- Konflik ayah dan anak turun dari 21,2 menjadi 19,1.
- Skor para ayah naik dari 26,0 menjadi 30,2, perubahan yang oleh Yiu dan timnya dinyatakan signifikan.
- Sesudah program, 12 ayah melaporkan identitas ayah yang tumbuh.
- Skor komunikasi orang tua dan anak hanya naik dari 23,5 menjadi 24,1 dan tidak signifikan.
Daftar Isi
Wan Yin Yiu mengumpulkan dan menganalisis data dari 19 ayah yang menjalani hukuman di tiga lembaga pemasyarakatan Hong Kong pada 2023. Yang ia uji adalah program pengasuhan bernama Be My Hero. Pertanyaannya sederhana tetapi berat: apakah kelas pengasuhan dan pertemuan langsung dengan anak bisa mendekatkan kembali ayah dan anak yang dipisahkan tembok penjara.
Hasilnya ditulis Wan Yin Yiu, Yat Lui Fung, Sandra Kit Man Tsang, Andrey Chau, Celia Hoi Yan Chan, dan Paul Wai Ching Wong dalam Reclaiming fatherhood: an evaluation of a joint-visitation parenting program for incarcerated fathers, artikel yang terbit dalam proses cetak di BMC Public Health, 2026. Lima penulisnya bernaung di Department of Social Work and Social Administration, University of Hong Kong, sedangkan Celia Hoi Yan Chan berasal dari University of Melbourne.
Yiu dan rekan-rekannya membuka naskah dengan angka dari kota mereka sendiri. Pada 2025 Hong Kong mencatat 10.232 narapidana, sebagian besar laki-laki dan banyak di antaranya ayah. Menurut para penulis, anak yang ayahnya dipenjara lebih sering menunjukkan agresi, menarik diri, dan tertinggal di sekolah, lebih rentan terhadap masalah kesehatan mental, serta lebih berisiko kelak ikut dipenjara.
Paul Wai Ching Wong dan timnya juga menulis bahwa penjara menggerus diri sang ayah. Jadwal kunjungan yang terbatas dan ketat, ditambah ruang kunjungan yang membatasi gerak, membuat ayah merasa terlepas dari anaknya. Dari situ lahir rasa bersalah, malu, dan tidak cakap, yang menurut mereka menurunkan rasa mampu mengasuh sekaligus harga diri para ayah itu.
Di Hong Kong, tulis Yiu dan rekan-rekannya, program rehabilitasi di lembaga pemasyarakatan lebih banyak menangani gejala individual seperti agresi dan kendali impuls, dengan sedikit unsur keluarga. “Sepanjang pengetahuan kami, tidak ada program pengasuhan yang khusus untuk ayah yang dipenjara dalam literatur penelitian di negara-negara Asia,” tulis keenam penulis dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris itu.
Baca juga Kenapa Pengawasan Orang Tua Tak Langsung Tahan Narkoba
Program yang Dirancang Tim Yiu
Be My Hero dibangun Yiu dan rekan-rekannya di atas dua pijakan, yakni model ketahanan keluarga Double ABCX dan teori kelekatan. Programnya terdiri atas 11 sesi berdurasi dua jam: empat kelas untuk ayah, dua sesi bersama ayah dan anak, dua sesi untuk anak, dua sesi untuk pengasuh, dan satu sesi pembekalan bagi ayah sesudah pertemuan bersama terakhir.
Semua sesi dipandu pekerja sosial, sementara Yiu dan tim peneliti hadir mengamati. Sesi bersama digelar di ruang ramah anak di dalam lembaga, dan menurut Paul Wai Ching Wong serta rekan-rekannya ketiga lembaga itu dipilih karena memiliki pusat orang tua dan anak. Mitra pelaksananya adalah organisasi nonpemerintah SideBySide bersama Correctional Services Department Hong Kong.
Penyesuaian budaya menjadi inti rancangan Yiu, Tsang, dan kawan-kawan. Para ayah diajari berkomunikasi lebih ekspresif: memuji, mendengarkan dengan aktif, dan terhubung dengan anak lewat bermain. Cara itu, tulis mereka, dimaksudkan untuk melawan norma pengasuhan tradisional Tionghoa yang bisa lebih mendahulukan otoritas dan teguran ketimbang kehangatan.
