Paulina Salas dan Bukti yang Tak Bisa Diajukan

A A

Ilustrasi sebuah kursi kayu berdiri sendirian di panggung terbuka yang kosong. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Teater yang berbicara tentang kekuasaan hampir selalu dibayangkan sebagai panggung yang riuh, tempat orang berpidato, mengepalkan tangan, dan menyebut nama rezim dengan suara yang sengaja ditinggikan. Lakon Maut dan Sang Dara karya Ariel Dorfman, dalam terjemahan Mimi Notokusumo, memilih jalan yang hampir berlawanan: satu rumah, tiga orang, satu malam yang panjang, dan sebuah pistol yang nyaris tidak perlu meletus. Kajian Wenhendri dan Edy Suisno dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang, Penokohan dalam Lakon Maut dan Sang Dara, yang terbit di Creativity and Research Theatre Journal Volume 7 Nomor 1 tahun 2025, membaca lakon itu bukan dari peristiwanya, melainkan dari watak orang-orang yang terkurung di dalamnya.

Perempuan yang menjadi pusat lakon itu bernama Paulina Salas. Lima belas tahun sebelum malam tersebut, ketika ia masih berstatus mahasiswi, ia diculik, disiksa, dan mengalami kekerasan seksual oleh seorang oknum pada masa rezim militer Augusto Pinochet di Chili. Yang tersisa dari peristiwa itu bukan hanya luka, melainkan juga sebuah kebiasaan pelakunya yang menempel di ingatan: komposisi Death and the Maiden karya Franz Schubert selalu diputar setiap kali ia beraksi. Malam itu, tanpa direncanakan siapa pun, suara yang dahulu menemani penyiksaan itu kembali masuk ke rumahnya sendiri.

Suaminya, Gerardo Escobar, baru saja diangkat menjadi ketua komisi penyelidikan kasus-kasus kekerasan pada rezim lama, dan malam itu ia membawa pulang seorang tamu. Tamu itu bernama Dokter Miranda. Paulina tidak melihat wajahnya lebih dulu; ia mendengar cara tamu itu tertawa, lalu mendengar susunan kata yang dipakainya. Dari dua hal itu, dan bukan dari secarik bukti tertulis mana pun, ia menyimpulkan bahwa laki-laki yang sedang duduk di ruang tamu rumahnya adalah orang yang dahulu menyekapnya. Sebelum malam berakhir, tamu itu sudah terikat dan sebuah pistol tertodong dari jarak dekat.

Daftar Isi
  1. Ingatan yang Bekerja Lewat Telinga
  2. Tiga Dimensi yang Tidak Saling Membenarkan
  3. Suami yang Berdiri di Pihak Prosedur
  4. Pengakuan yang Datang Terlambat

Ingatan yang Bekerja Lewat Telinga

Ilustrasi sekelompok pemain alat gesek memainkan biola dan selo.
Ilustrasi sekelompok pemain alat gesek memainkan biola dan selo. [Foto: Pexels]

Wenhendri dan Edy Suisno menaruh perhatian besar pada pemicu yang tidak lazim itu. Pengenalan Paulina tidak berjalan lewat mata melainkan lewat telinga, dan justru di situlah kesulitan lakon ini berpangkal: bukti yang paling meyakinkan bagi seorang korban adalah bukti yang paling sulit diajukan ke hadapan hakim. Peristiwa pendorong yang pertama, tulis keduanya, bahkan datang lebih awal lagi, yakni ketika Paulina mendengar nama suaminya disebut di radio sebagai ketua komisi penyelidikan. Ia marah mendengarnya. Baginya komisi semacam itu hanyalah permainan yang tidak akan sanggup menegakkan keadilan bagi orang seperti dirinya.

Baca juga Singkatan Gaul dan Satuan Baku di Komentar TikTok

Dari sana pembacaan keduanya bergerak ke tubuh. Dalam naskah, ciri fisik Paulina nyaris tidak dirinci, dan kedua peneliti mengakui keterbatasan itu secara terbuka; yang mereka lakukan adalah menafsir dari isyarat kecil yang tersedia. Rambut yang dipotong pendek mereka baca sebagai usaha seorang penyintas untuk tampil berbeda dari dirinya yang dahulu, semacam cara menjauh dari tubuh yang pernah dilukai. Tafsir semacam itu terbuka untuk dibantah, tetapi ia menunjukkan bagaimana penokohan bekerja di atas panggung: penonton menerima watak lewat pilihan-pilihan yang tampak sepele.

