Remaja Tunanetra Denmark Memilih Tak Bertindak Buta demi Diterima

A A

Remaja tunanetra belajar menggulung tali lewat sentuhan dan arahan temannya di India [Foto: Sumita Roy Dutta/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Para partisipan sangat menekankan pentingnya menyesuaikan diri dengan perilaku teman sebaya.
  • Bertindak buta, dalam cerita mereka, berarti menolak kegiatan atau menarik diri dari pergaulan, terlepas dari seberapa berat gangguan penglihatan yang sebenarnya.
  • Hampir semua partisipan menceritakan kesulitan mendapatkan materi belajar yang disesuaikan.
  • Menurut para penulis, kemampuan menjalankan siasat ini tidak merata, sehingga sebagian remaja berisiko lebih besar untuk dikucilkan.
Daftar Isi
  1. Teman sebaya yang menjadi jaring pengaman, dan sekolah yang berubah menjadi masa paling sepi bagi mereka yang tidak memilikinya
  2. Rumah tempat keberanian itu dibentuk, di antara ibu yang cemas melepas dan ayah yang menyuruh anaknya keluar untuk jatuh lagi
  3. Di dunia orang yang melihat, buku pelajaran datang terlambat dan tenaga sudah habis sebelum teman-teman berangkat berpesta
  4. Jangan bertindak buta, aturan tak tertulis yang menentukan siapa tetap diajak bermain dan siapa perlahan tersisih dari lingkaran
  5. Yang belum bisa dijawab tiga belas wawancara, serta beberapa catatan janggal yang masih bisa diperiksa sendiri oleh pembaca naskahnya

Ia payah bermain sepak bola, dan ia tahu sebabnya ada pada matanya. Namun setiap kali teman-temannya mengajak, remaja laki-laki berusia 17 tahun itu selalu ikut. Ia tidak pernah menolak. Menurut ceritanya sendiri, justru karena tidak pernah menolak itulah ia terus diajak bermain.

Kisah itu dicatat Nina Milde, Line Kessel, Ann-Cathrine Larsen, dan Kristian Larsen dalam “Do not act blind”: findings from qualitative interviews with adolescents and adults living with a visual impairment or blindness, BMC Public Health volume 26 nomor 1655, tahun 2026. Milde bekerja di Departemen Oftalmologi Copenhagen University Hospital – Rigshospitalet di Glostrup, Denmark, bersama Kessel dan Ann-Cathrine Larsen, sedangkan Kristian Larsen adalah profesor sosiologi di University of Copenhagen.

Mereka mewawancarai 13 orang yang sejak kecil hidup dengan gangguan penglihatan atau kebutaan, lima remaja berusia 16 sampai 17 tahun dan delapan orang dewasa berusia 24 sampai 30 tahun yang menoleh ke masa remajanya. Dari cerita mereka, satu aturan tak tertulis muncul berulang kali. Jangan bertindak buta.

Pertanyaan yang mendorong riset ini datang dari kejanggalan di negeri mereka sendiri. Denmark punya registri nasional anak dengan gangguan penglihatan, dan lewat registri itu kacamata, lensa kontak, kaca pembesar, teropong, serta teknologi bantu dibiayai. Toh, studi para penulis sebelumnya mendapati kualitas hidup dan tingkat kelelahan remaja tunanetra setara atau lebih buruk dari anak yang menderita penyakit mengancam jiwa atau baru selesai menjalani terapi kanker.

Suara remaja tunanetra Denmark dan yang menoleh ke belakang13 wawancara: 5 remaja 16-17 tahun dan 8 dewasa 24-30 tahun, menghasilkan tiga tema.Suara remaja tunanetra Denmark dan yangmenoleh ke belakangSemua tercatat di registri anak gangguan penglihatan13wawancaraperorangan, diDenmark5remajausia 16-17 tahun8dewasa mudausia 24-30 tahun252halamantranskripwawancaraJalan risetnyaJaringan pendukungDunia orang yang melihatJangan bertindak butaTiga kotak bawah adalah tiga tema yang dirumuskan dari wawancara.
Sumber: Nina Milde, Line Kessel, Ann-Cathrine Larsen, dan Kristian Larsen, “Do not act blind”: findings from qualitative interviews with adolescents and adults living with a visual impairment or blindness, BMC Public Health, 26(1655), 2026. Grafik: Cekricek.id

Teman sebaya yang menjadi jaring pengaman, dan sekolah yang berubah menjadi masa paling sepi bagi mereka yang tidak memilikinya

Ketika diminta menceritakan rasanya menjadi muda dengan mata yang tidak awas, para partisipan hampir selalu berbicara tentang orang-orang di sekitarnya. Seorang pria berusia 25 tahun menyebut teman-teman sekolah dasarnya sebagai jaring pengaman. Ia yakin merekalah alasan ia bisa merasa nyaman dengan dirinya hari ini, karena apa pun yang terjadi, jaringan itu tetap ada.