Ke-19 ayah yang diikuti Yiu rata-rata berusia 37 tahun, dengan rentang 25 hingga 48 tahun, dan anak mereka rata-rata berusia lima tahun. Masa hukuman mereka rata-rata sekitar 78 bulan, dari 3 sampai 144 bulan. Tiga belas ayah dipenjara karena perdagangan narkoba, 12 bukan menjalani vonis pertama, dan 12 tinggal penuh waktu dengan anaknya sebelum dipenjara.
Angka yang Dikumpulkan Yiu dari 19 Ayah
Dari skor laporan diri sebelum dan sesudah program, Yiu dan rekan-rekannya menemukan kedekatan ayah dan anak naik dari 26,1 menjadi 27,7. Konflik ayah dan anak turun dari 21,2 menjadi 19,1. Kedua perubahan itu dinyatakan signifikan secara statistik, dengan ukuran efek 0,33 dan 0,28 yang oleh penulis digolongkan kecil hingga sedang.
Perubahan paling tegas tampak pada rasa mampu mengasuh. Skor para ayah naik dari 26,0 menjadi 30,2, perubahan yang oleh Yiu dan timnya dinyatakan signifikan. Paul Wai Ching Wong dan rekan-rekannya menulis bahwa angka ini sejalan dengan cerita para ayah sendiri, yang dalam wawancara mengaku lebih percaya diri dan lebih termotivasi mengasuh anaknya.
Dua ukuran lain tidak bergerak meyakinkan. Skor komunikasi orang tua dan anak hanya naik dari 23,5 menjadi 24,1 dan tidak signifikan. Skor ketahanan diri naik dari 13,3 menjadi 15,7 dengan ukuran efek 0,35 yang oleh Yiu dan rekan-rekannya disebut moderat, tetapi perubahan itu juga tidak mencapai signifikansi statistik.
Suara Ayah dan Anak yang Dicatat Yiu
Sebelum program, enam ayah menggambarkan pertentangan batin antara diri sebagai narapidana dan diri sebagai ayah. Seorang partisipan yang dicatat Yiu dan rekan-rekannya sebagai P02 berkata, “Saya rasa putri saya hanya melihat saya sebagai narapidana; ia berharap punya ayah yang lain.” Seperti semua kutipan dalam naskah itu, kalimatnya tercatat dalam bahasa Inggris.
Sesudah program, 12 ayah melaporkan identitas ayah yang tumbuh. Partisipan yang dicatat Yiu sebagai P07 menuturkan, “awalnya saya tidak memandang diri sebagai ayah sungguhan … sekarang saya bertekad tidak akan pernah kembali ke penjara.” Menurut Yiu dan rekan-rekannya, sepuluh pekerja kasus dan tiga petugas lembaga pemasyarakatan menguatkan cerita para ayah itu.
Sebelas ayah mulai memuji capaian anaknya dan mengungkapkan terima kasih. Seorang pekerja kasus yang dicatat Yiu sebagai SW17 berkata, “Ia (sang ayah) menemukan bahwa memuji capaian kecil itu penting; ia berhasil mengatasi rasa canggungnya.” Sembilan ayah bahkan menyiapkan topik obrolan sebelum sesi bersama, menurut catatan Paul Wai Ching Wong dan rekan-rekannya.
Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet
Bagian yang paling menyentuh dalam catatan Yiu datang dari anak-anak. Delapan anak menyebut bisa memulai dan mempertahankan sentuhan fisik dengan ayahnya sebagai sorotan program, sebab selama ini mereka terbiasa berkunjung dengan kaca jendela di antara mereka. Anak dari partisipan P05 berkata, “Sekarang aku tahu aku punya ayah, dan Ayah akan melindungiku.”
Komunikasi yang semula dingin juga tercatat berubah dalam wawancara Yiu. Anak dari partisipan P11 menuturkan ayahnya dulu hanya memarahi dan menghukum fisik tanpa pernah bercakap. Partisipan P15 bercerita orang tuanya sendiri tak pernah mengucapkan sayang, dan ia tersentuh ketika putrinya berkata “I love you” kepadanya. Menurut Yiu, putri P15 berangsur tidak lagi takut kepadanya.
Perubahan pribadi pun dicatat Yiu dan rekan-rekannya. Partisipan P17 menyadari bahwa menjadi ayah adalah proses dan memilih pelan-pelan mendekati putranya. Menurut pekerja kasus SW08, partisipan P08 mulai menulis jurnal dan menyadari peran ayah tetap bisa ia jalankan dari balik jeruji. Seorang petugas mencatat sedikitnya dua ayah meminta kesempatan belajar agar bisa menjadi panutan anaknya.