Tiga Dimensi yang Tidak Saling Membenarkan

Metode yang dipakai keduanya adalah pembacaan tokoh secara tiga dimensi — fisiologis, sosiologis, dan psikologis — yang dalam kajian drama biasa dilekatkan pada nama Lajos Egri, lalu dilengkapi dengan kerangka David Letwin tentang arsitektur lakon. Letwin menulis bahwa karakter utama adalah orang yang dilihat dan dipikirkan sebagai “cerita itu tentang dia”, dan dari kalimat sependek itulah berdiri seluruh timbangan yang dipakai kedua peneliti untuk menakar siapa sebenarnya yang memegang lakon ini. Rumusan itu memindahkan pertanyaan dari siapa yang paling banyak berbicara menjadi siapa yang paling banyak menanggung akibat. Letwin juga menyodorkan lima syarat bagi karakter utama: ia menggerakkan cerita lewat tindakannya, ia mempunyai kemauan, ia tidak menyerah sekecil apa pun peluangnya, ia sanggup menimbulkan empati, dan ia menjadi sudut pandang penulis naskah. Paulina, menurut kedua peneliti, memenuhi kelimanya sekaligus. Yang menarik justru cara syarat keempat bekerja: empati pembaca datang bukan karena Paulina digambarkan lembut dan pantas dikasihani, melainkan karena ia digambarkan keras, curiga, dan bersenjata. Lakon ini menolak memberi korban sebuah wajah yang enak dipandang, dan penolakan itu yang membuat penontonnya tidak nyaman.

Baca juga Poster Keuangan dan Ujian Menulis Persuasif Digital

Lapisan psikologisnya dibaca dengan lebih hati-hati. Kedua peneliti menempatkan Paulina sebagai orang yang hidup dengan gangguan traumatik, dan mereka memilah riwayatnya menjadi tiga masa: sebelum peristiwa, selama peristiwa, dan sesudahnya. Pemilahan itu penting karena lakon tidak berjalan lurus; ia terus melipat kembali ke masa yang sudah lewat. Mereka juga mengutip literatur psikologi klinis yang mencatat bahwa gangguan semacam itu dapat dipicu oleh pengalaman perang, kekerasan seksual, penganiayaan fisik, maupun bencana alam. Secara sosiologis, Paulina bukan orang tanpa kedudukan — ia istri seorang pejabat yang ditunjuk langsung presiden — dan justru kedudukan itu yang tidak menolongnya sama sekali.

Suami yang Berdiri di Pihak Prosedur

Rintangan terbesar Paulina, dalam pembacaan itu, tidak datang dari Dokter Miranda melainkan dari suaminya sendiri. Gerardo Escobar digambarkan berumur empat puluh lima tahun, berpenampilan rapi, dekat dengan presiden, dan berpikir dengan logika hukum yang tertib. Ia menghendaki Miranda dilepaskan. Bukan karena ia tidak percaya kepada istrinya, melainkan karena ia percaya kepada prosedur yang baru saja dipercayakan negara kepadanya. Konflik utama lakon ini karena itu bukan pertarungan antara yang benar dan yang salah, melainkan antara dua orang yang sama-sama merasa sedang melakukan hal yang paling tepat.

Di seberang keduanya berdiri Dokter Miranda: laki-laki lima puluh tahun, berkepala botak, berpakaian rapi, penggemar musik klasik, berwawasan luas, dan — menurut pembacaan kedua peneliti — pintar sekaligus licik. Ia dahulu ditunjuk oleh pemerintahan militer, dan pada malam itu ia berbicara dengan nada yang seolah-olah berpihak pada perubahan. Wenhendri dan Edy Suisno menilai kecenderungan itu sebagai pencitraan yang sengaja dibangun agar ia tampak sejalan dengan Gerardo. Pandangan politiknya pun sengaja dipasang berseberangan dengan Gerardo, dan kedua peneliti membacanya sebagai cara membela diri atas apa yang pernah ia kerjakan. Watak semacam inilah yang membuat lakon Dorfman terasa belum selesai bahkan setelah layar diturunkan.

