Cekricek.id— Sutradara Angga Dwimas Sasongko memperkenalkan proyek terbarunya berjudul Queen of Malacca, sebuah film epik laga fantasi yang mulai diperkenalkan ke pasar internasional sejak Cannes Film Market 2025 dan kembali ditampilkan lewat teaser resmi pada 1 Desember 2025 usai unjuk pemeran di JAFF Market. Film ini mengisahkan perjalanan tiga perempuan tangguh yang saling bersinggungan dalam perebutan pengaruh di dunia bawah tanah yang mereka huni.
Bukan Film Kolosal, tapi Dunia Fantasi Kontemporer
Sasongko menegaskan Queen of Malacca bukan film berlatar sejarah, melainkan dunia fantasi baru yang dibangun dari mitologi khas Asia Tenggara. “Ini bukan film periode. Ini modern, ini kontemporer. Kami membangun dunia fantasi yang terinspirasi dari Asia Tenggara,” kata Sasongko. Ia juga menjelaskan pendekatan aksi yang dipilihnya untuk film ini. “Kami memadukan silat, yang sangat berakar di perfilman Indonesia, dengan pengaruh dari film-film aksi Hong Kong,” ujarnya.
Claresta Taufan Pimpin Jajaran Pemeran
Claresta Taufan didapuk sebagai pemeran utama, didampingi Wulan Guritno, Marcella Zalianty, Faris Fadjar, Lutesha, Ganindra Bimo, Dion Wiyoko, dan Jihane Almira. Taufan mengaku pengalamannya menjajal film laga pertamanya menjadi pengalaman yang mengejutkan. “Terjun ke film laga pertama saya adalah kejutan besar bagi sistem tubuh saya — dalam artian yang baik. Latihan dan ceritanya benar-benar mendorong saya, dan saya menemukan sisi diri saya yang belum saya kenal sebelumnya,” katanya.
Jihane Almira turut membagikan pengalamannya menjajal peran yang jauh berbeda dari citranya selama ini. “Ini sesuatu yang sangat berbeda dari diri saya di media sosial. Akhirnya saya bisa menyalurkan sisi lain dari diri saya,” ujarnya. Sementara itu, Dion Wiyoko mengaku setiap hari syuting membawa tantangan baru. “Setiap hari membawa tantangan baru. Latihan bersama Man Ching menuntut fokus penuh,” katanya.
Koreografer Laga dari Hong Kong Turut Dilibatkan
Koreografi laga film ini digarap Reza Hilman bersama Man Ching, koreografer asal Hong Kong yang sebelumnya terlibat di film Rush Hour dan Wiro Sableng: 212 Warrior. Man Ching menjelaskan ambisinya untuk gaya laga di film ini. “Saya ingin menciptakan gaya baru. Saya ingin memadukan orang-orang dan karakter yang berbeda,” katanya. Naskah film ini ditulis Irfan Ramli, yang sebelumnya menulis skenario film 13 Bombs, di bawah produksi Visinema Pictures dengan produser Kori Adyanning. Proses syuting utama mulai berjalan sejak 3 Desember 2025.
Baca juga: Adegan Gelut Pakai Dress dan Heels, Ini Kata Aghniny Haque
Sasongko sebelumnya juga dikenal sebagai pendiri Visinema Group, rumah produksi di balik sejumlah film animasi dan laga Indonesia yang sukses secara komersial di dalam negeri.
Baca juga: Bangga, 3 Film Tanah Air Ini Telah Mendunia
Proyek-proyek laga berskala besar seperti ini menjadi bagian dari upaya industri film Indonesia memperluas jangkauan pasar internasionalnya lewat genre aksi yang selama ini identik dengan silat.
Baca juga: Punya Image Cewek Strong, Tubuh Kekar Aghniny Haque Bikin Cewek-cewek Ngiri





















