Cekricek.id — S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit atau sovereign credit rating Indonesia di level BBB, kategori layak investasi, dengan outlook stabil. Keputusan ini diumumkan pada 13 Juli 2026 dan memberi kelegaan bagi pelaku pasar yang sebelumnya mengkhawatirkan kemungkinan penurunan peringkat.
Mengutip laporan BigGo Finance, Senin (13/7/2026), afirmasi S&P ini datang setelah dua lembaga pemeringkat lain, Moody's dan Fitch, lebih dulu menurunkan outlook peringkat Indonesia menjadi negatif pada tahun ini. S&P menyoroti rekam jejak disiplin fiskal pemerintah Indonesia lintas periode pemerintahan, termasuk langkah Pemerintahan Prabowo memangkas sekitar sepertiga anggaran program makan bergizi gratis sebagai bagian dari konsolidasi fiskal.
Rupiah dan Saham Sempat Tertekan
Keputusan S&P muncul di tengah tekanan pada sejumlah indikator pasar keuangan domestik. Nilai tukar rupiah sempat berada mendekati level terendah sepanjang sejarah di kisaran Rp18.000 per dolar AS, indeks saham acuan turun sekitar 30 persen sepanjang tahun berjalan, dan kerugian dari obligasi rupiah berlindung nilai dolar mencapai 10 persen.
Pelaku Pasar Sambut Positif
Handy Yunianto, Kepala Riset Pendapatan Tetap PT Mandiri Sekuritas, menyebut keputusan S&P sebagai kabar baik yang cukup mengejutkan sejumlah pelaku pasar.
“Finally some good news has arrived. Many market participants had been expecting a downgrade, or at least a shift to a negative outlook,” kata Handy, yang bila diterjemahkan berarti akhirnya ada kabar baik, sementara banyak pelaku pasar sebelumnya memperkirakan penurunan peringkat atau setidaknya pergeseran menjadi outlook negatif.
Christopher Wong, strategis di OCBC, menilai keputusan itu turut menopang nilai tukar rupiah dalam jangka pendek. “S&P's decision is somewhat supportive for the rupiah. It removes immediate downgrade risk and signals confidence that recent fiscal and external pressures are temporary and manageable,” ujarnya, yang berarti keputusan S&P cukup menopang rupiah karena menghilangkan risiko penurunan peringkat dalam waktu dekat sekaligus menandakan keyakinan bahwa tekanan fiskal dan eksternal belakangan ini bersifat sementara dan dapat dikendalikan.
Mohit Mirpuri, manajer investasi di SGMC Capital, mengingatkan agar keputusan ini tidak disikapi dengan berlebihan. “This is not a time for complacency, but it is an achievement,” katanya, yang berarti ini bukan saatnya berpuas diri, meski tetap merupakan sebuah pencapaian.
Modal Menjaga Kepercayaan Investor
Afirmasi peringkat kredit ini menjadi salah satu penopang kepercayaan investor asing terhadap perekonomian Indonesia, sejalan dengan posisi cadangan devisa Juli 2026 yang tetap terjaga di USD145,3 miliar. Stabilitas sektor keuangan turut tecermin dari kinerja perbankan nasional, setelah Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp30,4 triliun pada kuartal II 2026, tumbuh 24,4 persen.
Kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan moneter turut menjadi perhatian menjelang proses pergantian kepemimpinan Bank Indonesia, dengan Destry Damayanti diajukan sebagai calon tunggal Gubernur BI, sebuah proses yang turut dipantau lembaga pemeringkat sebagai bagian dari penilaian kesinambungan kebijakan makroekonomi Indonesia ke depan.





















