Iran Yakin AS Akan Membiarkan Hormuz di Tangannya

Kapal-kapal tanker berlabuh di sebuah selat sempit di antara pesisir berbatu saat senja

Ilustrasi kapal tanker di jalur selat sempit. [Foto: Ilustrasi/Canva]

Cekricek.id — Selat Hormuz konon dinamai dari dewa Zoroaster yang ditakdirkan menang setelah bersitegang selama sembilan ribu tahun melawan lawannya. Para pemimpin Iran merasa kemenangan mereka sudah di depan mata — dan tidak memerlukan kesabaran sepanjang itu.

Mengutip analisis The Associated Press yang ditulis Joseph Krauss dan Amir-Hussein Radjy, Sabtu (8/8/2026), Teheran bertaruh bahwa tekanan militer pada akhirnya akan memaksa Amerika Serikat menerima kendali Iran atas jalur perairan yang menjadi urat nadi energi dunia itu. Dan mereka yakin waktu berpihak kepada mereka.

Enam Alasan Teheran Merasa Menang

Perhitungan Iran, menurut AP, bertumpu pada hal-hal yang mereka ketahui tentang lawannya. Mereka tahu persediaan senjata utama AS seperti pencegat rudal canggih terus menipis. Mereka tahu perang ini sangat tidak populer di mata warga Amerika.

Mereka juga tahu bahwa selama selat sebagian besar tertutup, harga bahan bakar dan barang lain akan tetap tinggi menjelang pemilu Kongres AS pada November. Mereka tahu membuka selat dengan kekuatan militer akan mahal dan mungkin menuntut pengerahan pasukan darat. Dan mereka tahu sekutu Houthi di Yaman bisa memperluas perang sekaligus mengganggu jalur dagang besar lainnya.

Dengan logika itu, kesimpulan Teheran sederhana: Presiden Donald Trump tidak punya pilihan selain menyerah.

"Mereka yang memulai perang, tetapi akhirnya tidak pernah ada di tangan mereka. Kami selalu memutuskan sendiri kapan perang berakhir," tulis Mahdi Mohammadi, penasihat juru runding utama Iran, di media sosial. "Iran mengejar kekalahan musuh — bukan sebuah kesepakatan."

Kesepakatan dengan Oman

Iran menyatakan hampir mencapai kesepakatan dengan Oman untuk mengelola selat yang membentang di antara kedua negara itu. Syaratnya satu: AS harus mencabut blokade. Artinya, meski Teheran menyatakan tidak ada perundingan langsung, Trump tetap harus menyetujuinya.

Belum jelas apakah kesepakatan itu akan mengizinkan Iran memungut biaya lintas. Yang jelas, kesepakatan semacam itu akan meresmikan kendali Iran atas perairan yang sebelum perang berstatus jalur internasional terbuka — jalur yang mengangkut seperlima perdagangan minyak dan gas dunia.

Abdolreza Davari, analis yang pernah menjadi penasihat mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad, menyebut kendali efektif Iran atas selat telah memberi Teheran daya tawar terhadap AS dan negara-negara kawasan. "Lebih dari sekadar pendapatan dari selat, Iran ingin memastikan pengelolaan dan kedaulatannya atas selat itu," katanya kepada AP melalui sambungan telepon dari Teheran.

AP mencatat konsekuensi yang lebih luas: pengakuan formal atas kendali Iran, sekalipun hanya sebagian, akan memukul norma global tentang kebebasan navigasi dan menciptakan preseden yang meresahkan — bahwa sebuah negara bisa menutup titik sempit perdagangan sesuka hati.

China, yang membeli minyak dari Iran dan punya pengaruh atasnya, pada Mei lalu menyatakan bahwa "pelintasan yang normal dan aman" melalui selat itu harus dipulihkan.

Baca juga: UEA Tuduh Iran Hantam Tanker ADNOC di Selat Hormuz

Garis Merah yang Tak Bisa Dilanggar

Iran berkali-kali menegaskan Selat Hormuz tidak akan kembali menjadi jalur terbuka, dan mereka akan terus menyerang kapal yang mencoba melintas tanpa izin. Komando militer gabungan Iran menyebutnya "garis merah yang tidak bisa dilanggar".

"Bagi Iran, Selat Hormuz telah menjadi tuas strategis untuk penangkalan, menjaga keseimbangan kekuatan kawasan, dan menata ulang aturan keamanan di Teluk Persia," kata Mostafa Najafi, analis keamanan yang berbasis di Teheran.