Jaringan semacam itu bukan sekadar teman bercerita. Menurut temuan Milde dan rekan-rekannya, teman sebaya membuka akses pada bantuan informal yang membuat hari-hari lebih mudah dijalani. Seorang perempuan berusia 26 tahun menyebut mereka sebagai orang-orang yang membantu seseorang tumbuh dalam apa pun yang sedang dikerjakannya.

Sisi sebaliknya jauh lebih gelap. Para partisipan yang pernah dirundung karena gangguan penglihatannya mengenang sekolah sebagai masa sepi, tanpa jaringan dekat, melelahkan, dan rentan. Tanda fisik seperti nistagmus, gerakan bola mata yang tak terkendali, atau kulit yang sangat pucat mereka rasakan sebagai pemicu untuk disorot dan dikucilkan dari kelompok.

Seorang perempuan berusia 25 tahun mengingat perundungan yang tak berhenti meski ia berkali-kali pindah sekolah. Anak-anak memukul dan menendangnya saat ia masuk kelas pada pagi hari, mengerumuninya dalam lingkaran, mendorongnya, dan meneriakinya dengan julukan yang merujuk pada kebutaan. Seorang pria berusia 30 tahun menyebut masa itu sebagai pertarungan menanjak, sendirian melawan dunia.

Baca juga Disabilitas Vietnam: Divaksin Setara, Jalan ke Sana Tak Setara

Yang menarik, mereka yang merasa punya jaringan erat menegaskan bahwa jaringan itu hasil usaha sadar. Mereka aktif membangun dan menjaga hubungan, bersikeras ikut serta meski sebagian kegiatan lebih sulit dimasuki karena gangguan penglihatannya. Sebagian kecil juga menemukan kedekatan dengan sesama tunanetra, tempat banyak hal tidak perlu lagi dijelaskan panjang lebar.

Rumah tempat keberanian itu dibentuk, di antara ibu yang cemas melepas dan ayah yang menyuruh anaknya keluar untuk jatuh lagi

Keberanian untuk ikut serta ternyata tidak datang dari ruang kosong. Beberapa partisipan mengaitkan rasa percaya dirinya dengan orang tua yang mendorong mereka semandiri mungkin, sambil tetap membantu ketika perlu. Orang tua seperti ini bersikeras anaknya ikut dalam kehidupan sehari-hari seperti saudara atau teman yang bisa melihat, tanpa dibatasi hanya karena gangguan penglihatannya.

Seorang pria berusia 25 tahun menyebut orang tuanya pengertian tetapi tidak berlebihan dalam berempati, dan ia mendapat dorongan yang memang ia butuhkan. Seorang pria berusia 27 tahun menggambarkan tarik-menarik di rumahnya sendiri. Ibunya terlalu protektif dan tidak ingin ia keluar lagi setiap kali ia jatuh dan terluka, sedangkan ayahnya menyuruhnya keluar saja dan menerima beberapa benturan lagi.

Ada juga yang merasa orang tuanya kesulitan menemukan keseimbangan itu, sering kali karena anak itulah orang pertama di keluarga yang hidup dengan gangguan penglihatan. Yang lain merasa orang tuanya tidak pernah benar-benar menerima bahwa sang anak menghadapi hambatan untuk bergaul setara. Seorang remaja 16 tahun bercerita bahwa keluarganya kadang lupa, menyuruhnya melihat sesuatu yang memang tidak bisa ia lihat.

Dalam pembacaan para penulis, pola asuh itu ikut menentukan posisi seorang remaja kelak di tengah teman sebaya. Dukungan emosional, dorongan untuk mandiri, dan pembelaan orang tua melahirkan cerita tentang rasa percaya diri. Sebaliknya, perlindungan berlebih, ketidakpahaman, atau sumber daya yang terbatas cenderung mendorong ke posisi yang lebih rentan.

