Cekricek.id — Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ditutup total untuk sementara setelah kebakaran di kawasan konservasi itu meluas hingga sekitar 520 hektare. Perintah penutupan disampaikan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni ketika meninjau langsung penanganan kebakaran di Probolinggo, Jawa Timur, bersama Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin dan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak.
Dikutip dari laman resmi Kementerian Kehutanan, kehutanan.go.id, Minggu (9/8/2026), luas 520 hektare itu merupakan perkiraan yang dihimpun pada pagi hari dan masih diverifikasi lewat pemantauan lapangan. Angkanya jauh melampaui kebakaran yang ditangani kementerian yang sama pada pekan yang berjalan di Taman Nasional Gunung Rinjani, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Api di Rinjani membakar sekitar 30 hektare savana dan semak belukar kering sejak 7 Agustus, dinyatakan terkendali pada Sabtu (8/8/2026), dan penyisiran berlanjut sampai pukul 01.30 WITA.
Baca juga: Kebakaran Spokane Mereda, Puluhan Ribu Pengungsi Mulai Pulang
“Menginstruksikan Kepala Balai untuk menutup sementara secara total TN Bromo Tengger Semeru. Tujuannya satu, agar semua bisa fokus memadamkan api sekaligus mengantisipasi terjadinya kebakaran lagi di tempat lain,” kata Raja Juli Antoni.
Keselamatan warga disebutnya sebagai pertimbangan berikutnya. “Yang kedua juga terkait safety, safety first, yang menyangkut nyawa warga negara akibat bencana ini,” ujarnya.
Tiga Helikopter dan Sekat Bakar
Tiga helikopter dioperasikan untuk pemadaman dari udara, terutama pada titik api di kelerengan yang tidak terjangkau pasukan darat. Di permukaan, regu pemadam membuat sekat bakar untuk menahan penjalaran api. Operasi Modifikasi Cuaca belum dapat dijalankan dalam sepuluh hari ke depan, sehingga hujan buatan tidak masuk hitungan penanganan jangka pendek.
Baca juga: Hutan Nagari Sumbar dan Negara yang Berdiri Dua Kaki
“Untuk pemadaman sekarang, ada tiga helikopter yang sudah beroperasi untuk pemadaman titik api, terutama di kelerengan yang tidak bisa dijangkau oleh pasukan darat,” kata Raja Juli.
Emil Elestianto Dardak menjelaskan pemadaman udara diprioritaskan di kawasan puncak B29 pada sisi paling timur. Selain cuaca, ketersediaan air menjadi kendala teknis di lapangan. “Beberapa sudah padam dan dijaga pasukan darat yang melakukan pengawasan. Sedangkan di sisi barat sudah disiagakan tim untuk mengantisipasi,” ujarnya.
Satgas dengan Incident Commander
Unsur yang terlibat membentuk satuan tugas dan menunjuk seorang Incident Commander untuk mengoordinasikan pergerakan darat maupun udara. “Kita bentuk satgas dengan menunjuk Incident Commander untuk mengoordinir semua pergerakan udara dan darat, termasuk kebutuhan lapangan bisa melalui satgas yang dibentuk,” kata Rudy Saladin. Satgas itu menaungi Kementerian Kehutanan, BNPB, BPBD, TNI, dan Polri.
Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran pada 9 Agustus 2026 menempatkan sebagian wilayah Jawa Timur pada kategori mudah hingga sangat mudah terbakar. Di Rinjani, Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Bambang Setyo Antoko menyatakan pemantauan tidak berhenti ketika api padam, khususnya pada tutupan savana yang gampang tersulut pada musim kemarau. Menteri Kehutanan meminta jajarannya memakai pantauan titik panas Sipongi+ untuk deteksi dini.
Baca juga: Taman Nasional



