Ada efek samping yang justru menguntungkan Teheran. "Isu atom, karena konflik di Selat Hormuz, terdorong ke pinggir, dan pada kenyataannya itu menguntungkan Iran," kata Rahman Ghahremanpour, analis yang berbasis di Iran. Menurutnya, kendali atas selat akan menjadi daya tawar bila perundingan nuklir kembali dibuka.

Taruhan yang Berisiko

Namun AP juga memaparkan sisi rapuh strategi itu. Serangan AS dan Israel telah menghantam basis industri Iran. Blokade AS memangkas sebagian besar ekspor minyaknya. Warga Iran menghadapi inflasi pangan tiga digit. Trump berulang kali mengancam serangan besar terhadap infrastruktur sipil seperti air dan listrik.

Pada Desember lalu, krisis mata uang memicu salah satu unjuk rasa antipemerintah terbesar dalam 47 tahun sejarah Republik Islam. Aparat merespons dengan penumpasan berdarah — ribuan orang tewas dan puluhan ribu ditahan.

Kekhawatiran juga muncul dari dalam lingkaran kekuasaan. Mohammad Javad Zarif, mantan menteri luar negeri yang ikut merundingkan kesepakatan nuklir 2015, menulis dalam sebuah esai bahwa capaian Iran dalam perang ini membuka "jendela luar biasa bagi diplomasi". Tetapi ia memperingatkan, bila kesepakatan tidak segera dicapai, "pemulihan ekonomi akan sulit, dan kemungkinan kerusuhan internal atau serangan baru, terutama setelah pemilu AS, tidak bisa dikesampingkan".

Perang ini sendiri sudah penuh kejutan. Setelah gelombang pertama serangan udara AS dan Israel pada 28 Februari menewaskan pemimpin tertinggi Iran dan sejumlah pejabat puncak, Trump sempat memperkirakan perang akan selesai dalam hitungan pekan.

Yang terjadi justru sebaliknya. Konflik itu, kata Ghahremanpour, malah membakar semangat para pemimpin Iran dan menggerakkan pendukung mereka. Teheran memakai selat itu "untuk menunjukkan bahwa mereka belum dikalahkan. Itu bisa meningkatkan legitimasi mereka di dalam negeri".

Tetapi ketahanan Iran ada batasnya. "Iran tidak bisa terus-menerus menjalankan strategi ini, dan pada satu titik, pada kenyataannya, mereka harus mencapai kesepakatan dengan Amerika," ujarnya.

Davari berpendapat lain. Untuk saat ini, katanya, Iran masih sanggup menahan tekanan. "Meski kondisi ekonominya sulit, kecil kemungkinan Iran akan mundur dari posisinya."

Baca juga: Mendag Temui UEA, Brasil, dan India di Sela BRICS

Bagi Indonesia, yang mengimpor sebagian minyak mentah dan LPG dari kawasan Teluk, hasil dari tarik-menarik ini bukan urusan yang jauh. Selama Hormuz belum kembali normal, ongkos energi dan biaya angkut laut yang ditanggung ekonomi dalam negeri akan tetap tinggi.

Baca Juga

Kapal-kapal komersial terlihat di dekat Selat Hormuz dari Musandam, Oman
UEA Tuduh Iran Hantam Tanker ADNOC di Selat Hormuz
Ilustrasi kapal-kapal tanker dan kargo lego jangkar di perairan menunggu izin berlayar
IRGC: Selat Hormuz Baru Dibuka Jika AS Terima Seluruh Syarat Iran
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif memegang dokumen perjanjian pertahanan bersama di Mekah, Jumat (7/8/2026)
Arab Saudi, Turki, dan Pakistan Teken Pakta Pertahanan di Mekah
Lokasi pembangunan ballroom di kompleks Gedung Putih Washington DC dengan derek dan rangka beton yang belum rampung
Pengadilan Banding AS Blokir Proyek Ballroom Gedung Putih Milik Trump
Polemik Konstitusional Muncul Usai Trump Perintahkan Bombardir Iran
Polemik Konstitusional Muncul Usai Trump Perintahkan Bombardir Iran
Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong memberikan pernyataan pers terkait dukungan Australia terhadap serangan AS ke Iran
Australia Dukung AS Serang Iran: Iran Tidak Boleh Punya Senjata Nuklir