukaan kembali Selat Hormuz.


















