Cekricek.id — Sebuah animasi diunggah ke media sosial tanpa suara sama sekali. Gambarnya bergerak, tetapi tidak ada gamelan, tidak ada narasi, tidak ada apa pun. Di keterangan unggahan, senimannya menulis: “Animasi dikosongkan. Tiada bunyi. Senyap. Saya mencoba menawarkan kepada publik untuk mengisi bebunyiannya sendiri.” Siapa saja boleh mengirim berkas MP3 buatan sendiri. Nanti bunyi-bunyi yang masuk akan dijahit dan diunggah bersama-sama.
Undangan terbuka itu datang dari Samuel Indratma, seniman kelahiran 1971 yang bermukim di Yogyakarta, dan berkaitan dengan sebuah animasi wayang hasil kerja bareng dengan siswa sebuah sekolah kejuruan di pedalaman Cilacap. Adegan seperti inilah yang menjadi bahan penelitian tentang bagaimana kesenian tradisional diproduksi ulang secara kolektif di ruang digital.
Penelitian tersebut ditulis Maya Purnama Sari, Nuning Yanti Damayanti, Irfansyah, dan Hafiz Aziz Ahmad — keempatnya dari Institut Teknologi Bandung — lewat artikel Reimaging wayang in the digital age; “The Sintren” project and cultural commoning (Membayangkan ulang wayang di era digital) yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 27 No. 1 pada 2026. Maya Purnama Sari juga tercatat sebagai pengajar Program Pendidikan Multimedia di Universitas Pendidikan Indonesia.
Wayang yang Pindah ke Kanal
Wayang di Indonesia bukan semata tontonan. Keempat peneliti menempatkannya sebagai kesenian yang bertaut dengan praktik keagamaan dan penghormatan kepada leluhur, sekaligus bekerja sebagai sarana ibadah, pendidikan, dan hiburan — sebuah bentuk yang selalu menyesuaikan diri dengan kebutuhan zamannya. Perluasan fungsi itulah yang membawanya ke panggung seni, lembaga pendidikan, festival budaya, dan akhirnya ke layar.
Di YouTube, wayang sudah lama hadir dengan aneka format. Ada pertunjukan yang disiarkan langsung, seperti pada kanal Tugudermayu, dan ada rekaman animasi tiga dimensi yang menampilkan wayang golek — boneka kayu bubut yang ditatah dan digerakkan dengan tuas, khas budaya Sunda di Jawa Barat — yang sudah bisa diakses di kanal Demi Dasmana sejak 2013. Dalam kajian mereka sebelumnya pada 2025, keempat peneliti mencatat bahwa teknologi seperti pemodelan animasi, siaran langsung, gamifikasi, pengenalan gestur, sampai pembelajaran mesin tidak hanya menopang produksi wayang, tetapi menyusun ulang wujudnya menjadi bentuk virtual, interaktif, dan berbasis simulasi. Yang membedakan platform ini dari layar-layar sebelumnya adalah kolom komentar dan tombol bagikan: penonton bisa membalas, dan balasan itu bisa ikut menentukan karyanya.
Bersepeda Tanpa Memegang Setang
Kanal YouTube yang menampung animasi itu bernama Wayang Lostang. Istilah “Lostang” pertama kali dipakai Samuel Indratma dalam pameran tunggalnya di Sangkring Art Project pada 2017. Ia mengartikannya sebagai bersepeda tanpa memegang setang — pelepasan kendali yang disengaja, sekaligus keterbukaan pada tafsir siapa pun.
Pilihan istilah itu berhadapan langsung dengan sifat wayang. Sebagai bentuk kesenian, wayang selama berabad-abad berjalan di atas aturan yang mapan: bentuk rupa, alur cerita, dan tata pertunjukannya diatur konvensi yang diwariskan. Wayang kulit, misalnya, memakai figur pipih dari kulit yang ditatah dan diwarnai dengan ornamen bermakna, digerakkan di balik kelir, dan diproyeksikan sebagai siluet oleh cahaya. Karya Lostang justru bergerak ke arah sebaliknya: menggabungkan siluet, musik tradisi, dan eksplorasi media digital menjadi satu bentuk hibrida.
Wayang Lostang mulai tampil di YouTube pada Januari 2022. Sebulan berikutnya diunggah edisi khusus bertajuk “Lostang Majenangan”, hasil kolaborasi dengan siswa SMK Komputama Majenang, Cilacap. Judul karyanya Sintren, save the planet.
Sepekan di Majenang
Karya itu lahir dari lokakarya intensif selama sepekan di jurusan Animasi SMK Komputama Majenang pada Desember 2019. Sekolah tersebut berada di bawah naungan Pondok Pesantren El Bayan II, dan menurut keempat peneliti, latar itu ikut menentukan hasilnya: kehidupan berasrama membuat siswa terbiasa bekerja berdekatan dan berkolaborasi.
Animasi sudah menjadi bagian dari pelajaran mereka sehari-hari. Yang dibawa Samuel adalah kerangka gagasannya, terutama kedekatan antara wayang dan animasi sebagai sama-sama seni gambar bergerak. Bahan cerita diambil dari khazanah setempat, dan lewat proses partisipatif para siswa sendiri yang memilih kisah Sintren — kesenian tradisional berupa tarian dalam keadaan kerasukan yang dibawakan penari perempuan, berasal dari kawasan pesisir Jawa Barat dan sarat unsur ritual, spiritual, serta musikal.
Tema “selamatkan bumi” sepenuhnya baru; ia tidak berasal dari pakem Sintren mana pun. Ceritanya menampilkan seorang penari yang menyelamatkan lingkungan dari kerusakan lewat tarian. Unsur pesantren tetap dipertahankan, antara lain janengan atau salawat, tradisi puisi bermusik yang mengisahkan kehidupan Nabi Muhammad. Musiknya digarap siswa dengan gamelan — gong, kendang, saron, bonang, dan kenong.