Dua posisi remaja tunanetra di tengah teman sebayaRemaja yang didorong mandiri cenderung aktif dan menyamarkan gangguan; yang dilindungi berlebihan cenderung menarik diri.Dua posisi remaja tunanetra di tengah temansebayaPembacaan penulis atas cerita para partisipanPosisi diuntungkanPosisi dirugikanDidorong mandiriTerlalu dilindungiPola asuhAktif, ekstroverMenarik diriSikap bergaulSembunyikanBertindak butaSiasatLebih kecilLebih tinggiRisiko dikucilkanBertindak buta: menolak kegiatan atau menarik diri, terlepas daritingkat gangguan.
Sumber: Nina Milde, Line Kessel, Ann-Cathrine Larsen, dan Kristian Larsen, “Do not act blind”: findings from qualitative interviews with adolescents and adults living with a visual impairment or blindness, BMC Public Health, 26(1655), 2026. Grafik: Cekricek.id

Di dunia orang yang melihat, buku pelajaran datang terlambat dan tenaga sudah habis sebelum teman-teman berangkat berpesta

Sekolah adalah tempat sebagian besar pergaulan itu terjadi, dan di sanalah hambatan paling terasa. Hampir semua partisipan menceritakan kesulitan mendapatkan materi belajar yang disesuaikan. Masalah muncul setiap kali datang guru baru, ketika guru tidak paham kebutuhan murid tunanetra, atau ketika pengajaran modular membuat ruang kelas dan pengajar terus berganti.

Seorang remaja 17 tahun mengeluh harus kembali menjelaskan kebutuhan materinya setiap kali ganti guru bahasa Inggris, padahal ia hanya ingin mengikuti pelajaran. Seorang remaja 16 tahun bercerita butuh sekitar dua tahun sampai ia mendapat layanan NOTA, pusat perpustakaan Denmark bagi penyandang hambatan membaca cetak, agar buku-bukunya bisa dibacakan di sekolah.

Usaha tambahan itu menguras tubuh dan pikiran. Seorang remaja perempuan 16 tahun menggambarkan rasa lelah sepulang hari sekolah yang padat, setelah berjam-jam memandangi kertas. Seorang remaja laki-laki bercerita harus berbaring di tempat tidur setidaknya tiga jam setiba di rumah, lalu terlalu lelah untuk ikut berpesta bersama teman sekelasnya selepas Jumat yang panjang.

Menurut para penulis, sekolah dibangun di atas kecepatan, hal-hal yang kasatmata, dan penilaian terus-menerus. Murid tunanetra harus terus menambal tuntutan visual itu lewat jalan memutar, dan beban kerja yang berlipat inilah yang mudah berujung kelelahan. Meski begitu, beberapa partisipan menerima bahwa mereka memang harus bertemu orang di dunia orang yang melihat, karena di sanalah kebanyakan orang berada.

Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma

Siasat untuk bertahan pun beragam. Ada yang membangun keahlian khusus agar teman-temannya yang datang menghubungi. Ada yang merasa harus selalu tampil paling baik. Seorang pria berusia 27 tahun bercerita bahwa ketika pergi minum bersama teman-temannya, mereka sepakat memakai kemeja putih agar ia tetap bisa mengenali mereka di bar yang gelap.

Pengalaman seorang perempuan berusia 25 tahun berlawanan arah. Teman-temannya mengajaknya keluar, tetapi ia justru ketakutan mereka akan melupakannya setelah minum beberapa gelas. Dunia orang yang melihat, bagi sebagian partisipan, terasa begitu menekan dan mengintimidasi sehingga mereka memilih mundur dari kegiatan itu.

Jangan bertindak buta, aturan tak tertulis yang menentukan siapa tetap diajak bermain dan siapa perlahan tersisih dari lingkaran

Di titik inilah judul riset itu lahir. Para partisipan sangat menekankan pentingnya menyesuaikan diri dengan perilaku teman sebaya. Seorang pria berusia 30 tahun mengenang bahwa pada usia itu ia hanya ingin normal dan sama seperti orang lain, dan ia merasa cukup pandai membuat penglihatannya yang buruk setidak kasatmata mungkin.

Bertindak buta, dalam cerita mereka, berarti menolak kegiatan atau menarik diri dari pergaulan, terlepas dari seberapa berat gangguan penglihatan yang sebenarnya. Remaja pemain sepak bola di awal tulisan ini mengakui pernah melakukannya. Menurutnya, siapa yang sengaja menghindar karena merasa tidak bisa melihat, lalu tidak pernah mengambil risiko, akan tersisih.

