Cekricek.id — Tim peneliti dari College of Design and Engineering, National University of Singapore (NUS), meminjam metode dari biologi evolusi untuk memetakan silsilah perkembangan arsitektur rumah toko atau shophouse khas Singapura. Dengan bantuan kecerdasan buatan, mereka menganalisis 1.276 foto fasad bangunan berlokasi geografis untuk mengidentifikasi 14 elemen arsitektural, lalu menyusunnya menjadi semacam pohon keluarga gaya bangunan.
Temuan itu dipaparkan Heng Chye Kiang, profesor di Departemen Arsitektur NUS, bersama Xue Xuan, yang saat penelitian berlangsung menjabat peneliti di NUS dan kini menjadi profesor di School of Architecture and Urban Planning, Suzhou University of Science and Technology, lewat artikel yang terbit dalam jurnal Nature Communications pada 2026.
Meminjam Kerangka Filogenetik dari Ilmu Evolusi
Rumah toko Singapura dikenal luas sebagai penanda visual kota itu, dengan deretan fasad berornamen yang berubah gayanya dari dekade ke dekade sejak era kolonial. Selama ini pemahaman tentang bagaimana gaya-gaya itu berkembang dan saling memengaruhi sebagian besar bersandar pada penilaian kualitatif para sejarawan arsitektur.
Tim NUS mengambil pendekatan berbeda: mereka menerapkan model AI pengenal objek untuk menandai elemen fasad seperti jendela, pilar, dan ornamen dari ribuan foto, lalu memakai metode analisis filogenetik yang lazim dipakai untuk merunut hubungan kekerabatan spesies dalam biologi evolusi guna memetakan hubungan antargaya fasad tersebut.
“Dengan mengubah pertanyaan arsitektur menjadi pertanyaan matematis, kami mengungkap benang merah perkembangan yang sebelumnya tak terlihat,” kata Heng.
AI Sebagai Pelengkap, Bukan Pengganti Arsitek
Xue menekankan bahwa kerangka kerja yang mereka bangun tidak dimaksudkan untuk menggantikan penilaian ahli warisan bangunan atau arsitek konservasi. “Kerangka kerja kami dirancang untuk melengkapi, bukan menggantikan, pakar arsitektur,” ujar Xue.
Hasil pemetaan itu menunjukkan pola perkembangan gaya fasad yang tidak selalu linear dari waktu ke waktu, melainkan bercabang dan kadang bertemu kembali, mirip pola evolusi konvergen pada makhluk hidup. Tim menyebut metode ini berpotensi diterapkan pada kajian warisan arsitektur di kota-kota lain yang memiliki kekayaan gaya bangunan bersejarah serupa, termasuk kawasan pecinan dan kota tua di Asia Tenggara.
Basis Data Terbuka untuk Peneliti Warisan Kota
Selain hasil analisisnya, tim NUS turut mempublikasikan kumpulan data foto berlokasi geografis dan kode analisisnya secara terbuka, sehingga peneliti lain dapat menguji ulang atau memperluas metode itu ke kota-kota bergaya arsitektur peranakan lainnya. Langkah ini sejalan dengan tren yang lebih luas di NUS untuk menerapkan kecerdasan buatan pada persoalan-persoalan riset di luar bidang komputer, termasuk pelestarian warisan budaya perkotaan.
Baca juga: Ditressiber Polda Jabar Bongkar Ujaran Kebencian Berbasis AI di Cimahi, Dua Tersangka Diamankan
Baca juga: SK hynix Gelontorkan Investasi Besar demi Memori AI

