Hambatan yang Ditemukan Tim Wong
Paul Wai Ching Wong dan rekan-rekannya tidak menutupi hambatan. Ayah dengan hukuman panjang cemas soal menjaga hubungan selama bertahun-tahun, seperti P08 yang masih harus menjalani tujuh sampai delapan tahun lagi. Empat pekerja kasus juga mengamati bahwa ayah yang dekat dengan anaknya sebelum dipenjara lebih mudah membangun kembali ikatan dibanding ayah yang sejak awal berjarak.
Dinamika keluarga ikut menentukan, menurut Yiu dan rekan-rekannya. Dua ayah yang sedang bercerai mendapat kesempatan kunjungan yang terbatas. Sebaliknya, enam pekerja kasus mencatat bahwa pengasuh seperti nenek yang rutin membawa anak berkunjung ikut menjaga hubungan ayah dan anak. Pengasuh, tulis para penulis, bisa mendukung tetapi juga bisa menjadi penjaga gerbang.
Temuan yang tidak mereka duga datang dari petugas. “Meski semula tidak dihipotesiskan, pengamatan lapangan kami menyoroti faktor yang penting, tetapi sering terlewat, yang memengaruhi hasil program — keterlibatan petugas pemasyarakatan,” tulis Yiu dan rekan-rekannya dalam bahasa Inggris. Di satu lembaga, petugas mengingatkan bahwa pelanggaran aturan berarti kehilangan kesempatan bertemu anak.
Dari sana Paul Wai Ching Wong dan rekan-rekannya mengusulkan pusat orang tua dan anak dibangun di semua lembaga pemasyarakatan laki-laki, sebab saat ini baru ada di tiga dari sembilan lembaga. Mereka juga menyarankan asesmen keluarga sebelum program, serta modul inti untuk hukuman pendek dan modul lanjutan untuk hukuman panjang.
Baca juga Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh
Batas dan Kejanggalan Naskah Yiu
Yiu dan rekan-rekannya mengakui temuan mereka punya batas tegas. Jumlah ayahnya hanya 19, pengukuran dilakukan segera sesudah program sehingga dampak pada residivisme dan kestabilan keluarga tidak terlihat, dan skornya bergantung pada laporan diri. “Kami menyadari bahwa posisi kami yang mendukung pendekatan rehabilitatif dapat membentuk tafsir kami atas data,” tulis mereka.
Selisih antara angka dan cerita juga diakui Wong dan rekan-rekannya. Wawancara menunjukkan komunikasi membaik, tetapi skornya nyaris diam. Menurut penulis, bisa jadi para ayah awalnya menilai terlalu tinggi kemampuan komunikasinya, lalu menilai ulang sesudah program. Untuk ketahanan diri, mereka menduga alat ukurnya menangkap hal yang berbeda dari cerita para ayah, atau jumlah peserta terlalu sedikit.
Pembaca yang teliti akan menemukan dua hal janggal dalam naskah Yiu dan rekan-rekannya. Program disebut berjalan dari Juni hingga Oktober 2023, tetapi kelompok pertama yang berisi tiga ayah disebut mengikuti program pada Mei hingga Juni 2023. Naskah tidak menjelaskan mengapa satu kelompok tampak mulai sebelum rentang waktu pelaksanaan itu.
Kejanggalan kedua ada di tabel skor yang disusun Yiu dan timnya. Kedekatan ayah dan anak dengan nilai uji t sebesar 1,86 diberi tanda signifikan, sedangkan ketahanan diri dengan nilai t 1,87, sedikit lebih besar, dinyatakan tidak signifikan. Keduanya diukur pada 19 ayah yang sama dan diuji dengan ambang yang sama menurut catatan tabel.
Pada akhirnya catatan Wan Yin Yiu bukan bukti bahwa satu program mampu memutus rantai penjara lintas generasi. Yang ia tunjukkan lebih kecil tetapi nyata: di tiga lembaga di Hong Kong, sebagian ayah mulai memuji, menyiapkan obrolan, dan menyentuh anaknya tanpa kaca di antara mereka, sementara angkanya bergerak pelan dan belum sempat diikuti setelah mereka bebas.















