Cekricek.id — Siswa sekolah dasar di kawasan pesisir Padang mendapat cara baru mempelajari mitigasi bencana: komik digital yang dibuka lewat ponsel. Aplikasi itu dikembangkan tim dosen Universitas Negeri Padang (UNP) dan diperkenalkan langsung di ruang kelas SD Negeri 01 Bungo Pasang, Padang, pada Jumat (7/8/2026).
Dikutip dari laman resmi Universitas Negeri Padang, unp.ac.id, Senin (10/8/2026), program pengabdian itu menyasar ancaman hidrometeorologi yang berulang di sekitar sekolah tersebut — banjir, longsor, angin kencang, dan cuaca ekstrem. Tim diketuai Dr. Mahesi Agni Zaus, dengan anggota Ade Irferamuna, M.Pd., Hayyu Yumna, M.Pd., Dr. Rizky Ema Wulansari, S.Pd., M.Pd.T., dan Dr. Syaiful Islami, S.Pd., M.Pd.T. Kegiatan digelar bersama Kelompok Siaga Bencana setempat yang diketuai Yuliasman, S.Sos.
Materi Kebencanaan Dipindahkan ke Layar
Isi komik disusun sebagai cerita bergambar interaktif yang dapat dijalankan di telepon pintar, lengkap dengan simulasi sederhana yang bisa diulang siswa di luar jam pelajaran. Pilihan medianya bukan hal sepele: penyuluhan kebencanaan di sekolah umumnya berlangsung sekali datang, lalu selesai ketika penyuluhnya pulang.
Persoalan itu yang disebut ketua tim sebagai alasan pengembangan aplikasi tersebut.
“Kami ingin materi tentang kebencanaan tidak hanya disampaikan dalam bentuk penyuluhan, tetapi juga dapat dipelajari kembali oleh anak-anak melalui media yang dekat dengan keseharian mereka,” kata Dr. Mahesi Agni Zaus, ketua tim pengabdian UNP.
Baca juga: Arsip Kolonial dan Tanda Alam, Dua Sumber yang Belum Dipakai untuk Mitigasi Marapi
Konsekuensi rancangan itu terletak pada pengulangan. Komik yang tersimpan di ponsel bisa dibuka kapan saja, sementara materi yang hanya disampaikan lisan bergantung pada ingatan sesaat. Namun keunggulan itu juga menempelkan syarat baru: siswa atau keluarganya harus punya perangkat untuk membukanya.
Alasan Memulai dari Anak
Dalam sesi pendampingan, Dr. Andrian yang tampil sebagai narasumber menekankan pentingnya menanam pengetahuan kebencanaan sebelum usia sekolah menengah.
“Pendidikan kebencanaan harus dimulai sejak dini agar anak-anak memiliki kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan dasar dalam menghadapi bencana,” ujarnya.
Kepala SD Negeri 01 Bungo Pasang, Yuni Hayati Putri, S.Pd.SD., menyebut letak sekolahnya sebagai alasan utama menerima program tersebut. Menurut keterangan universitas, ia menilai pengenalan kebencanaan perlu diberikan kepada siswa sejak dini mengingat kawasan sekolah termasuk rentan terdampak.
Sekolah dasar memang jarang menjadi sasaran program kesiapsiagaan, yang selama ini lebih banyak menyasar aparat desa dan kelompok dewasa. Padahal pada jam sekolah, anak berada jauh dari orang tuanya dan keputusan pertama saat bencana datang ada di tangan guru serta murid itu sendiri.
Yang Baru Terlihat Sejauh Ini
Menurut keterangan universitas, siswa mengikuti kegiatan dengan antusias melalui diskusi, simulasi, dan sesi tanya jawab berhadiah. Itulah capaian yang tercatat sejauh ini — respons di dalam kelas pada hari pelaksanaan, bukan perubahan perilaku kesiapsiagaan yang diukur setelah program berakhir.
Jarak antara keduanya biasanya baru terjembatani bila komik itu benar-benar dipakai berulang di rumah dan gurunya melanjutkan materi tersebut sebagai bagian pembelajaran rutin. Tim UNP menempatkan kegiatan ini dalam kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya pendidikan bermutu, kota dan permukiman berkelanjutan, serta penanganan perubahan iklim.
Padang sendiri berada di wilayah yang menghadapi ancaman berlapis, dari banjir dan longsor pada musim hujan hingga risiko gempa dan tsunami di sepanjang pesisirnya. Materi kesiapsiagaan yang tersimpan di ponsel siswa hanya satu bagian kecil dari rantai panjang mitigasi yang melibatkan jalur evakuasi, sistem peringatan, dan kesiapan sekolah itu sendiri.
Baca juga: IPM 84,93, Wamendiktisaintek Sebut Padang Punya Modal Jadi Kota Global Berbasis Pendidikan




