Proses produksinya sederhana: menggambar tangan, pertunjukan bayangan, perekaman dengan peralatan seadanya, lalu pengolahan digital. Setiap siswa mengembangkan tafsir visual dan naratifnya sendiri atas kisah Sintren, sehingga yang keluar bukan satu bentuk baku melainkan beragam versi. Daftar kredit videonya memuat pembagian peran yang panjang, dari pengarah artistik dan tim animasi sampai tim pembuat wayang — sebagian besar dikerjakan siswa sekolah itu sendiri.
Samuel, kata keempat peneliti, tidak berdiri sebagai otoritas yang memberi perintah, melainkan sebagai fasilitator dengan campur tangan seminimal mungkin. Dalam kutipan yang mereka rujuk dari sebuah laporan daring pada 2020, ia menyatakan hanya memberi sentuhan ringan karena karya para siswa sudah kuat, baik dari sisi isi maupun bentuk. Proses kreatifnya tidak dimulai dari satu arahan, melainkan dari diskusi bersama untuk menyusun narasi, merancang unsur visual, dan menyunting hasilnya.
Panggilan Terbuka untuk Bebunyian
Yang membuat proyek ini menarik bagi para peneliti adalah apa yang terjadi setelah lokakarya bubar. Alih-alih menutup karya sebagai produk jadi, Samuel dan Giwang Topo — musisi yang bertindak sebagai pengarah artistik — memotong animasi itu menjadi versi pendek, mengosongkan seluruh suaranya, lalu membuka panggilan terbuka di Instagram. Tidak ada syarat teknis, tidak ada seleksi keahlian.
Kolom komentarnya berubah menjadi ruang kerja. Peneliti mencatat balasan seperti “mari kitaaa”, “tambah rame”, dan “mari sini kirim ke saya bebunyiannya”. Ada pula yang mengajak mengembangkan naskahnya. Yang datang bukan sekadar niat: sejumlah musisi benar-benar mengirim tafsir musikal masing-masing, dan karya mereka kemudian dijahit ke dalam animasi. Salah satunya sumbangan Joko S. Gombloh. Giwang Topo sendiri menyebarkan potongan lain dari video Sintren di Facebook, kali ini dengan lapisan audio bernuansa devosional, dan membuka ruang kolaborasi serupa di sana.
Keempat peneliti membaca pola itu sebagai cultural commoning: kebudayaan yang tidak diperlakukan sebagai milik perseorangan, melainkan terus-menerus diproduksi lewat praktik sosial bersama. Yang mereka soroti, platform global seperti Instagram dan Facebook justru dipakai untuk menopang praktik yang berakar lokal dan bertukar tanpa uang — semacam gotong royong yang berpindah ruang.
Keterbukaan itu bukan tanpa batas, dan para peneliti menuliskannya sendiri: proses seleksi dan kurasi tetap menentukan sumbangan mana yang masuk ke karya akhir, sehingga tidak semua kontribusi memperoleh tempat dan kelihatan setara.
Versi Kedua yang Datang Belakangan
Bukti bahwa karya itu memang tidak selesai muncul pada 2024, ketika Wahyu Nurul Iman — salah satu siswa yang mengerjakan penyuntingan dan penggabungan gambar pada video aslinya — membuat tafsir ulang berjudul Sintren, save the village.
Sebagian ciri Lostang Majenangan dipertahankan: dominasi hitam putih dan figur menyamping yang mengingatkan pada bentuk wayang. Yang berubah adalah penarinya. Wahyu melukis sosok penari Sintren dengan cat air bergaya realis, mengamati lebih dulu gerak penari sungguhan, lalu menerjemahkannya menjadi rangkaian gambar tangan yang digerakkan dengan teknik rotoskop. Hasilnya, di tengah komposisi yang nyaris monokrom, tubuh penari muncul berwarna dan menjadi pusat perhatian.
Pergeseran itu, menurut analisis para peneliti dengan kerangka tata bahasa visual, bukan sekadar variasi rasa. Konvensi wayang menekankan kerataan bidang dan abstraksi; pendekatan Wahyu menonjolkan gerak tubuh dan kesinambungannya. Perpaduan cat air dengan animasi digital menghasilkan tekstur hibrida yang mengubah cara gerak itu dirasakan penonton.
Pada bagian ini para peneliti menyatakan batas kerjanya secara terbuka: karena data proses produksi Sintren, save the village terbatas, analisis mereka atas karya itu bertumpu pada ciri-ciri visualnya, bukan pada rekonstruksi bagaimana ia dikerjakan. Secara keseluruhan, studi ini bersandar pada etnografi hibrida — pengamatan luring dan daring, wawancara mendalam dengan Samuel Indratma sebagai penggagas, serta dokumentasi berupa tangkapan layar dan jejak produksi. Satu proyek, satu kanal, satu sekolah.
Dari bahan sebanyak itu, kesimpulan yang mereka tarik berkutat pada tiga hal. Produksinya berjalan kolektif tanpa hierarki yang kaku, melibatkan seniman, siswa, dan publik yang lebih luas. Relasi sosialnya bergerak dari tatap muka di ruang lokakarya menjadi jaringan partisipatif lintas platform. Dan makna karyanya tidak pernah mengendap: ia terus ditata ulang lewat penafsiran, pemakaian ulang, dan perubahan bentuk visual — termasuk lewat gerak, warna, dan medium.
Media digital, tulis keempatnya, dengan demikian tidak berfungsi semata sebagai saluran penyebaran, melainkan sebagai prasarana yang memperpanjang dan menata ulang praktik budaya yang sudah ada lebih dulu.





