“Kalau kamu bersikap seolah bisa melihat, orang tidak memikirkannya, dan kamu tidak dikucilkan atau semacamnya. Kebanyakan orang yang saya kenal sering lupa bahwa saya tidak bisa melihat, dan itu karena saya tidak bertindak buta,” kata remaja 17 tahun yang dicatat penulis dengan kode 17, M, 5. Ucapannya aslinya berbahasa Inggris dalam naskah.

Para penulis membaca siasat itu sebagai upaya menyembunyikan gangguan. “Para remaja berusaha lolos tanpa ada yang menyadari gangguan mereka, sebuah strategi yang dapat dipandang sebagai cara mengurangi risiko stigma,” tulis Milde, Kessel, Ann-Cathrine Larsen, dan Kristian Larsen dalam abstrak naskah yang aslinya berbahasa Inggris itu.

Caranya macam-macam. Ada yang mengejar nilai tinggi, ikut olahraga yang pada dasarnya terlalu sulit, melontarkan lelucon cepat, atau bersikap sangat ekstrover. Menurut para penulis, kemampuan menjalankan siasat ini tidak merata, sehingga sebagian remaja berisiko lebih besar untuk dikucilkan.

Harga siasat itu dibayar dari dua arah. Kesejahteraan remaja tunanetra tergerus oleh kompensasi berlebih yang terus-menerus demi menyembunyikan gangguannya, dan juga oleh kelelahan karena terlanjur diposisikan sebagai pihak yang tersisih. “Secara bersama-sama, temuan ini mengungkap bahwa kesejahteraan dan kelelahan remaja yang hidup dengan gangguan penglihatan atau kebutaan bukan semata soal keterbatasan fungsi, melainkan tertanam dalam relasi sosial, dinamika arena, dan proses stigma,” tulis mereka.

Baca juga Sekolah Filipina Tutup 29 Bulan, Murid Lupa Wajah Teman Sekelas

Yang belum bisa dijawab tiga belas wawancara, serta beberapa catatan janggal yang masih bisa diperiksa sendiri oleh pembaca naskahnya

Temuan ini berasal dari 13 orang di Denmark, dan para penulis sendiri mengingatkan batasnya. Peserta direkrut dari basis data studi sebelumnya, sehingga ada risiko bias sukarelawan. Remaja perempuan berusia 16 sampai 17 tahun hanya terwakili sedikit, dan panduan wawancara disusun tanpa melibatkan orang tunanetra. Denmark juga negara berpenghasilan tinggi dengan tunjangan kesejahteraan yang luas, sehingga temuan ini belum tentu berlaku di tempat lain.

Ada pula beberapa hal janggal di dalam naskah. Kutipan tentang berbaring tiga jam sepulang sekolah diberi label 17, M, 1, padahal Tabel 1 mencatat partisipan nomor satu berusia 16 tahun, dan kutipan lain dari partisipan yang sama selalu berlabel 16, M, 1. Pendahuluan menyebut tinjauan pustaka tahun 2024 karya Lanze dan kawan-kawan, sementara daftar pustakanya menulis nama Lanza.

Studi potong lintang nasional yang disebut sebagai riset terbaru para penulis, sekaligus sumber rekrutmen peserta, tercantum di daftar pustaka dengan keterangan naskah dalam persiapan. Artinya, angka kualitas hidup dan kelelahan yang memicu riset ini belum bisa diperiksa pembaca. Para penulis juga mempertanyakan mengapa sebagian besar partisipan tidak ikut dalam jaringan sesama tunanetra, dan pertanyaan itu dibiarkan terbuka.

Remaja pemain sepak bola itu, menurut ceritanya sendiri, selalu diajak bermain. Ia tetap payah karena penglihatannya, dan kebanyakan orang yang ia kenal sering lupa bahwa ia tidak bisa melihat. Ia hanya tidak pernah menolak ajakan itu.

Bagikan

Baca Juga

Beras Fortifikasi Bawa Tiga Vitamin dan Dua Mineral Tambahan
Minuman Energi Lebih Sering Diminum Orang Jepang Ekstrovert
Kantong Plastik Lira Uganda: Warga Tahu, tapi Tetap Salah Buang
Cemas Radiasi Warga Fukushima Bertahan Tujuh Tahun Pascabencana
Nyeri Otot dan Sendi Terkait Kambuhnya Penyakit Kardiovaskular
Pakar IPB: Makanan Sisa Aman 3-4 Hari di Suhu 4 Derajat