Pengakuan yang Datang Terlambat

Klimaksnya sederhana, dan justru karena itu terasa keras. Paulina memberikan pengakuannya sendiri lebih dulu, lalu Miranda menyusul dengan pengakuan yang panjang tentang apa yang mendorongnya melakukan penyiksaan. Namun yang benar-benar mengunci bukanlah pengakuan itu, melainkan sebuah jebakan kecil: ketika Paulina sengaja menyebut nama-nama pelaku lain secara keliru, Miranda membetulkannya. Orang yang mengoreksi sebuah daftar nama, dengan sendirinya, mengakui bahwa ia pernah berada di dalam daftar tersebut. Tidak ada dokumen, tidak ada saksi, tidak ada ruang sidang; yang ada hanya satu koreksi yang tidak sengaja.

Baca juga Kajian Bahasa Sandi di Forum Gelap Kota Malang

Kekuatan lakon ini, dalam penilaian kedua peneliti, terletak pada dialognya. Setiap tokoh diberi alasan yang kuat untuk mempertahankan pendiriannya, sehingga tiap babak berakhir pada puncak perdebatan dengan bobot yang berbeda-beda namun terus menguat. Tidak ada pihak yang dibiarkan bodoh demi memenangkan pihak lain. Karena itu ketegangannya tidak lahir dari pistol yang tertodong, melainkan dari kenyataan bahwa ketiga orang di rumah itu sama-sama sanggup menjelaskan dirinya dengan masuk akal. Penonton yang mencoba memihak akan mendapati pijakannya berpindah beberapa kali sebelum pertunjukan usai. Dorfman sendiri, tulis kedua peneliti, menaruh harapan pada satu hal yang sederhana dan justru paling sulit dipenuhi: pengakuan dari mulut pelakunya, supaya orang yang bersalah dapat dibawa ke pengadilan.

Bagi Dorfman, menurut kedua peneliti, pengakuan semacam itulah yang justru tidak pernah datang di luar panggung. Mereka menempatkan lakon ini pada persoalan yang mereka sebut masih hidup di banyak negara berkembang: rezim baru yang tidak sanggup memutus rantai kebobrokan hukum rezim lama, bahkan memberi tempat kepada orang-orang yang dahulu terlibat di dalamnya. Garis perempuan yang melawan kekuasaan itu sendiri mereka tarik jauh ke belakang, sampai ke Antigone karya Sophocles pada 442 SM, yang dihukum kubur hidup-hidup karena menguburkan jenazah saudaranya secara layak. Kajian ini mempunyai batas yang diakui penulisnya sendiri. Naskahnya tidak merinci ciri fisik para tokoh, sehingga sebagian pembacaan atas tubuh mereka dibangun dari tafsir, bukan dari keterangan yang tertulis. Objeknya pun satu naskah terjemahan, bukan sebuah pementasan, dan bukan pula perbandingan lintas negara; keduanya justru menyarankan kajian lanjutan atas naskah bertema serupa di negara berkembang lain. Satu lakon, betapa pun kuat, tidak bisa dijadikan potret seluruh cara teater memperlakukan korban kekerasan politik.

Yang tersisa dari pembacaan ini adalah sebuah ganjalan yang tidak dijawab papernya. Kedua peneliti menyimpulkan bahwa Paulina mewakili suara korban yang menuntut keadilan, sementara Gerardo mewakili idealisme yang tunduk pada kompromi sistem politik yang baru. Tetapi kalau bukti yang paling meyakinkan bagi seorang penyintas justru berupa cara tertawa, susunan kata, dan sepotong musik — hal-hal yang tidak bisa dilampirkan ke dalam berkas perkara — di mana sebenarnya letak keadilan yang sedang dibicarakan komisi bentukan Gerardo itu?

Bagikan

Baca Juga

Memerankan Ham yang Buta dan Lumpuh dengan Teknik Meisner
Hari Ini, GKB Gelar Dua Pementasan
DAK Nonfisik Tekan Kemiskinan, DAK Fisik Bekerja di Kepulauan
Soneta Wing Kardjo yang Menampung Novel Mochtar Lubis
199 Ujaran Kebencian di Kolom Komentar TikTok
Mawar Melapor Pelecehan, Abah Menjawab Kodrat